YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
127. Bimbim dan Una di Masa Kini


__ADS_3

Bima baru saja masuk ke dalam kamar, dia melihat Lily yang sedang duduk di atas kasur dengan kaki berselonjor di depanya. Menatap ke arah benda pipih yang ia genggam dalam pangkuan. Layar hpnya mati, tapi Lily tak mengalihkan pandangannya dari sana. Matanya terlihat merah, hidungnya juga. Bibir atas dan bawahnya ia lipat ke dalam.


"Una, ada apa?" tanya Bima dia mendekat dan duduk di samping kaki istrinya. Mengangkat satu kaki ke atas kasur. Satu tangannya melepas dasi yang melingkari lehernya, sedangkan satu tangan yang lain mengusap pipi istrinya dengan lembut.


"Aku kangen Yumna, Mas. Dimana dia? Kenapa dia tidak bilang saja ada dimana, aku kan khawatir!" Lily menatap mata Bima yang kini menatapnya dengan sendu. Bima menurunkan tangannya dari pipi Lily dan menggenggam tangan istrinya, mengusap punggung tangan dengan ibu jarinya dengan lembut.


"Kamu sudah telfon Yumna?" Lily mengangguk atas pertanyaan suaminya. Terlihat betapa khawatirnya wanita ini pada putri sulungnya itu.


"Tenang saja. Yumna pasti baik-baik saja!" Bima mengulas senyum, dia mencoba untuk menghibur sang istri yang kini terlihat menahan rindu.


"Mas Bimbim tahu dimana dia?" Lily mengubah duduknya menjadi tegak, dia tatap mata suaminya dengan lamat namun tajam. Berharap sang suami mengatakan 'iya'!


Bima menggaruk belakang lehernya yang tak gatal. Bagaimana dia akan mengatakannya ya? Akh... harusnya dia tak mengatakan hal itu tadi. Kalau Lily menyusul anak itu kesana bagaimana?


"Mas jawab aku!" Lily menggoyangkan lengan Bima, tak sabar menunggu jawaban pria itu. "Kamu pasti tahu dimana Yumna, kan? Jaab. Jangan bohong!"


Bima mengalihkan pandangannya ke arah lain, memutuskan tatapannya tadi bersama Lily.


"Mas Bimbim." Panggil Lily menyebut nama kecil suaminya. Bima tak juga ingin menoleh.


"Bima Satria Mahendra!" Kali ini Lily memanggilnya dengan tegas dengan nada yang menyeramkan di pendengaran Bima. Ini tandanya dunia hampir kiamat jika Lily yang lemah lembut dan murah senyum mulai menyebut nama lengkapnya.


Bima menoleh. Sebisa mungkin dia menampilkan senyum terbaiknya. Tapi dia merasa keki sendiri. Una kesayangannya sedang menatapnya dengan tajam. Matanya bulat seperti bulan yang sudah purnama. Indah tapi sulit untuk di jangkau. dan begitulah kiranya nanti jika wanita cantik ini sudah marah, dia harus menungu berapa purnama sampai ia bisa meraih dan mereguk keindahan bersama istrinya.


Glek...

__ADS_1


Susah payah menelan saliva.


"Mau aku sebutkan nama lengkap sekalian pakai 'bin'?" tanya Lily dengan nada dinginnya. Wajahnya penuh dengan ekspresi suram.


"iya-iya. Aku akan katakan. Tapi janji sama Mas Bimbim ini, kalau Una Kesayangan Mas Bimbim gak akan susul Yuma kesana." Bima menyodorkan jari kelingkingnya pada sang istri.


Lily menatap kesal pada Bima. Pria itu masih menyodorkan tangannya untuk ia sambut.


"Tidak mau, aku gak akan bilang!" Bima menarik tangannya tapi segera Lily tarik pergelangan tangan Bima dan menautkan jari kelingking keduanya.


"Katakan! Ayo bilang dimana Yumna!" ucap Lily kesal.


Bima tersenyum dengan senang. wanita ini pasti tidak akan tahan.


"Yumna ada bersama Ibu Melati." ucap Bima akhirnya.


Mata Lily kembali membulat, lalu sedetik kemudian berubah sendu.


"Dia di Surabaya?" tanya Lily, tubuhnya yang tadi tegak merosot ke bawah.


Bima mengangguk dan meraih tubuh Lily ke dalam pelukannya.


"Apa Mas sudah tahu dari awal kalau Yumna ada disana, makanya Mas bisa tenang selama ini?" tanyanya. Bima mengangguk lagi.


"Maaf. Kita tahu bagaimana sifat Yumna. Kita harus menjaga perasaannya, dan harus menghormati keputusan dia. Kalau dia ingin ketenangan, biarkan dia tenang dan menata hatinya sendiri disana." lirih Bima di dekat telinga istrinya.

__ADS_1


"Tega Mas gak bilang itu sama aku."


"Kalau aku bilang dimana dia kamu pasti akan susul Yumna. Iya, kan?"


"Tenang saja, aku juga punya beberapa orang disana untuk memantau keadaan Yumna. Aku gak mau kejadian dulu terulang lagi dan kali ini terjadi pada Yumna. Aku gak tenang dia pergi untuk menyendiri." Lily tahu pasti apa yang Bima maksud. Ini tentang pengalaman mereka dulu saat Lily meninggalkannya hari itu.


"Syukurlah, kalau dia memang ada disana."


"Yumna juga tidak hanya diam di rumah, dia membantu papa Hadi di kantor. Aku tahu karena Papa Hadi telfon waktu itu."


"Tapi Mama Melati tidak pernah telfon aku kalau Yumna ada disana, jahat sekali mereka." Sungut Lily kesal. Besok dia akan menelpon mantan ibu mertuanya itu untuk mengkonfirmasi kebenaran ini.


Bima tertawa kecil, setiap kali Una-nya merengut dia sangat suka. Apalagi kalau sudah mulai menunjukkan puppy eyesnya, membuat dia gemas dan ingin...ugghhh...cubit sana, cubit sini, dan main cubit-cubitan bersama dan akhirnya....


Akh... Sial!


Cup!


Mata Lily membulat saat Bima tiba-tiba saja mengecup bibirnya dan menggigitnya sedikit.


"Kamu ini... Sengaja ya?" tanya Bima dengan nada gemasnya.


"Sengaja apa?" Lily tak mengerti, bertanya sambil menatap mata suaminya yang kini berbinar. Tatapan mata itu... Senyum itu... Oh, tidak!


"Akh..!!!" Lily memekik saat Bima mendorong dan menindihnya di antara kasur dan tubuh kekar itu. Dia berontak, tapi apalah daya tenaganya tak cukup kuat untuk mendorong tubuh kekar yang kini tengah mengajaknya bercumbu.

__ADS_1


__ADS_2