
Yumna berbaring di dalam kamarnya. Dia hanya terdiam menatap layar hpnya. Tak ada pesan maupun telfon. Berharap apa dia? Haidar mengirimkan pesan? Menelfonnya? Ah tidak mungkin!
Rasanya Impossible!
Sepi. Jika biasanya dia akan berdebat dengan Haidar sebelum tidur. Kali ini dia hanya diam sambil menunggu kantuk menyambutnya.
Tiba-tiba saja dia rindu. Entah apa yang dia rindukan dari sosok Haidar. Mungkin saja sudah menjadi kebiasaan dia selama lebih dari dua bulan ini tidur dengan dia.
Tok. Tok.
"Kak Yumna!" Suara Syifa memanggil dari luar. "Sudah tidur?"
"Belum. Masuk aja, gak di kunci." Yumna balas berteriak.
Pintu terbuka. Syifa sudah siap dengan baju tidur dan boneka kesayangannya.
"Mau tidur disini!" ucap Syifa manja.
"Hem. Sini." Yumna menggerakkan kepalanya. Syifa senang, dia segera menutup pintu dan berlari ke ranjang. Melompat hingga Yumna terlonjak.
"Syifa. Bisa gak sih gak usah lompat!" tegur Yumna.
"Hehe... " Syifa menyengir memperlihatkan gigi gingsulnya.
"Aku gak bisa tidur, kak!" tutur Syifa.
"Kenapa?" tanya Yumna. Syifa hanya menggelengkan kepalanya.
"Cuma gak bisa tidur aja! Kakak kenapa belum tidur?" Tanya Syifa.
"Sama gak bisa tidur!"
"Mikirin bang Haidar ya?!" goda Syifa dia tak sadar dengan permintaan mamanya tadi di dapur. "Ups..." Syifa segera menutup mulutnya saat melihat koper masih berdiri disana. Dia melirik ke arah kakaknya, tatapan matanya berubah sendu.
__ADS_1
"Maaf, Kak. Maaf!" Syifa merasa bersalah. Dia memukul mulutnya yang lancang. Yumna tertawa kecil. Adiknya ini memang suka sekali keceplosan dan memukul mulutnya sendiri.
"Sudah! jangan di pukul lagi. Nanti bibir kamu seksi banget loh!" Yumna menarik tangan adiknya.
"Syifa gak sengaja, kak. Lupa." sesalnya.
"Ya sudah tidak apa-apa. Tidur, yuk. Besok kamu kuliah kan?" tanya Yumna.
"Kuliah siang sih, tapi paginya mau ke perpus cari materi yang belum aku ngerti." ucap Syifa.
Yimna dan Syifa berbaring bersebelahan. Sudah sangat lama sekali mereka tidak tidur bersama.
"Kak. Waktu kakak kuliah di Singapura susah gak sih?" daripada bertanya soal yang tidak-tidak lebih baik mengalihkan pembicaraan.
"Gak juga! Kenapa? Kamu mau kuliah disana?" Tanya Yumna.
"Gak tahu juga. Belum ada gambaran. Lagipula masih lama juga!" tutur Syifa.
"Memangnya kamu bisa jauh dari mama?" tanya Yumna setengah mengejek.
"Ih, kakak mah ngejek mulu! Sama aja kayak si kembar rusuh!" protes Syifa merengut sebal.
"Ya kan kakak tanya, nanti kalau baru saja datang kesana terus gak lama kamu minta pulang gimana? Sayang kan. Selain sayang duit sayang waktu juga!" Yumna mengingatkan.
"Iya sih. Tapi gak tahu S2 nanti Syifa mau dimana, belum kepikiran."
"Oh." Hanya itu jawaban Yumna.
Syifa juga terdiam. Bisa ia bayangkan kalau suatu saat nanti dia mengikuti jejak sang kakak yang melanjutkan kuliah diluar negeri. Apa dirinya bisa? Seperti kak Yumna yang bisa menjadi kebanggaan keluarga?
"Kenapa? Kok ngelamun!" tanya Yumna. Syifa menggelengkan kepalanya, dan memeluk Yumna.
"Gak ada. Gak ngelamunin apa-apa." ujar Syifa. "Syifa seneng deh, bisa tidur sama kakak lagi. Jadi inget waktu kecil." tuturnya.
__ADS_1
Yumna lagi-lagi tertawa membuat Syifa mendongak melihat kakaknya dari bawah dagunya.
"Asal jangan ngompol aja!" ujar Yumna membuat Syifa merah mukanya.
"Ih, kakak. Itu kan waktu aku masih kecil. Jangan di samakan!" Syifa merengut sebal menjauhkan dirinya dari Yumna.
"Ya siapa tahu kamu juga sekarang masih suka ngompol, Dek! Jujur aja, kalau kamu cuci seprai sendiri kamu pasti ngompol, kan?" tunjuk Yumna tepat di depan wajah Syifa. Dia tertawa lebar melihat wajah Syifa yang semakin merah.
"Enggak, bukan. Enak aja. Aku cuci seprai kalau lagi kebocoran, kak. Bukan ngompol!" teriak Syifa.
Dan begitulah mereka. Bukannya tidur malah saling melempar ejekan. Membuat Yumna melupakan rasanya kepada Haidar.
...***...
Haidar terdiam. Dia menatap lampu yang berpendar di kejauhan sana. Indah, tapi tak seindah hatinya saat ini.
Dia ingat dengan tamparan mami. Kedua kali.
Dia tak habis fikir dengan maminya. Kenapa sampai mami bilang Vio tak baik untuknya. Apa hanya karena dia model terkenal dengan kontroversi pakaiannya yang selalu seksi? Dia itu model. Wajar jika dia selalu berpenampilan seperti itu!
Haidar berjalan masuk ke dalam kamar. Terpampang disana foto kemesraan sepupunya bersama suaminya.
Ya. Haidar ingin menyendiri sementara waktu. Hanya ini tempat yang bisa ia tuju. Apartemen Agnes. Sepupunya itu hanya sesekali datang kesini untuk berganti suasana bersama dengan suaminya.
Vio sedang tidak bisa di hubungi. Asistennya bilang mereka sedang berada di luar kota untuk beberapa hari.
Dia menjatuhkan dirinya dengan kasar di atas kasur hingga bantal guling melompat di tempatnya.
Rasanya sepi. Sepi sekali.
Haidar mengeluarkan hpnya dari saku celana. Dia menatap walpapernya. Gambaran dirinya bersama dengan Yumna. Ah anak ini. Keterlaluan!
Tak ada telfon. Tak ada pesan.
__ADS_1
Ya sudahlah! Kalau memang Yumna sudah tidak mau lagi bertemu denganku mau bagaimana lagi?