YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
315


__ADS_3

Sampai di rumah, Yumna segera mandi dengan menggunakan air dingin, semenjak kemarin memang dirinya enggan untuk mandi dengan air hangat seperti biasanya. Entahlah, aroma dari air hangat itu membuatnya tidak nyaman saja.


Haidar mendekat ke arah Yumna yang tengah memakai pakaiannya, dia memberikan hp Yumna yang tengah dia pakai untuk menerima panggilan dari mertuanya tadi.


"Mama," ucap Haidar. Yumna menerima telepon tersebut dan menempelkannya di telinga, sedangkan Haidar membantu mengaitkan tali di belakang punggung Yumna.


"Maaf, Ma. Aku baru selesai mandi. Ada apa?" tanya Yumna setelah mendengar suara sang ibu.


"Besok malam pesta ulang tahun perusahaan Aldy loh, kamu nggak lupa, kan?" tanya Lily. Yumna melirik ke arah meja, di mana sebuah kalender kecil terdapat di sana. Dia sangat ingat dengan jelas angka berapa ulang tahun perusahaan Yoga yang kini di kelola oleh Aldy.


"Iya aku ingat, Ma. Apa besok kita akan berangkat bareng?" tanya Yumna lagi.


"Em, terserah kamu. Kalau kamu nggak repot buat datang ke sini boleh aja," jawab Lily.


"Iya, aku akan datang kok ke rumah dulu. Biar nanti berangkat bareng dari rumah Mama."


"Oke, Mama cuma mau mengingatkan aja sih. Takutnya kamu lupa, nanti Mama bisa ditanyain sama Papi Yoga dan Mami Wanda," kata Lily lagi.


"Iya, Ma. Aku akan datang kok sama Haidar. Besok nggak ada acara kan, Sayang?" tanya Yumna pada Haidar yang ada di belakangnya, dari bayangan cermin dia melihat Haidar menggelengkan kepala.


"Nggak ada," ucap Haidar.


"Kami bisa pergi besok," ujar Yumna.


Panggilan itu kemudian terputus, Yumna segera memakai piyama panjangnya.


"Ada acara?" tanya Haidar.


"Iya, ulang tahun perusahaan Aldy."


"Laki-laki yang kamu suka dulu?" tanya Haidar lagi. Yumna hanya mengalihkan tatapannya dari suaminya itu.


"Jangan bahas masa lalu, Haidar. Dia hanya orang yang aku suka saat SMP. Sekarang sudah enggak," jawab Yumna dengan kesal.


"Oh."


"Oh? Cuma 'oh' aja?" tanya Yumna semakin kesal. Dia melirik sebal pada sang suami. Ucapannya itu seakan membuat Haidar menjadi tidak senang sama sekali.


Sadar dengan kerutan yang ada di wajah sang istri membuat Haidar kini menurunkan egonya. Jujur dia masih cemburu, tapi abaikan saja rasa itu. Bukankah yang terpenting sekarang ini adalah mereka berdua sudah bersama?


Haidar memeluk Yumna dari belakang, mencium leher istrinya itu dengan lembut.


"Terus aku harus bilang apa?" tanya Haidar lagi.


"Nada suara kamu yang nggak aku suka, Haidar. Kamu tuh kayak nggak suka kalau denger nama dia," jawab Yumna dengan ketus.


"Aku memang nggak suka, tapi aku juga nggak mau peduli. Karena kamu sekarang ini sudah jadi milik aku. Karena kamu sekarang ini adalah ibu dari anak-anakku," ucap Haidar lagi.


Yumna tersenyum senang mendengar ucapan Haidar yang seperti ini, dia mengusap pipi Haidar yang kini bersandar pada bahunya.


"Janji kamu besok nggak akan buat masalah di sana, kan?" tanya Yumna ingin memastikan.


"Masalah apa, Sayang?" Haidar bertanya lagi.


Yumna hanya mengangkat bahunya dan menggeleng pelan. "Aku cuma takut kalau kalian bertengkar."


Suara kekehan keluar dari mulut Haidar. "Aku bukan anak kecil, Sayang. Aku adalah laki-laki dewasa yang sudah punya istri dan sebentar lagi akan memiliki dua anak yang sangat ceria. Aku nggak mau jadi anak kecil kayak gitu,' ujar Haidar.


"Beneran? Nggak akan kayak dulu lagi?" tanya Yumna yang membuat Haidar mengerutkan keningnya.


"Dulu? Kapan?" tanya Haidar bingung.


"Waktu kamu ... nggak jadi," kata Yumna, lalu memilih untuk melepaskan diri dari pelukan suaminya tersebut.

__ADS_1


"Eh, apa ini? Nggak jadi apa?" tanya Haidar dengan nada protes, melihat istrinya itu kini menjauh darinya.


"Nggak ada. Aku cuma kepikiran aja sedikit, tapi nggak ada karen kamu sekarang adalah suami aku. Bukannya aku nggak boleh khawatir ya?" ucap Yumna sambil tersenyum.


Haidar mendekat ke arah Yumna dan menjawil hidung mancung itu. "Kamu bikin aku penasaran deh. Apa sih yang tadi kamu mau bilang?" tanya Haidar lagi dengan sedikit memaksa. Yumna menggelengkan kepala, tidak mau mengatakan hal yang bisa memicu emosi mereka berdua.


"Nggak ada, udah. Sama kayak kamu, aku juga sekarang udah nggak akan khawatir lagi karena kamu adalah suami aku," ucap Yumna dengan tenang. Haidar tidak mau memaksakan kehendak lagi, dengan pernyataan Yumna yang seperti itu bukankah seharusnya dia merasa lega karena itu berarti Yumna tidak keberatan dengan masa lalunya yang sangat tidak baik. Ya, setidaknya itu lah yang dia pikirkan sekarang ini.


...***...


Semenjak sore, setelah pulang dari pekerjaannya Yumna sudah bersiap untuk pergi ke pesta perusahaan Aldy. Dia kini sangat cantik dengan gaun berwarna biru yang serasi dengan dasi yang akan Haidar kenakan nanti.


"Sayang, aku kelihatan gemuk nggak sih pake ini?" tanya Yumna saat Haidar baru saja keluar dari kamar mandi. Haidar terpana melihat Yumna yang sangat cantik mengenakan gaun tersebut, sangat pas di tubuhnya yang ramping. Yumna tengah berputar untuk menunjukkan tubuhnya yang dirasa sedikit lebar kini.


Mendapati suaminya yang hanya diam dan menatapnya seperti itu membuat Yumna menjadi geram sendiri. Dia tengah menunggu jawaban dari Haidar.


"Ih, kamu kok malah diam aja. Aku kelihatan gemuk ya?" tanya Yumna dengan tdiak sabaran. Bibirnya mengerucut saat tak kunjung juga suaminya itu berbicara.


"Aku terpana, makanya aku diam aja. Lagian kamu tuh ya bikin aku kesengsem, Sayang. Cantik banget sih istriku ini," ucap Haidar, mendekat dan menjepit dagu Yumna untuk menciumnya. Akan tetapi, Yumna menepis tangan Haidar yang dingin dan merengut tidak suka. Bukan jawaban itu yang dia mau!


"Sayang. Aku nggak butuh gombalan kamu. Apa aku ganti aja pake gaun yang lain?" tanya Yumna lagi. Haidar menghela napasnya berat.


"Sudah, bagus yang ini, lagian kenapa juga sih baju ini? Aku udah carikan gaun ini seharian loh. Kamu nggak kelihatan gemuk kok. Gemuk dari mana juga? Masih langsing kok," ucap Haidar lesu, dia sangat yakin sekali jika Yumna akan sangat cantik sekali dengan gaun yang telah dirancang oleh desainer ternama dan hanya ada satu-satunya di butik tadi.


Sadar dengan nada suara suaminya, akhirnya Yumna menurut juga. Bagaimana pun Haidar sudah susah payah mencarikan dirinya gaun di sela sibuknya pekerjaan.


"Ya sudah, deh. Tapi ini nggak bikin aku kelihatan gemuk, kan?" tanya Yumna lagi. Haidar menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Nggak kok, Sayang. Kamu nggak gemuk. Justru sekarang ini malah aku senang lihat kamu berisi."


"Sama aja, berisi itu sama kata lain gemuk, Haidar." Yumna mendelik malas kepada suaminya itu, Haidar hanya terkekeh mendengar ucapan sarkas sang istri.


"Nggak kok, kamu sekarang ini. Kamu tuh kelihatan beda banget. Kalau kata asistenku ya, aura seorang ibu hamil tuh terpancar dari dalam. Emang iya sih, aku lihatnya juga kamu tuh beda dari kemarin," ucap Haidar.


Seketika wajah Yumna memerah mendengar ucapan tersebut dari Haidar. Kepalanya tertunduk menyembunyikan senyuman di bibirnya. "Gombal, ah."


Haidar tersenyum, dia mendekatkan dirinya pada Yumna dan berbisik, "Aku nggak gombal, tapi kamu memang benar cantik, Sayang."


Rasa hangat akibat hembusan napas Haidar membuat Yumna menjadi gerah tiba-tiba, padahal Ac yang ada di ruangan itu menyala dengan cukup dingin.


"Kamu tuh cantik banget, Yumna. Aku beruntung dapatkan wanita yang secantik kamu," ucap Haidar lagi sambil menatap sang istri lekat-lekat, tak lupa dia juga kembali mendekat untuk mencium bibir Yumna yang sudah terpoles lipstik.


Sadar dengan dadanya yang sudah tidak aman, Yumna mendorong Haidar dengan kedua telapak tangannya. Dia tidak ingin jika mereka lalu batal pergi ke pesta tersebut karena terjadi sesuatu.


"Anu ... Kamu cepat di baju deh, ini sudah malam, takut nanti terlambat kita pergi ke sana," ucap Yumna, lalu dengan cepat pergi ke kursi riasnya untuk sekedar mengecek wajahnya lagi, tepatnya agar tidak terlalu merah karena sangat malu dengan pemikirannya yang sudah melanglang buana dengan kurang ajarnya.


Dua pasutri itu pergi ke rumah Keluarga Mahendra pada saat hari mulai petang. Cukup waktu untuk mereka pergi ke rumah Bima sebelum melanjutkan perjalanan ke perusahaan milik Aldy.


"Yumna!" teriak Lily senang saat melihat kedatangan putri tertuanya. Dia memeluk Yumna yang sudah beberapa minggu ini tidak bertemu.


"Apa kalian baik-baik saja? Kenapa baru pulang kemari?" tanya Lily dengan cemberut, dia juga melirik protes ke arah menantunya.


"Kalian tidak pernah berkunjung, seperti susah saja jalan menuju ke sini," ucap Bima dengan sarkas sambil tetap sibuk dengan hpnya. Mendengar ucapan mertuanya yang seperti itu membuat Haidar tidak enak hati, apa lagi tatapan dari kedua adik iparnya yang berwajah sama, semakin tercekik rasanya dan kehilangan oksigen yang dia hirup.


"Eh anu, Pa. Maaf sekali, kami sangat sibuk," ucap Haidar beralasan.


"Apa hari libur juga sibuk?" tanya Bima lagi dengan menatap Haidar sinis sampai-sampai Haidar kini sangat sulit untuk menelan salivanya sendiri.


"Papa! Jangan ganggu anak kita. Kamu ini bukannya ditanya kabar malah begitu," tegur Lily pada sang suami dari tempatnya. Haidar hanya bisa menghela napasnya dengan lega mendengar pembelaan dari sang ibu mertua.


"Kamu sehat, Haidar?" tanya Lily pada sang menantu.


"Sehat, Ma. Sehat. Bagaimana dengan Mama?" tanya Haidar mencium tangan Lily.

__ADS_1


"Ekhem!" Suara deheman terdengar dari belakang Haidar. Lily menatap sang suami dengan sinis, tahu sekali akan artian deheman suara tadi. Akan tetapi, Bima tidak peduli, hanya melirik sekilas dan memilih untuk kembali sibuk dengan hp nya.


Yumna tersenyum mendekat ke arah sang ayah, dia sangat rindu sekali dengan keluarganya ini. Bima yang sedang memainkan hp dia peluk dair belakang dan mencium pipinya lembut.


"Apa kabar, Papa? Aku kangen sama Papa," ucap Yumna. Bima mengusap rambut putrinya itu dengan sayang.


"Papa baik. Apa kamu ditawan di rumah sampai tidak pernah datang ke mari? Apa kamu nggak kasihan sama Papamu yang sudah tua ini? Di usia yang sudah renta Papa tidak melihat anak Papa satu ini rasanya---"


"Pa, jangan main drama, deh," tegur Lily saat mendengar sang suami berbicara dengan nada yang menyedihkan. YUmna terkekeh mendengar ucapan sang ibu, begitu juga dengan si kembar, sedangkan Haidar berusaha untuk menahan tawa dengan susah payah.


Papa ternyata sama dengan Papi. Takut istri, batin Haidar di dalam hati.


Di ruangan itu hanya ada dua adiknya, Yumna mengedarkan tatapannya ke arah sekeliling dan tidak mendapati Syifa di sekitarnya.


"Syifa masih di kamarnya. Susul dong, Kak. Lama amat dia nggak turun-turun," ucap Azkhan yang tahu siapa yang Yumna cari.


"Iya, Kak. Kalau bisa tuh seret turun aja. Lama dia." Kali ini Arkhan yang berbicara, Yumna sudah tidak aneh lagi dengan kelakuan dua anak kembar ini, meskipun begitu mereka berdua sangat sayang sekali dengan Syifa.


"Oke, Kakak akan panggil Syifa."


Yumna naik ke lantai atas di mana sang adik masih sibuk dengan dirinya sendiri, sedangkan yang lain sudah sangat siap untuk pergi ke tempat pesta sekarang juga.


Kini tinggallah Haidar di ruangan yang sama dengan Bima dan kedua pria yang lain, Haidar merasa jika sekarang ini dia ada di dalam kandang macan dengan tatapan tajam dari tiga makhluk itu. Mengerikan.


"Apa kamu mau bilang sesuatu?" tanya Bima mengagetkan Haidar, dengan cepat laki-laki itu menggelengkan kepalanya.


"Cuma ingin tanya, gimana kabar Papa," ucap Haidar.


Yumna mengetuk pintu kamar Yumna sedikit keras, terdengar suara dari dalam sana seperti panik.


"Apa? Aku belum siap!" teriak Syifa dari dalam kamarnya.


"Kakak masuk ya?" pamit Yumna meminta izin. Akan tetapi, tidak ada lagi suara yang terdengar setelah itu.


Di dalam kamarnya, Syifa sedang sibuk dengan beberapa gaun yang ada di atas ranjangnya, keadaan kamar itu juga berantakan sekali membuat Yumna menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun, ini sudah jam berapa, Syifa?" tanya Yumna lalu mendekat ke arah adiknya.


"Eh, Kakak sudah sampai. Aku masih bingung mau pakai apa," ucap Syifa dengan nada bingung menatap sang kakak yang bahkan sangat cantik dan mempesona dengan gaunnya tersebut. Tanpa banyak bicara, Yumna menyingkirkan beberapa gaun yang ada di atas dan memilah serta memilih gaun yng cocok untuk adiknya.


"Lebih baik ini aja. Kamu akan sangat cantik pakai ini," ucap Yumna sambil menempelkan gaun tersebut ke depan tubuh sang adik. Syifa kini tengah berpikir tentang pilihan kakaknya itu.


"Bagus, sih," ujar sang adik.


"Ya sudah, cepat pakai. Nanti keburu ditinggal sama Mama sama Papa," kata Yumna mendorong tubuh adiknya ke kamar mandi. Syifa menurut saja.


Yumna hanya menggelengkan kepalanya, padahal apa pun yang Syifa pakai tidak pernah buruk, dia saja yang selalu kurang pede dengan penampilannya jika menggunakan gaun.


Saat mereka berdua turun, suara sorakan dari kedua saudara kembarnya melakukan protes.


"Kita sambit artis kita. Syiiiifaaaaa! Yang telah membuat semua orang menunggu padahal penampilannya biasa-biasa aja! Tepuk tangan, wahai pemirsahhh!" teriak Azkhan sambil berdiri dan menunjuk ke arah saudara perempuannya yang baru saja sampai. Dia berlaku seakan dirinya adalah pembawa acara. Apa yang dia lakukan mendapati tatapan tajam dari kedua kakaknya apalagi Syifa meliriknya sinis tidak suka.


Suara tepuk tangan terdengar dari saudara kembarnya, terdengar riuh sehingga Lily keluar dari dalam kamar.


"Ada apa ini?" tanya Lily melihat Arkhan dan Azkhan bertepuk tangan. Gegas kedua anak itu menghentikan tepukannya dan menyembunyikan kedua tangan di belakang punggungnya.


"Nggak ada."


"Bohong, Ma. Tadi mereka ejek aku, tuh!" tunjuk Syifa pada kedua adiknya dengan nada yang sangat kesal.


"Arkhan. Azkhan!" tegur Lily.


"Apa? Kan kita cuma apresiasi doang, Ma. Ada yang ngalahin rekor Mama berdandan." Azkhan mengambil ancang-ancang. "Kabuuurrr!" teriak anak itu dan pergi dari hadapan semua sebelum kena semprot tiga wanita di keluarga ini.

__ADS_1


Tiga wanita itu kini serentak mengalihkan tatapannya pada satu orang yang lain.


"Apa?" Arkhan juga segera bangkit dan bergegas untuk pergi. "Aku ... Mau siapin mobil dulu, belum di lap kaca mobilnya," ucap Arkhan, pada akhirnya dia juga ikut pergi menyusul adiknya, padahal mobil tadi sore sudah dicuci dan di lap bersih khusus untuk acara malam ini.


__ADS_2