YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
37. Mertua yang Kepo!


__ADS_3

"Aaahhh so sweetnya mereka!" suara dari balik semak-semak terdengar berbisik lirih.


"Iya, tadi kelihatannya seperti marahan, tapi sebentar baikan. Apa memang seperti itu romantisnya mereka?" jawab suara yang lain. Menatap kedua putra-putri mereka masing-masing.


"Gak nyangka mba, Yumna bisa selepas itu sama Haidar. Biasanya Yumna selalu serius dan mandiri. Gak pernah lo dia bersikap manja seperti itu!" tutur Lily.


"Waaah benarkah?" tanya Mitha. Lily mengangguk mengiyakan. Mereka terus mengamati gerak gerik kedua pengantin baru itu yang sedang duduk di bangku taman yang ada di belakang hotel, menikmati siomay panas dengan bumbu kacang yang nikmat. Sesekali mereka tertawa dengan lepas dan riang.


"Aaah sweet banget mereka. Lihat, bahkan seperti itu saja mereka kelihatan romantis!" Mitha menatap penuh suka cita melihat Haidar yang mengelap sesuatu di sudut bibir Yumna. Lily mengangguk menyetujui perkataan besannya.


"Mami, kalau mau hal yang romantis papi juga bisa. Gak perlu intipin mereka terus kan?" protes papi Arya yang mulai kepanasan di belakang mereka. Bima beringsut mencari tempat teduh di balik pohon yang berada tak jauh dari mereka.


"Ah, romantisnya papi mah udah kuno! Seruan kepoin anak sama menantu kan!" tutur Mitha tanpa mengalihkan pandangannya. Arya menggelengkan kepala melihat kelakuan istri dan besannya. Sedangkan Bima hanya menunggu Lily dengan bosan sambil bersender di batang pohon.


"Mi, papi lapar nih. Kapan kita sarapan?" Arya mencolek bahu istrinya.


"Mas Arya kalau lapar sarapan sama mas Bima aja sana. Kita masih mau kepoin anak-anak kita. Iya kan mbak Mitha?!" Ujar Lily dengan semangat.

__ADS_1


"Iya lah. Kapan lagi coba lihat anak berandal itu deket sama cewek. Jarang-jarang pi, mami lihat nya. Sana kalian para lelaki sarapan sambil ngobrol aja! Gak usah peduliin kita!" Mitha melambaikan tangannya. Arya mencebik melihat kelakuan sang istri.


"Cih mami, sekarang Haidar sudah ada yang perhatiin. Harusnya kan mami lebih perhatian sama papi kan, setelah selama ini yang mami perhatiin Haidar terus papi kan juga but ...."


"PAAPIIII!!!" geram Mitha kesal dia mendelik ke arah sang suami yang mendadak cerewet. Arya mengkerut melihat sorot mata menakutkan sang istri.


"Kalau papi terus bicara jangan harap bulan ini dapat jatah!" geram Mitha dengan mengeratkan giginya. "Sana pergi!" usir Mitha, Arya segera beranjak pergi dari sana.


"Mbak kejam amat!" protes Lily.


Dengan kesal Arya mendekat ke arah Bima. Bima menahan tawa melihat besannya menekuk muka dengan bibir manyun beberapa senti.


"Di usir ya?" ejek Bima. "Makanya gue gak mau deket-deket bini karena pasti nasib gue akan sama kayak elu!" ucap Bima dengan nada mengejek. Arya semakin menarik bibirnya ke depan, merasa sebal.


"Sudah, kita sarapan aja. Biarin aja mereka berdua dengan kesenangannya. Nanti juga kalau lapar balik ke hotel!" Bima melingkarkan tangannya di pundak Arya dan membawa pria itu berjalan kembali ke hotel.


Sementara itu Yumna dan Haidar selesai dengan makanannya. Mereka menghabiskan waktu pagi itu mengobrol ringan hingga udara terasa panas menyengat barulah mereka kembali ke hotel.

__ADS_1


Mitha dan Lily berjalan tergesa dengan wajah memerah. Peluh bercucuran di kening mereka berdua. Mereka mendekat ke arah dimana kedua suami mereka menikmati kopi dan cemilan.


"Gimana kepoinnya? Puas?" tanya Arya pada istrinya dengan mata sedikit memicing.


"Panas pi. Gak kuat!" Mitha mengambil minuman milik suaminya dan menenggaknya rakus. Sedangkan Lily mengambil tisu dari dalam tasnya dan mengelap keringatnya.


"Ah mas, seru juga loh kepoin mereka. Coba kalau tadi mas Bima lihat gimana Yumna." ucap Lily.


"Gak mau ah. Panas, enakan disini adem, bisa ngopi juga!" ucap Bima santai, menyeruput kopinya yang sudah beranjak dingin. Lily mendelik kesal.


"Kamu ni, mas. Kayak gak senang lihat anak bahagia." Lily menepuk tangan Bima sedikit keras.


"Bukannya gak senang, yang. Tapi kan gak sopan. Mereka juga butuh privasi lah. Masa anak lagi pacaran di kepoin! Mending ayang kepoin aku aja! Trus kita bisa kasih adik lagi buat si kembar!" Bima menarik turunkan alisnya.


"Kamu ni, mas. Tahu situasi dong kalau ngomong!" Wajah Lily merona, dia tersenyum malu karena Bima tidak bisa menyaring ucapannya di hadapan besan.


Mitha dan Arya tersenyum maklum.

__ADS_1


__ADS_2