YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
95. Kedatangan Papa Bima.


__ADS_3

"Pagi, Pak!" Tina menyapa Haidar yang baru saja datang.


"Hemm!" hanya itu jawaban dari Haidar sebelum menghilang di balik pintu ruangan kantornya. Tina memutar bola mata malas. Atasannya itu sedang dalam mode menyebalkan.


'Bagaimana ini, ada beberapa meeting hari ini. Si bos sepertinya sedang bete lagi!' Tina merasa bingung. Jangan sampai bosnya membatalkan dan mengubah jadwal seenaknya. Bisa repot dia! Yaaa... meskipun memang itu adalah resiko pekerjaannya!


Kemarin Haidar tidak datang dan sulit di hubungi hingga dia kelabakan dengan jadwal pertemuan dengan klien. Sungguh menyebalkan saat dirinya sibuk, dia masih juga harus menjawab telfon dan juga menerima tekanan dari luar.


Mana Pak Haidar?


Memangnya hanya dia yang sibuk.


Saya tidak punya waktu besok.


Dan banyak lagi keluhan yang harus ia dengar dan ia jawab dengan nada merendah.


'Aku sudah menyelamatkanmu beberapa kali!' ingin berteriak tapi pada siapa? Tembok?!


Di luar cuaca sangat cerah, tapi lagi-lagi tak secerah hati pemuda yang sedang galau itu. Tamparan mami, tidak ada Yumna yang bawel, dan Vio yang sulit di temui. Ahhh.... Ada apa denganku? Kenapa semua jadi kacau? batinnya.


Tok. Tok. Tok.


Pintu kemudian terbuka. Tina masuk ke dalam ruangan.


"Pak. Maaf. Di luar ada Pak Bima ingin bertemu." ucap Tina. Haidar memutar kepalanya dan berbalik ke arah Tina.


"Kenapa tidak di suruh masuk?" tanya Haidar lalu meninggalkan jendela.


"Saya kan mau ta...."


"Kamu itu kan sekretaris saya. Harusnya kamu tahu siapa yang boleh langsung masuk dan tidak!" bentak Haidar memotong ucapan Tina.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Saya kira ba..."


"Cepat bukan pintu!" membentak lagi.


Tina ingin mengelus dada. Masih pagi dan dia sudah kena skak dari atasannya.


Tina pergi setengah berlari ke arah pintu dan membukakan pintu untuk Bima. Di belakangnya Haidar mengikuti untuk menyambut kedatangan ayah mertuanya.


Tina pamit kepada keduanya untuk kembali keluar guna membuatkan minuman.


“Papa!” Haidar menyambut tangan Papa Bima dan menciumnya takzim.


“Ayo masuk Pa, silakan duduk. Haidar menunjuk sofa dengan sopan kepada Bima


Tanpa banyak bicara Bima pun duduk.


Haidar merasa dag dig dug jantungnya. Tidak biasanya Papa Bima datang ke kantor. Dia tahu pasti, ini pasti urusan soal Yumna.


“Saya tidak akan banyak basa-basi.” suara Bima terdengar dingin. Dia mengeluarkan sebuah kertas dari sakunya.


Lalu dia teringat, mungkinkah mama? Mama yang terakhir kali membaca ini sebelum dia pergi. Ah, sial. Bagaimana aku akan bicara dengan Yumna untuk membawanya pulang . Papa Bima pasti marah. Lihat saja wajahnya yang biasanya teduh, kali ini datar dan terlihat suram.


Bima duduk bersandar di sofa. Kakinya dia silang kan di atas kaki yang lain. Kedua tangan yang ber tautan di atas pangkuan ya.


“Saya sudah dengar dari Yumna. Pernikahan kalian ini palsu.”


Haidar terdiam, suara dingin papa Bima membekukan nya. Apa saja yang Yumna sudah katakan?


”Saya tidak akan hanya menyalahkan kamu. Dalam hal ini Yumna juga terlibat.”


“Mungkin kalian melakukan pernikahan ini dengan kesepakatan, tapi bukan berarti kalau saya akan tinggal diam jika ada yang terjadi sesuatu dengan Yumna.”

__ADS_1


Sesuatu?


Haida terdiam. Sesuatu apa?


Papa Bima jelas sedang mengancamnya.


“Aku benar-benar minta maaf Pa. Aku tidak berfikiran jauh.” sesal Haidar.


“Apa ada alasan lain selain tidak ingin dijodohkan?” tanya Bima akhirnya. Dia ingin tahu apa alasan Haidar melakukan pernikahan ini bersama Yumna.


“Aku...”


Haruskah aku bilang pada papa?' batin Haidar.


Bima menunggu penjelasan dari Haidar. Entahlah apakah dia harus marah atau tidak jika mendengarnya. Jelas-jelas bukan hanya pria ini yang salah tapi putrinya juga. Mereka sudah dewasa. Dia harus bersikap bijaksana.


Bima menatap Haidar dengan tajam, membuat pria itu mengkerut di tempatnya.


“Aku akan jujur pada Papa. Aku suka orang lain.” akhirnya Haidar berkata dengan mantap.


Bima menghela nafasnya berat. Sudah tia duga. Kasus Haidar hampir mirip seperti dirinya dulu. Bedanya Dena menyuruhnya untuk menikahi Lily, sedangkan Yumna menikah karena tidak mau dijodohkan.


Bima bangkit dari duduknya. Dia merapikan jasnya.


“Selesaikan.” ucap Bima semakin dingin. Dia menatap Haidar yang hanya menunduk.


“Datanglah ke rumah, dan serahkan Yumna baik-baik seperti saat dulu kalian meminta Yumna dengan baik-baik.” ucap Bima.


Haidar terdiam. Mendengar hal itu hatinya merasa tidak nyaman, seperti tertusuk dan kemudian berlubang. Sakit.


Tanpa berkata lagi Bima melangkah pergi dari sana. Hatinya terasa sakit. Bima sudah membuat keputusan. Yumna akan lebih baik jika kembali bersamanya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Semua yang terjadi karena keinginan mereka berdua. Mereka sudah dewasa dan sadar ketika melakukan hal itu.

__ADS_1


Haidar menatap nanar pada pintu yang baru saja dilewati Bima. Perkataan pria itu, membuat Haidar merasakan hal yang aneh di dalam hatinya. Dia menghempaskan kasar punggungnya pada sofa.


'Ada apa dengan diriku? Tidak mungkin. Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan yumna.' gumam haidar mengusap wajahnya kasar.


__ADS_2