YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
208. Merasa Bersalah ll


__ADS_3

"Aku gak enak hati sama mama karena aku berbohong dan bilang kalau aku akan pergi dengan temanku," ujar Yumna dengan menundukkan kepala.


haidar menatap Yumna sekilas dan memegang tangan wanita itu lalu menempelkannya di dadanya.


"Kamu gak sepenuhnya bohong, Yumna." Haidar mencoba untuk menghibur Yumna.


"Kita kan memang masih menjadi teman," ucap Haidar membuat Yumna mengangkat kepalanya menatap Haidar.


"Kamu belum kasih jawaban sama aku, berarti kita masih hanya teman," ungkap Haidar sekali lagi sambil terkekeh.


"Apa aku harus menjadi teman kamu terus sampai kamu bisa jujur sama kedua orang tua kamu? Aku akan sabar jika memang itu yang kamu inginkan," ucap Haidar lagi dengan senyuman. Yumna merasa sangat bersalah mendengar hal itu. Dia bagai ada di tengah antara mantan suami dan keluarganya, meski hatinya condong pada keluarga, tapi dia juga mencinta Haidar.


"Maaf," ucap Yumna. Haidar tersenyum miris, tapi dia akan sabar menunggu Yumna untuk siap mengakui hubungannya yang kini sedang dekat dengan dirinya.


"Tidak apa-apa. Apapun yang membuat kamu nyaman kamu boleh lakukan, aku gak akan paksa kamu lagi seperti dulu," ujar Haidar.


Yumna mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan apa yang Haidar maksud.


"Memaksa seperti dulu? Yang mana?" tanya Yumna.

__ADS_1


"Soal hubungan kita. Jika dulu kamu terpaksa mengakui pernikahan yang pura-pura, maka aku juga gak kan keberatan untuk berpura-pura menjadi teman kamu dulu sekarang ini."


Yumna menatap perih pada mantan suami. Tangan haidar yang hangat memegang erat tangan Yumna yang masih menempel di dadanya.


"Maafkan aku Haidar, aku gak tau apakah Mama dan Papa akan setuju dengan hubungan ini atau tidak. Aku belum tahu dan ngerasa takut kalau Mama dan Papa gak setuju," ujar Yumna. Dia merasa panas di matanya untuk hal yang belum pasti. Hanya pemikirannya tentang masa lalu saat Bima marah dan menyuruhnya untuk tidak kembali dekat dengan Haidar, membuat Yumna sekarang ini merasa takut dengan hubungan mereka.


"Aku ngerti," ucap Haidar dengan nada lesu.


"Semua terjadi karena kesalahan kita. Kita sudah menipu kedua orang tua kita. Wajar saja kalau Mama Lily dan Papa Bima gak merestui kita kembali bersama. Aku yang mereka harapkan untuk menjaga kamu, nyatanya sudah mengecewakan mereka," ujar Haidar. Yumna mengangguk setuju.


"Kita berdua yang sudah mengecewakan orang tua masing-masing," ucap Yumna. Haidar kembali melirik ke arah Yumna lalu tersenyum.


"Lapar tidak?" tanya Haidar mengalihkan pembicaraan mereka.


"Lapar," jawab Yumna.


"Oke, kita cari makan." Haidar kembali fokus pada setirnya.


"Haidar!" panggil Yumna.

__ADS_1


"Ya?"


"Lebih baik kamu lepaskan tangan aku, kamu gak akan bisa menyetir dengan baik kalau sambil pegang tangan aku," ucap Yumna dengan malu.


Haidar yang sadar dengan tangan Yumna yang ada di dadanya kini segera melepaskan tangan itu dan tersenyum malu.


"Aku lupa, hehe."


Yumna pun sama malunya mendapatkan perlakuan haidar yang seperti itu. Dia kini merasa panas pada wajahnya.


Mobil itu terus saja melaju dengan kecepatan konstan. haidar sangat hati-hati membawa kendaraannya, tak ingin terjadi suatu hal yang tak diinginkan, mengingat kecelakaan yang dulu pernah menimpanya.


"Kita makan dimana?"


"Terserah kamu saja."


"Em ... aku ada satu tempat yang lumayan enak sih, tapi gak tau kamu mau atau tidak kalau makan disana," ucap Haidar.


"Kenapa kamu pikir aku tidak mau?" tanya Yumna bingung.

__ADS_1


"Ini bukan restoran atau cafe, tapi lapak di pinggir jalan."


Yumna tersenyum mendengar penjelasan Haidar. "Aku gak masalah makan di tempat seperti itu," ucap Yumna.


__ADS_2