
Sementara itu di tempat lain. Haidar tengah gelisah, tapi dia tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Dia hanya tidak tenang saat akan berangkat pergi meeting tadi.
"Apa Pak haidar sakit?" tanya pria yang duduk di depan Haidar.
"Tidak, Pak. Saya tidak sakit," jawab Haidar tersenyum dengan malu. Sedari tadi dia tidak mendengarkan ucapan laki-laki itu dengan baik karena memikirkan Yumna.
"Oh, syukur kalau begitu, dari tadi saya lihat kalau Pak Haidar tampaknya gelisah, apakah ada yang dipikirkan?" tanyanya lagi.
"Ah, saya cuma kepikiran istri saya," jawab Haidar malu.
Laki-laki itu tertawa sehingga matanya kian menyipit. "Rupanya Pak Haidar laki-laki yang sayang istri. Saya pun seperti itu, kalau sedang kerja, kangen sama istri," bisiknya di akhir kalimat. Haidar lagi-lagi tersenyum dengan malu. "Apakah kita bisa lanjutkan lagi?" tanyanya lagi.
"Iya, Pak. Maafkan saya. Mari kita lanjutkan."
Hampir satu jam lamanya mereka selesai.
"Terima kasih Pak Haidar atas waktunya. Saya senang sekali bertemu dengan Bapak," ucapnya sambil mengulurkan tangan. Haidar menjabat tangan kliennya dengan senyum senang.
"Sama-sama, Pak. Saya juga sangat berterima kasih sekali karena Bapak telah mempercayai saya untuk melaksanakan proyek ini."
"Iya, Pak. Saya sudah kenal lama dengan Pak Bima mau pun Pak Arya, dan saya sangat senang sekali saat tahu Pak Arya memiliki putra yang sangat potensial seperti Anda. Tapi, kenapa Anda tidak memegang perusahaan utama Keluarga Rahadian?"
__ADS_1
"Saya ingin berdiri dengan kaki saya sendiri. Yaa, meskipun pada kenyataannya perusahaan cabang juga masih atas nama ayah saya, tapi setidaknya saya bisa mengelolanya sendiri dan membawa kebanggan untuk ayah saya," ujar Haidar. Pria itu menganggukkan kepalanya dan menepuk pundak Haidar dengan bangga.
"Saya bangga dengan pemikiran anak muda yang ingin maju seperti ini. Hebat sekali Anda, Pak Haidar. Saya yakin jika Pak Arya dan Pak Mahendra akan sangat senang sekali memiliki Anda sebagai salah satu anggota keluarga."
"Terima kasih."
***
Di rumah sakit, Arkhan sudah tidak tahan dengan melihat sang kakak yang sedari tadi meringis kesakitan. Dia berusaha untuk berjalan-jalan di dalam ruangan sambil mendorong tiang infus di tangannya. Sesekali Yumna duduk saat tidak merasakan sakit, lalu dia akan kembali berjalan saat rasa sakit itu datang lagi.
Dokter telah memeriksa lagi, pembukaan selanjutnya termasuk cepat untuk Yumna, kini pembukaan sudah di angka lima.
Tidak tahan dengan melihat kesakitan sang kakak, Arkhan keluar dari ruang rawat dan mengubungi Haidar.
***
"Saya permisi sebentar, Pak," pamit Haidar kemudian mengangkat telepon setelah mendapatkan izin dari kliennya. "Yumna di rumah sakit? Apa yang terjadi?" tanya Haidar terkejut. Pantas saja sedari pagi tadi dia merasa resah mengingat sang istri.
"Dokter sudah memeriksa, Kak Yumna akan melahirkan hari ini. Kalau Bang Haidar bisa ke rumah sakit itu akan lebih baik," ucap Arkhan kemudian menutup teleponnya setelah memberitahukan nama rumah sakit tempat mereka berada.
Tubuh Haidar menegang mendengar berita itu.
__ADS_1
"Apa ada masalah?"
"Anu ... saya minta maaf, Pak. Sepertinya saya tidak bisa makan siang dengan Anda sekarng. Maaf jika saya kurang sopan, tapi istri saya ada di rumah sakit sekarang," ucap Haidar meminta maaf.
"Apa istri Pak Haidar sakit?" tanya pria paruh baya itu.
"Tidak, Pak. Saya baru mendapat kabar kalau istri saya akan melahirkan."
Pria itu tersenyum senang. Dia mengulurkan tangannya lagi menarik tangan Haidar. "Oh, kalau begitu selamat. Anda akan menjadi seorang ayah. Sekarang lebih baik Anda cepat pergi ke rumah sakit dan temani istri melahirkan."
"Apa tidak apa-apa saya tinggal?" tanya Haidar.
"Tentu saja tidak apa-apa; Kehadiran suami akan membuat istri yang melahirkan juga bahagia. Pergi saja. Jangan lupa sampaikan salam saya pada keluarga besar," ucapnya.
Haidar kemudian membereskan berkas yang ada di atas meja kemudian pamit dan pergi dari sana. Sopir perusahaan telah menunggunya dan membawa Haidar kini pergi menuju ke rumah sakit.
***
"Arkhan. Bisa Kakak minta tolong sedikit?" pinta Yumna kepada Arkhan yang baru saja masuk ke ruangannya.
"Iya, ada apa?"
__ADS_1
"Kakak pengen teh anget dong. Tolong carikan di kantin rumah sakit, ya," pinta Yumna sekali lagi.
Arkhan menganggukkan kepalanya dan segera pergi. Dia juga menghubungi ibunya dan juga ayahnya dan memberi kabar jika sang kakak sedang berjuang demi anggota baru mereka.