
Tengah malam Haidar belum juga tidur, dia tengah menonton video bagaimana cara membuat acara ulang tahun Yumna yang berkesan dan juga kejutan untuk keluarga besarnya. Tentunya mami dan papinya juga akan ada di sana.
Hampir dua jam dia mencari, setiap video tak luput dari perhatianya. Akan tetapi, rasanya malah membuat bingung saja.
"Kamu lagi apa? Belum tidur?" tanya Yumna yang baru saja terbangun karena Haidar bergerak membenarkan bantalnya. Segera Haidar menyimpan benda pipih itu dan menyimpannya di atas nakas.
"Nggak lagi apa-apa," jawab Haidar.
"Cari cara buat kasih kejutan sama keluarga kita kah?" tanya Yumna. Haidar terkekeh pelan, berbaring di samping istrinya dan memeluk Yumna dengan erat.
"Kok tau?" tanya Haidar. Yumna hanya tersenyum dan menyembunyikan wajahnya pada leher sang suami.
"Tau lah, kan tadi kita sudah bahas ini, dan aku yakin kalau kamu pasti cari cara buat kasih kejutan berkesan untuk keluarga kita, kan?" tanya Yumna lagi.
"Iya. Aku ingin untuk anak-anak kita ini, kasih kejutan yang baik kepada keluarga kita, kalau bisa sih yang berkesan dan nggak akan mudah untuk dilupakan," jawab Haidar.
"Iya. Tapi sekarang lebih baik tidur saja. Ini sudah malam dan kamu butuh istirahat. Besok kan kerja."
Mendengar kata kerja membuat Haidar terpaku sejenak. "Oh ya, ngomong-ngomong masalah kerja, kamu mau resign kan?" tanya Haidar penuh harap, seperti apa yang Yumna katakan dulu jika dia akan berhenti jika mengandung.
"Iya, tapi aku pikir minggu depan."
"Kenapa harus minggu depan?" tanya Haidar dengan nada sedikit protes.
__ADS_1
"Karena minggu depan aku gajian," ucap Yumna sekenanya. Haidar merasa sebal mendengar jawaban tersebut, dia kira perusahaan mendapatkan proyek besar sehingga Yumna mengatakan akan resign minggu depan.
"Aku bisa kasih kamu gaji lebih cepet tanpa kamu harus nunggu minggu depan. Kamu mau berapa? Seratus juta? Lima ratus juta?" tanya Haidar sebal.
Yumna sadar dengan nada suara suaminya itu, dia hanya terkekeh pelan. "Ih, kamu marah. Aku pengen gajian terakhirku lah. Tanggung seminggu lagi, Haidar. Lagian aku juga harus bilang tuh sama HRD, harus pamitan juga sama yang lainnya."
Haidar kini pasrah dengan keinginan Yumna, hanya seminggu tidak lama juga, lima hari kerja.
"Janji satu minggu ya?" tunjuknya ke arah hidung mancung sang istri.
"Iya, satu minggu, nggak lebih. Tapi, kayaknya aku mau minta uang buat bayar pinalti deh. Kan kontrakku dua tahun sedangkan aku kerja juga belum sampai satu tahun."
Haidar menghela napas berat. "Lagian heran, kenapa juga harus ada kontrak dua tahun, di perusahaan lain saja nggak pake kontrak kerja dua tahun deh," ujar Haidar. Yumna mengangkat bahunya.
"Ooh, iya sih. Emang kalau keluar masuk gitu sulit buat kita mulai lagi, apalagi ajarin anak baru. Tapi kalau keluar masuk yang lain nggak perlu diajarin," ucap Haidar sambil terkekeh dan mencium ujung hidung istrinya. Yumna sampai mengerutkan keningnya mendengar Haidar mengatakan kalimat ambigu seperti itu.
"Eh, bahas apa ini? Kok sampai ke sana?" ucap Yumna sama tertawa kecil dan memukul dada Haidar dengan cukup keras.
"Bahas yang lain lah, yang keluar masuk nggak pake aturan," jawab Haidar lagi. Dekat dengan Yumna membuat dia ingin sekali bercinta lagi dan lagi, tapi kali ini dia harus menahan diri agar tidak menyakiti anak yang ada di dalam kandungan Yumna.
"Ih, kamu ini. Jangan bahas itu, nanti kalau kamu pengen bisa repot lagi," ujar Yumna. Haidar memeluk Yumna dan mencium puncak kepalanya dengan gemas.
"Tiga bulan itu lama, Yumna. Aku harus puasa lama banget deh. Kasihannya aku," ujar Haidar dengan nada yang dibuat sedih.
__ADS_1
Yumna tertawa lagi, tidak bisa dibayangkan jika Haidar berpuasa selama itu, padahal jika hari biasanya paling lama hanya tiga hari atau satu minggu jika Yumna mendapati tamu bulanannya. Bahkan, kali ini dia tahu jika sekarang Haidar tengah menahan dirinya sendiri. Sesuatu yang ada di bawah sudah mengeras.
"Mau aku bantu biar nggak puasa?" tanya Yumna yang membuat Haidar bingung. Tiba-tiba saja tanpa aba-aba dan juga izin darinya Yumna memasukkan tangannya ke dalam celana Haidar dan memijat benda yang sudah mengeras itu.
"Yumna," suara Haidar tertahan akan perlakuan dari istrinya itu. Yumna tidak berbicara sama sekali, hanya tersenyum dan menatap sang suami yang tengah menikmati perlakuan darinya. Perlahan Haidar melepas pelukannya dan berbaring pasrah. Yumna semakin tersenyum lebar dan beralih menempatkan kepalanya di atas dada Haidar, merasakan detak jantung sang suami yang kini terdengar berdetak dengan sangat cepat sekali.
Suara Haidar terdengar menahan, sesekali kakinya bergerak tidak karuan, tangan besar itu mengusap rambut Yumna dan menciumnya.
Yumna merasakan ada kesenangan tersendiri saat melakukan hal tersebut, hingga rasanya dia pun ingin sekali.
"Yumna." Haidar terkejut saat mendapati istrinya yang kini naik ke atas tubuhnya. "Kamu ngapain?" tanya Haidar lagi.
Yumna tersenyum malu, lalu menunduk dan mencium singkat bibir suaminya. "Kalau pelan-pelan masih boleh kan ya?" tanya Yumna setengah berbisik.
"Tapi ...."
"Biar aku yang bergerak, aku tau sejauh mana harus gerak," ucap Yumna, lalu tanpa bicara lagi dia mulai melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.
Di sepanjang kelakuan sang istri yang bergerak di atas tubuh kekarnya, di atas sesuatu yang tegak lurus dan menantang, Haidar hanya pasrah dan tidak banyak protes lagi. Siapa yang akan protes jika diberi kenikmatan surgawi seperti itu?
Haidar hanya diam, menikmati miliknya yang keluar masuk karena gerakan tubuh istrinya itu. Dia sedikit khawatir, tapi percayakan saja kepada Yumna, dia yang tahu sejauh mana baik buruknya dalam bergerak.
"Jangan terlalu kencang, Sayang. Ingat, baby," peringat Haidar. Yumna tersenyum dan mengangguk, tapi tidak menghentikan gerakan pinggulnya yang bergoyang dengan indah.
__ADS_1