
Haidar berlari dengan sangat kencang melalui lorong rumah sakit, tidak dipedulikannya beberapa orang yang hampir tertabrak olehnya dan menatapnya dengan tajam. Juga dengan teriakan seorang perawat yang memintanya untuk berjalan dengan tenang. Namun, karena rasa khawatir yang ada pada diri Haidar membuat dia mengabaikan peringatan tersebut.
"Suster, tolong kasih tahu aku di mana kamar Yumna. Istri saya akan melahirkan!" seru Haidar kepada perawat yang sedang ada di meja resepsionis.
"Mohon Bapak tunggu sebentar. Saya akan mencari ikannya dulu."
Perawat tersebut mencari nama yang dimaksudkan oleh Haidar, kemudian dia menyebutkan ruangan di mana tempat Yumna berada.
"Terima kasih, Suster."
Haidar kembali berlari menuju ke kamar Yumna. Saat dia berada tak jauh dari kamar itu dia melihat sang istri yang tengah berjalan-jalan di depan ruangan tersebut. Haidar berhenti dan mengatur nafasnya yang naik turun, tersenyum senang karena dia tidak melewatkan waktu persalinan Yumna.
Begitu juga dengan Yumna yang kini berdiam dan tersenyum melihat sang suami yang telah datang. Dia tersenyum lebar kemudian dengan perlahan berjalan sambil mendorong tiang infus di tangannya.
__ADS_1
"Haidar," ucap Yumna.
Haidar merasa sangat senang sekali sehingga dia juga mendekat kepada sang istri dan memeluknya dengan erat. Yumna merasa terharu dan ingin menangis memeluk sang suami sama eratnya. Dia bersyukur hingga saat ini dia masih bisa menunggu kedatangan Haidar.
"Maafkan aku karena aku nggak ada di samping kamu. Kamu pasti sedang kesusahan ya saat ini?" ujar Haidar merasa bersalah. Yumna menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak apa-apa. Kamu lihat sendiri kan aku baik-baik saja." Senyuman diberikan oleh Yumna, tidak ingin sama suami menjadi khawatir.
"Dari kapan kamu kerasa sakitnya? Kenapa kamu nggak bilang sama aku?" tanya Haidar, dia ingin marah tapi tentu saja tidak bisa dia lakukan sekarang ini.
Haidar mengusap air mata yang turun dari sudut matanya. Dia tidak menyangka akan berada di dalam keadaan yang mengharukan seperti ini.
Yumna yang sadar jika Haidar terisak dia menjauhkan tubuhnya dari sang suami, ditatapnya Haidar dan mengusap sudut mata suaminya yang basah dengan ujung ibu jarinya.
__ADS_1
"Kok kamu nangis?"
"Aku sedang bahagia sekarang ini. Akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Sebentar lagi aku akan bisa menggendong kedua anakku," ucap Haidar.
Yang tersenyum senang mendapati ucapan dari suaminya itu. Dia juga sama tengah menantikan kehadiran buah hati mereka.
"Udah bilang sama dokter, aku mau lahiran normal saja," ucap yumna yang membuat haidar menatapnya dengan tatapan terkejut.
"Tapi Sayang, bukannya kita udah sepakat untuk kamu sesar? Aku nggak tega kalau kamu lahiran normal dan kesakitan. Aku juga nggak mau terjadi sesuatu yang buruk sama kamu," protes Haidar.
"Memangnya kalau aku lahiran caesar aku nggak akan kesakitan? Memangnya kalau melahirkan sesar kemungkinan buruk itu nggak ada?" ujar Yumna menatap sang suami. Yumna memberikan senyum terbaiknya dan mengusap pipi Haidar dengan penuh rasa sayang. "Dengerin aku, hidup, mati, jodoh, dan rezeki, itu ada di tangan Tuhan. Aku hanya ingin kamu berdoa saja supaya aku bisa selamat. Aku ingin mengurus anak-anakku dengan baik tanpa rasa sakit pasca operasi, kamu juga dukung aku untuk lahiran secara normal," mohon Yumna kepada sang suami dengan memegang tangan Haidar erat.
Haidar menatap Yumna dan sedikit menggelengkan kepalanya, tapi tatapan memohon jumlah membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
"Aku janji, aku akan kuat. Kamu jangan khawatir. Aku juga pengen kamu yang dampingi aku di ruang bersalin nanti. Kamu mau kan?" Tanya Yumna. Akhirnya Haidar menganggukkan kepalanya. Meski merasa berat dan juga ada banyak rasa takut yang menggelayuti dalam pikirannya, tapi dia harus setuju dengan keinginan istrinya.
"Iya tentu aja. Aku akan temani kamu di ruang persalinan nanti."