
Haidar menatap jam di pergelangan tangannya, ini sudah hampir sore dan Yumna belum juga kembali. Dengan kesal ia menendang kursi di hadapannya.
"Anak itu, kemana dia!" geramnya sambil membuka kemejanya dengan kasar.
"Kalau tahu dia akan kelayapan seharian sama pria lain aku gak akan bawa dia kesini!" Haidar lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Seharian menemani Vio melakukan pemotretan cukup di rasa melelahkan meski dia tidak melakukan apa-apa. Haidar mengambil hpnya dan melihat galeri miliknya. Terdapat beberapa foto Vio disana yang sedang berpose dengan model lelaki, dengan menggunakan bikini, sedang lelaki itu hanya menggunakan celana pendek dengan corak pantai.
Hatinya terasa panas, namun apalah daya. Tuntutan Vio sebagai model tak bisa membuat gadis itu sembarangan menolak kerjasama dengan pihak lain. Profesional!
Cih... Haruskah aku turun tangan supaya Vio tidak berpose dengan pakaian kurang bahan itu? tapi Vio tentu akan marah besar jika Haidar ikut campur dengan urusannya.
Bahkan Haidar pun tak pernah melihat lekuk tubuh Vio secara langsung saat mereka berdua.
Haidar melemparkan hpnya ke kasur, dia merasa bingung dengan dirinya. Hari ini dia merasa emosi tanpa sebab!
Tanpa sebab?!
Oh Ayolah, sudah jelas dia kesal karena melihat Yumna tadi pagi yang terlihat mesra dengan pria itu!
Haidar mencoba untuk memejamkan matanya, tapi tak bisa!
Krekkk.
Suara pintu terbuka, lalu muncullah Yumna dari sana. Dia datang dengan membawa dua tas belanjaan di tangannya.
"Dari mana saja?!" geram Haidar kesal.
"Jalan-jalan, dong!" ucap Yumna santai lalu menyimpan tas belanjaan di atas meja.
"Sama siapa? laki-laki?" cibir Haidar menatap baju yang Yumna pakai. Bahkan baju mereka sama, membuat Haidar semakin geram.
"Hemm!" jawab Yumna sekedarnya. Yumna membuka sepatunya dan menyimpannya di bawah ranjang.
"Apa hubungan kamu dengan laki-laki itu?!" tanpa sadar Haidar bertanya, dia kembali kesal saat mengingat Yumna yang tertawa lebar dengannya tadi pagi.
"Mau tahu?" tanya Yumna dia mendelik ke arah Haidar.
"Coba ingat, Haidar. Tentang perjanjian tertulis kita! Jangan mencampuri urusan yang lain!" Yumna mengingatkan. Namun tak lantas membuat Haidar mereda rasa kesalnya.
Haidar semakin kesal dan bangkit dari atas ranjang mendekat ke arah Yumna dan mencekal tangan gadis itu. Yumna meringis kesakitan. Tak tahu apa kesalahannya.
"Haidar lepas! Sakit!" Yumna mencoba melepaskan tangannya dari cekalan tangan besar Haidar, namun tenaga pria yang tengah emosi itu tidak bisa di bandingkan dengan kekuatannya.
"Yumna, denger ya! Aku memang bolehin kamu buat jalan sama laki-laki lain! Tapi bukan berarti kalau kamu gak angkat telfon aku! Bukan berarti kamu bisa bebas seharian pergi sama dia! Bukan berarti kamu bisa bebas dia belanjain!!" teriak Haidar di depan wajah Yumna.
Yumna menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan isi otak Haidar. Bukankah dia sendiri yang menuliskan perjanjian untuk tidak mencampuri urusan pribadi yang lain?! Bukankah dia sendiri yang memaksa Yumna untuk ikut kesini dan menjadi tamengnya agar bisa berduaan dengan kekasihnya?! Bukankah dia sendiri yang bilang kalau Yumna bebas mencari pria lain selain dirinya?!
"Lalu bagaimana dengan kamu, Haidar? Kamu bisa bebas seharian pergi sama pacar kamu dan aku harus menunggu kamu seharian hanya di kamar begitu?! Kamu bebas belanjain dia! Kamu bebas berduaan sama dia! Dan kamu bebas pergi sama dia, tapi jangan ikut campur urusan aku!" Teriak Yumna. Dia merasa kecewa pada Haidar, karena lelaki itu seakan mengklaim hak atas dirinya.
"Ingat Haidar pernikahan kita cuma sementara! Jangan anggap aku ini milik kamu. Karena aku juga gak pernah anggap kalau kamu milik aku!"
Yumna menarik tangannya dari Haidar, lalu meninggalkan pria itu ke kamar mandi.
Haidar menatap pintu kamar mandi yang baru saja tertutup.
'Jangan anggap aku ini milik kamu. Karena aku juga gak pernah anggap kalau kamu milik aku!'
Hatinya merasa sakit. Memang benar apa yang Yumna katakan, tapi Haidar tak terima. Dia merasakan rasa sakit saat mendengarnya.
"SIAL!!!" Haidar menendang udara kosong di depannya lalu pergi keluar.
...***...
Malam tahun baru.
Haidar dan Vio serta beberapa orang lainnya sedang merayakan malam tahun baru dengan melakukan barbekyu di pantai. Aroma wangi daging tercium hingga ke segala arah. Beberapa lainnya bahkan berpesta dengan di temani minuman, mengelilingi api unggun kecil yang sengaja mereka nyalakan. Mereka terlihat bahagia, namun tidak dengan Haidar.
Haidar merasakan sesuatu yang kosong di dalam dirinya, namun entah apa. Dia mengedarkan pandangannya ke semua orang yang ada disana. Menatap Vio yang sedang tertawa bersama temannya lalu menenggak minumannya. Tapi dia merasa bukan itu yang dia cari.
"Sayang!" panggil Vio yang mendekat ke arahnya. Haidar mengalihkan pandangannya dari pasir ke arah suara itu. Vio dengan baju minimnya mendekat kearah Haidar lalu duduk di pangkuan pria itu. Viola membawa minuman berwarna merah di tangannya.
"Kenapa kamu gak gabung sama yang lain?" tercium aroma alkohol dari dalam mulut Viola. Haidar memalingkan wajahnya ke samping, tak tahan dengan aroma itu.
__ADS_1
"Aku disini saja! Kamu kembalilah kesana. Aku gak akan kemana-mana."
"Aaah, sayang. Kamu ini aneh! Kita kan sedang merayakan tahun baru, ayo kita bersenang-senang!" nada suara Vio yang terdengar manja
"Aku sedang ingin duduk Vi. Aku sedikit lelah!" ucap Haidar.
"Lelah? Memang apa yang sudah kamu lakukan sampai kamu lelah? Padahal kan kita gak melakukan apa-apa?!"
"Kamu pasti haus, dari tadi belum minum kan? Ini aku bawakan buat kamu!" Vio menyodorkan gelas itu pada bibir Haidar, memaksa pria itu untuk meminumnya.
Haidar terbatuk saat merasakan panas mengalir di tenggorokannya.
"Minuman apa ini, Vi?" tanya Haidar.
"Masa kamu tidak tau? Enak kan?" Vio tertawa lirih melihat Haidar yang meringis di wajahnya.
"Lain kali jangan beri aku minuman yang seperti itu!" Haidar menepis gelas itu dari depan wajahnya. Vio mengerucutkan bibirnya lalu menyimpan gelas itu di atas pasir. Dia melingkarkan kedua tangannya di leher Haidar, lalu mendekatkan wajahnya pada kekasihnya.
Beberapa detik Haidar merasa terhanyut dengan perlakuan manis Viola di bibirnya. Mereka saling berdecap, saling mengigit, dan saling bertukar saliva. Saling merasakan penyatuan bibir mereka satu sama lain.
Haidar merasakan panas di tubuhnya, apa lagi saat bibir Vio menyentuh kulit lehernya. Dia merasakan hawa panas itu semakin menjalar.
Haidar pasrah saat Vio mendorongnya hingga ke atas pasir Vio tersenyum menang, Haidar sudah masuk ke dalam rencananya. Sebentar lagi dia akan memiliki Haidar seutuhnya. Tak perlu lagi risau tentang keluarga Haidar. Tak perlu lagi takut di tolak oleh mama Haidar. Dan untuk Yumna. Cepat atau lambat Haidar pasti akan mendepaknya keluar.
Vio tersenyum, Haidar tak bereaksi saat dia mulai membuka satu persatu kancing bajunya.
Beberapa orang yang merupakan teman, fotografer, dan juga asisten Vio segera menyingkir karena melihat kelakuan keduanya. Mereka saling bertos ria, karena dengan Vio mendapatkan Haidar maka kemungkinan besar mereka juga akan lebih mudah lagi mencapai kesuksesannya.
Suasana di pantai itu telah sepi, hanya Haidar dan Vio yang sedang bergelung di atas pasir kering.
"Ummm..." suara desahan Vio yang merasakan kenikmatan saat tangan Haidar menggoda puncak dadanya.
Vio menundukkan dirinya dan kembali mel*mat bibir Haidar. Dia tersenyum dengan sudut bibirnya karena merasakan sesuatu dari balik celana Haidar yang mulai mengeras.
Haidar memejamkan matanya, tangannya menekan kepala Vio dan memperdalam ciuman mereka.
"Haidar..." panggil Vio diantara desahannya. "Aku cinta kamu!"
Biasanya Haidar sangat suka dengan ucapan Vio yang seperti ini. Tapi malam ini... Meski waktunya ia habiskan dengan orang yang di cintainya, tapi kenapa bayangan Yumna yang terus mendominasi fikirannya. Ada apa dengannya?
"Haidar, kenapa...?" merasa bingung karena Haidar mendorongnya.
"Maaf, Vi. Aku harus pergi!" Haidar segera menjauh meninggalkan Vio yang masih terdiam mematung di tempatnya. Dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Bagaimana bisa dirinya menyentuh dada Vio?!
Vio tertawa lirih. Baru kali ini ada yang benar-benar menolak pesonanya. Kurang apa dia? Cantik! Seksi! Menawan! Ternyata obat yang dia berikan pun tak bisa membuat Haidar menyentuhnya.
Dada Vio kembang kempis. Matanya merah. Tangannya menggenggam pasir dengan erat.
"Aaakhhhh!!!" Teriak Vio, melemparkan pasir-pasir itu ke udara.
"Haidar. Jangan salahkan aku selama ini kalau aku gak bisa setia sama kamu!!!!"
...***...
Haidar kembali ke hotel, dia merasa tidak enak di seluruh tubuhnya. Panas, dan sangat tidak nyaman. Mungkin karena udara malam ini memanglah panas. Ac di nyalakan, tapi rasa panas di tubuhnya tak juga menghilang.
Menatap ke arah jam di dinding, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat. Yumna tidak ada di dalam kamar. Haidar terus saja bertanya dalam hati, kemana gadis itu pergi.
Melihat kemeja yang Yumna pakai kemarin menggantung di pojok ruangan, kemeja yang sama dengan pria itu.
Haidar ingat, samar mendengar kalau pria itu menyebut tentang kembang api dan bukit tak jauh dari hotel ini pagi kemarin.
Dia langsung berdiri, dan berlari ke arah dimana resepsionis masih berjaga. Bertanya dimana kira-kira bukit yang tak jauh dari sini.
Haidar kembali berlari ke arah dimana mobil yang telah di sewanya untuk beberapa hari ini. Dia segera melarikan kuda besinya, berharap jika Yumna ada disana.
Mungkin kah Yumna pergi lagi dengannya? Dia tidak mungkin pergi sendirian, kan!
Tiba-tiba saja bayangan buruk tentang Yumna dan pria itu terlintas di fikirannya. Mengingat Yumna begitu dekat dengan seorang pria asing, lalu bagaimana kalau pria asing itu memanfaatkan Yumna?
"Argggghh!" haidar semakin memperdalam injakan pada gas mobilnya.
...***...
__ADS_1
Seno membawa Yumna ke sebuah bukit, tak jauh dari pantai sebenarnya. Dari atas sana bisa mereka lihat dataran pasir nan luas memanjang di bawah sana. Ombak-ombak saling berkejaran satu sama lain. Angin berhembus menghantarkan udara yang dingin kala malam ini.
Yumna duduk dengan beralaskan sandal miliknya, setelah pendakian yang cukup melelahkan akhirnya mereka sampai disana.
Malam yang cerah dengan banyak bintang bertaburan di langit membuatnya takjub. Jarang sekali dia bisa melihat begitu banyak bintang nan cantik di langit malam seperti malam ini.
Mengingat pertengkarannya dengan Haidar malam kemarin, membuat Yumna merasa sedih.
'Hahhh... aku ini kenapa? Kenapa juga aku harus sedih dengan pertengkaran kami?! Toh semua ini sudah ada dalam perjanjian, jangan campuri urusan yang lain! Dan kenapa juga aku harus berfikir kalau dia itu cemburu karena aku sama Seno?! Gak mungkin! Dia kan sudah ada Vio!'
'Malam ini, mereka pasti juga sedang menikmati waktu berdua...'
'Biarkan! Biarkan saja kalau mereka mau berdua. Biarkan saja mereka mau melakukan apapun yang mereka mau. Aku gak peduli! Aku gak peduli!' Serasa ingin berteriak.
Seno hanya diam menatap Yumna yang sedari tadi merenung. Tatapan Yumna kosong menatap ke arah kejauhan sana.
"Apa sih yang kamu fikirin?" Seno menyenggol lengan Yumna.
Yumna tersentak bangun dari lamunan.
"Eh.. Gak ada!"
"Jangan bohong! Mikirin apa?" desak Seno.
Yumna menghela nafas berat.
"Gak pa-pa. Gak ada kok!" Yumna mencoba tersenyum. Seno tidak ingin memaksa, dia membalas senyum Yumna.
"Butuh sandaran?" Seno menepuk bahunya. "Pasti berat kan mikirin beban hidup?!"
Yumna tertawa terkekeh, tapi dia juga menuruti perkataan Seno dan bersandar padanya. Ini adalah hal yang besar untuk Yumna, masih mending dengan urusan pekerjaan, tapi ini urusan pribadi yang tak bisa ia ceritakan pada siapapun. Bukankah ini aib jika di ceritakan? Apa yang akan orang lain bilang kalau pernikahannya adalah sebuah kontrak semata? Satu kata, BODOH!
Yumna menikmati waktunya, rasanya beban di hatinya sedikit berkurang dengan kehadiran Seno di dekatnya. Bukan karena dia suka dengan Seno. Big NO! Tapi karena pria itu bisa membuat dia tersenyum dua hari terakhir ini. Apalagi jika tidak ada dia. Bisa di pastikan kalau Yumna pasti akan bingung menghabiskan waktunya selama Haidar berduaan dengan kekasihnya.
Seseorang tiba-tiba saja datang dan menarik tangan Yumna hingga gadis itu berdiri. Terkejut.
"Pulang!" satu kata yang singkat namun terdengar menakutkan.
Yumna berusaha menarik tangannya dari Haidar, tapi genggaman tangan pria itu terlalu kuat. Wajahnya merah, begitu juga dengan matanya. Urat-urat di wajahnya terlihat kontras dengan kulit mukanya.
"Haidar, lepasin gue!" berontak dengan sekuat tenaga.
"Lepaskan tangan kamu dari Yumna!" Mencoba mendekat tapi apa yang terjadi selanjutnya...
Bugh!!!
Satu tinjuan Haidar berikan tepat di hidung Seno. Beberapa orang yang berada disana menatap mereka dengan terkejut, tapi tidak berani mendekat atau bertindak.
"Seno!! Haidar apa yang kamu lakukan?" teriak Yumna panik, tak menyangka kalau Haidar akan berbuat seperti itu. Yumna berlari mendekat ke arah Seno, namun tangannya di cekal Haidar, dan di tariknya Yumna menjauh dari sana.
Seno menatap kepergian laki-laki yang menarik Yumna pergi. Dia tersenyum miris sambil mengusap sudut bibirnya yang perih.
"Sebenarnya ada apa dengan kamu Yumna?! Kamu bilang hanya sendiri datang kesini, lalu kenapa ada pria lain? Dia suami kamu, kah? Ada apa dengan pernikahan kalian?!" gumam Seno.
Yumna berteriak meminta di lepaskan namun tak di dengarkan Haidar sama sekali. Haidar terus menarik Yumna ke arah dimana mobilnya terparkir.
Di hempaskannya Yumna ke dalam mobil lalu dengan cepat Haidar berlari dan masuk ke sisi lain mobilnya.
"Haidar, kamu keterlaluan! Kenapa kamu pukul dia!!" teriak Yumna namun Haidar sama sekali tidak mempedulikannya.
Sampai di hotel, Yumna kembali di seret oleh Haidar ke dalam kamar mereka. Yumna dengan langkah terseok-seok dan juga bertelanjang kaki, karena sandalnya tertinggal di bukit.
Brukk!!
Yumna di hempaskan ke atas ranjang. Haidar melompat dan mencengkeram kedua tangan Yumna. Yumna menatap Haidar dengan tajam dan juga penuh ketakutan. Semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada pria ini. Apalagi dengan tatapan Haidar yang seperti hewan buas kelaparan.
"Haidar, lepaskan! Kenapa kamu marah seperti ini!!" teriak Yumna.
"Kenapa? Kenapa kamu bilang?!" teriak Haidar tak kalah kencangnya.
"Coba kamu fikir kenapa aku marah hehh?!!!"
"Ya mana aku tahu! Lepas Haidar, sakit. Kamu mabuk ya?... Lepas, sakit.... hmmmppttt!" mata Yumna membulat tak menyangka dengan apa yang Haidar lakukan padanya. Haidar menempelkan bibirnya pada bibir Yumna, bahkan dia mencoba melesakkan lidahnya ke dalam sana.
__ADS_1
Yumna berusaha mempertahankan diri. Tapi Haidar yang marah menarik tangan Yumna dan menguncinya dengan satu tangan di atas kepala Yumna, dia lantas mencengkeram pipi Yumna dengan tangannya, hingga Yumna kesakitan dan membuka mulutnya.
Dengan ganas Haidar membuat Yumna tak berdaya. Yumna menangis dengan perlakuan Haidar.