
Haidar mengusap wajahnya kasar. Tidak menyangka kalau ternyata Yumna sudah mendaftarkan perceraian mereka.
Dadanya kembang kempis, nafasnya terasa sesak. Fikirannya juga buntu. Niat tadi ingin menelfon Vio ia urungkan. Dia terlalu emosi sekarang.
Pintu di ketuk dari luar, tak lama Nita masuk dengan nampan di tangannya.
"Ini kopinya, Pak." Dia simpan kopi itu di atas meja di hadapan Haidar.
"Jam berapa kita meeting? Undur di jam dua. Saya ada perlu!" ucap Haidar lalu bangkit dan pergi dari sana.
Nita menatap punggung bosnya yang kini sudah menghilang di balik pintu. Dia menatap nanar pada kopi yang kini ada di atas meja yang bahkan belum tersentuh sama sekali. Kepalanya serasa berdenyut. Dia harus bersiap dengan omelan dari klien tentang bosnya yang seenaknya ini mengubah jadwal.
"Ya Rabbi.. Apa salah dan dosaku. Berilah bosku hidayah.." doa Nita dalam hati sambil mengelus dadanya.
***
Haidar memukul kemudi dengan kasar, tak ia pedulikan dengan tangannya yang sakit. Dadanya terasa sakit sekarang. Serasa di cubit atau apalah, dia juga tidak mengerti.
"Arrggghhtt.... Siall....!!!" mencoba untuk menerima dengan pernikahan pura-pura yang memang harus mereka akhiri tapi dia merasa ada yang salah dengan dirinya.
"Gak mungkin... Gue suka Vio, bukan Yumna!" teriak Haidar frustasi.
Haidar membelokkan mobilnya ke arah sebuah apartemen. Dia butuh ketenangan sekarang.
Menjelang jam dua siang, Haidar kembali ke kantor. Nita hanya memandang malas bosnya ini tapi dia harus tetap memasang wajah senyumnya. Senyum kepalsuan.
Malas sebenanya tapi bagaimana lagi? Dia bos. Bos Maha Benar! Akhh rasanya ingin jadi orang kaya tidak perlu kerja jadi sekretaris dan yang pasti tidak akan bertemu dengan bos semacam pria ini.
Aku kangen Pak Arya! Huu....
__ADS_1
"Semua sudah siap untuk meeting, Pak." Ucap Nita yang kini ada di hadapan bosnya. Dia melirik sebentar. Wajah si bos sudah mendingan terlihat tidak begitu garang, tidak seperti tadi pagi saat dia mengantarkan kopi.
"Hemmm...." Haidar berdiri dan Nita mengikuti dari belakang.
Mudah-mudahan dia tidak marah-marah saat meeting nanti.
...***...
Yumna berbaring di atas kasurnya, dia menatap kertas yang kini ada di tangannya, lalu ia simpan lagi di atas nakas.
Keputusannya sudah bulat. Tentu saja. Dia ingin fokus pada karirnya sekarang. Apalagi papa Bima ingin dia mengurus perusahaan.
"Oke! Memang kenapa kalau aku janda?" Toh banyak di luar sana dengan status seperti itu." ucap Yumna pada dirinya sendiri. Dia bodoh, dari awal tidak memikirkan konsekuensi dari perbuatannya.
Pintu di ketuk dari luar. Yumna bangkit dan membuka pintu. Mama dengan senyum khasnya mengajak Yumna untuk makan siang. Setelah pulang dari pengadilan agama Yumna memang langsung naik ke lantai atas.
"Yumna. Boleh mama tanya sesuatu?" tanya Lily akhirnya.
"Hem? Apa, Ma?" tanya Yumna, dia memasukkan sedikit makanan ke dalam mulutnya.
"Kamu yakin degan perceraian kalian, Nak?" tanya mama.
Yumna berhenti mengunyah. "Tentu saja aku yakin, Ma."
"Mama lihat kamu sepertinya tidak rela dengan perceraian ini."
"Maksud Mama?" Yumna menatap mama tak mengerti.
"Bilang sama Mama, kamu suka dengan Haidar? Cinta sama dia?" Lily begitu penasaran meski putrinya dulu mengatakan tidak.
__ADS_1
"Ah Mama bicara apa sih? Yumna gak suka sama dia. Gak cinta. Yumna kan udah pernah bilang sama Mama kalau ...."
"Yang Mama lihat sekarang kamu sepertinya suka sama dia." potong mama menatap tajam putrinya.
Yumna terdiam, lalu tertawa mendecih.
"Aku gak mungkin suka sama dia Ma. Dia saja sudah punya cewek lain."
"Tapi bukan berarti kamu gak suka sama dia, kan?" tanya mama mendesak.
Yumna terdiam lagi. Entahlah.... Hanya yang Yumna rasa ada sedikit rasa tidak rela. Mungkin saja karena statusnya nanti.
Yumna menggelengkan kepalanya.
Tapi Lily masih belum yakin.
"Sayang dengar Mama. Coba kamu fikirin lagi. Coba kamu tanya sama hati kamu sendiri apa yang kamu rasakan sama Haidar. Jangan sampai kalian menyesal nanti."
"Mama bicara apa sih? Yumna gak suka sama dia Ma. Lagipula dia itu sudah punya pacar. Gak mungkin banget dia suka sama Yumna. Udah deh Ma. Gak usah bahas itu." ucap Yumna kesal.
"Mama hanya mau mengingatkan saja. Kalian belum resmi bercerai. Jangan sampai kalian menyesal pada akhirnya." ucap Lily dia lalu bangkit dan membawa piring kotor bekasnya makan dan mencucinya di wastafel.
Yumna terdiam. Tidak mungkin dia suka dengan Haidar.
"Mama ke kamar dulu ya. Mama cuma ingin kamu fikirkan baik-baik sebelum putusan akhir pengadilan. Jangan sampai kamu menyesal seperti mama dulu." ucap Lily lalu pergi dari sana.
Yumna menatap Lily yang kini masuk ke dalam kamarnya.
Apa maksud perkataan mama? Apa yang sudah terjadi pada Mama dulu?
__ADS_1