
"Jangan macam-macam!" ancam Yumna dengan pelototan di matanya.
Akh... Aje sialan!!
Haidar mengerucutkan bibirnya.
"Bener gak mau ulangi lagi? Gak akan ada yang datang lagi kok!" seru Haidar. Entah bercanda atau memang berharap, membuat Yumna tersipu malu di wajahnya.
"Gak!" ucapnya sambil menyimpan teplon penggorengan di atas kompor dia lalu melengos ke arah lain.
"Yumna..! Na!" pangilnya lagi Haidar hanya bisa menatap Yumna yang kini naik ke lantai atas. Dia sama sekali tak menggubris panggilan Haidar.
Yumna menutup pintu kamarnya, dia bersandar di pintu. Dadanya berdetak sangat cepat, fikirannya juga kacau.
Kenapa aku bisa hampir saja berciuman dengan dia... Aduhhh... bodoh.. bodoh!
Yumna merutuki dirinya sendri. Dekat dengan Haidar membuat dirinya sering kali khilaf. Dia terkadang tak sadar dengan apa yang dia lakukan. Dan parahnya tadi itu...
Ya ampuunnn... Tak ingin berlarut dalam gundah hatinya Yumna mengambil kunci mobil dan bersiap untuk pulang. Dia harus ke kantor, Papa akan mengadakan rapat direksi untuk mengumumkan jabatan wakil CEO yang akan di berikan padanya. Papa ingin Yumna belajar untuk mengelola perusahan.
Yumna pergi ke kamar mandi terlebih dahulu, dia mencuci mukanya yang masih terasa panas, setelah itu dia bergegas untu turun ke bawah membawa kunci mobilnya.
Di lihatnya Haidar sudah selesai sarapan, dia juga sudah mencuci piring bekasnya.
"Mau kemana lo?" tanya Haidar yang melihat Yumna berjalan ke arahnya.
"Mau pulang. Siap-siap ke kantor!" jawab Yumna.
"Gue.... am...." Yumna menatap Haidar yang berbicara terbata.
"Gue ikut!" ucapnya akhirnya.
"Gue gak bawa mobil, gak tahu dimana." tuturnya. Kening Yumna mengernyit bingung. Memang semalam saat dia kesini tak ada mobil Haidar, tapi kenapa dia bisa sampai lupa mobinya ada dimana.
__ADS_1
"Elo gadein mobilnya? haha..." kelakar Yumna.
"Semalam gue keluar sama Vio, tapi gue gak inget kenapa gue bisa sampai kesini."
Rasanya menyebalkan saat mendengar nama itu, tidak bisakah dia tak menyebut nama wanita lain saat bersamanya?
Wajah Yumna mendadak datar, terlihat sangat jelas perubahan wajah itu di mata Haidar.
"Elo bisa pakai taksi!" ucapnya ketus, Yumna mencuci gelas kotornya dan mengelapnya dengan lap kering.
"Gue gak bawa duit, dompet gue jatuh gak tahu dimana." berkata dengan jujur, daripada dia tak bisa pulang, hpnya juga gak tahu dimana rimbanya.
Yumna menghembuskan nafas kasar. Kesal juga dengan pria ini. Senang-senangnya sama siapa, nyusahinnya sama siapa!
"Ya udah. Ayo!"
"Gue ambil jas dulu!" Haidar berjalan dengan cepat ke arah kamar dan megambil jasnya, sedangkan Yumna berjalan ke arah luar menuju ke mobilnya.
"Pak Dan!" teriak Yumna, tak lama yang dipangil keluar dari pos.
"Saya pulang ya Pak. Tolong jaga rumah dengar baik." pinta Yumna.
"Iya, Mbak. Anu... Mas Haidar apa pulang juga?" taya Pak Dani lalu mengatupkan mulutnya saat orang yang di maksud keluar dari dalam sana.
"Pulang." Bisik Yumna. "Ya sudah, kami berangkat ya!" serunya lalu masuk ke dalam mobil.
Haidar sudah ada di dalam sana, duduk dengan santai di kursi penumpang. Yumna mendecih sebal.
"Heh... elo tuh laki-laki harusnya elo yang nyetir!"ucap Yumna kesal.
"Hehe... kali-kali elo yang nyetir napa? Gue kan cuma nebeng!" ucap Haidar dngan muka cengengesannya.
"Dih dasar...!" tak ingin berdebat, Yumna hanya bisa diam dan kemudian menyalakan mobilnya. Haidar tersenyum senang.
__ADS_1
Pak Dani membukakan pintu gerbang, sementara Jeje seperti biasa sedang melakukan olah raga ringan di bawah sinar matahari pagi yang mulai panas.
"Trimakasih Pak Dan. A Jeje, semangat!" teriak Yumna pada Jeje. Pemuda itu hanya mengacungkan jempolnya pada Yumna, lalu kemudian menariknya kembali dengan cepat setelah medapat pelototan dari haidar.
Keduanya pergi meninggalkan rumah itu.
"Elo mau gue nter kemna? Rumah apa kantor?" tanya Yumna. Haidar terdiam sedikit berfikir, jika pulang ke rumah tentu ia akan mendapatkan omelan dari mama, kalau dia ke kantor, bajunya sangat kusut... Cari aman saja!
"Kantor aja, deh." ucap Haidar pada akhirnya.
"Gak pulang dulu ke rumah? Nanti mami nyari." Yumna mengingatkan.
"Gak ah, gue males! Mami kerjaannya ngomel terus semenjak elo gak ada!" ucap haidar dengan nada yang tedengar kesal.
"Ya tentu mami ngomel lah. Gimana gak akan ngomel kalau kelakuan anaknya kayak begini!' ucap Yumna tanpa melihat perubahan di raut wajah Haidar. Dia terfokus pada jalanan yang mulai macet.
Apa dia harus bilang kalau semua ini arena dirinya? Nanti dia kegeraan, bagaimana?
Haidar hanya diam tak ingin menjawab. Dia memilih fokus ke jalanan di depannya. Tapi itu hanya sejenak, nyatanya matanya terasa gatal ingin meihat gadis yang kini masih berstatus istrinya, yang sebentar lagi akan menyandang status sebrgai mantan istri. Dia terlihat berbeda saat sedang serius seperti itu. Lebih tenang, lebih cantik.
"Sudah sampai." ucapan Yumna membuat Haidar tersadar dari lamunannya, entah berapa lama dia memandang dan melamun dengan objek gadis di sapingnya ini, dia ak tahu. Tak sadar.
"Eh iya. Makasih. Mau mampir?" tawar Haidar pada Yumna, dia menggeleng pelan.
"Lain kali deh, gue mau pulang terus ke kantor. ada rapat nanti." ucap Yumna.
"Ya udah thanks ya. Lain kali elo gue traktir deh."
" Oke!" ucap Yumna dengan senyuman, Haidar keluar dari dalam mobil dan pergi ke dalam gedung tinggi perusahaannya. Yumna teringat sesuatu, dan menepuk jidatnya.
"Kenapa aku tadi bilang lain kali ya?" tuh kan tak habis fikir dengan otak dan raganya, tak pernah sinkron, sering ngeblank!
Tak ingin berlama-lama di sana, Yumna segera melajukan mobilnya menuju rumah. Dia memang sudah mandi tapi tak mungkin jika masuk kantor dengan baju bebas seperti itu.
__ADS_1
Terpaksa harus putar balik lebih jauh karena mengantarkan Haidar terlebih dahulu.