
"Ha-hamil?" tanya Haidar melongo. Pak Dani menganggukkan kepalanya.
"Iya, hamil? Mbak Yumna biasanya juga nggak pernah kayak gitu. Mungkin nggak sih? Aneh kan Mbak Yumna yang biasanya cuek, dewasa, tegar. sekarang kok nangisan?" tanya Pak Dani lagi. Haidar terdiam mendengar ucapan Pak Dani, dia hanya melihat laki-laki itu pergi ke arah dapur.
Haidar segera menyusul Pak Dani untuk bertanya lebih lanjut, beliau lebih berpengalaman dan sepertinya tahu banyak soal ini.
"Sebentar, Pak. Apa Bapak yakin kalau Yumna hamil?" tanya Haidar, Pak Dani mencuci piring bekasnya makan.
"Nggak tau juga sih, tapi feeling doang, Mas. Coba Mas Haidar pikirin deh, kapan Mbak Yumna kayak gitu?" ujar Pak Dani lagi. Haidar memikirkan hal tersebut.
"Iya, sih. Benar juga. Tapi, Yumna kan memang nggak suka kalau kita bohong. Dulu waktu saya bilang soal masakan dia juga nangis," terang Haidar mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
"Tapi kan nggak seperti ini, kan? Nangisnya cuma diem aja dan berurai air mata?" tanya Pak Dani lagi. Haidar menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang Pak Dani katakan barusan.
"Soalnya dulu waktu istri saya hamil anak kedua juga gitu, marah-marah nggak jelas. Ini salah, itu salah. Untung aja selanjutnya saya ada panggilan kerja dari yayasan. Maaf nih, ya. Bukannya saya nggak mau ngurusin istri yang lagi hamil. Saya sayang, tapi kadang lelah juga sih karena nggak tau apa-apa tiba-tiba aja istri manyun nggak jelas, ngomel nggak jelas, nangis tanpa sebab," ucap Pak Dani panjang kali lebar. Haidar menganggukkan kepalanya dengan pelan. Semua itu bisa saja terjadi. Dia harus memberitahukan ini kepada Yumna.
Sementara itu di dalam kamar, Yumna tengah menangis tersedu sambil memeluk bantal guling. Dia sangat kecewa sekali karena Haidar berbohong kepadanya. Memang dia juga yang salah karena tadi tidak mencicipi masakan tersebut, tapi kenapa harus dimakan sampai habis juga jika memang itu tidak layak untuk dimakan?
"Maaf, Haidar. Maaf," ucap Yumna sambil terisak dengan pelan. Yumna pun tersadar saat tadi mengingat Haidar memakan semuanya hingga habis, laki-laki itu tidak ingin membuat dirinya merasakan makanan tersebut.
Suara pintu terdengar diketuk dari luar, selanjutnya terdengar pula suara Haidar yang memanggil namanya.
"Sayang. Aku minta maaf. Bukain dong pintunya," ucap Haidar sedikit lebih keras dari luaran sana. Haidar terus mengetuk pintunya lagi, ternyata tidak terkunci sama sekali. Dia masuk ke dalam kamar dan mendapati Yumna yang kini beranjak duduk ketika melihat dirinya masuk.
"Haidar!" teriak Yumna sambil memeluk Haidar saat dia duduk di sampingnya. Yumna terisak dan tidak bisa menghentikannya sama sekali. "Aku minta maaf."
Haidar melihat sifat Yumna yang benar-benar beda, kali ini dia tidak khawatir lagi karena apa yang dikatakan oleh Pak Dani bisa saja mungkin terjadi pada istrinya itu.
__ADS_1
"Kamu kenapa juga nggak bilang? Kalau nggak enak harusnya jangan dimakan
"Nggak apa-apa. Aku nggak masalah, kok. Jangan kamu minta maaf, justru aku yang harusnya minta maaf karena tadi aku nggak bilang. Aku cuma nggak mau kamu sedih sama masakan itu," ucap Haidar lagi. Yumna menganggukkan kepalanya. Haidar tidak jahat, hanya sedang menjaga perasaannya saja.
Haidar melirik ke arah istrinya yang masih sesenggukan menangis di pelukannya.
"Sayang, kita ke dokter yuk," ajak Haidar. Mendengar itu Yumna sontak mengangkat kepalanya dengan cepat dan menatap Haidar.
"Ka-kamu sakit perut?" tanya Yumna khawatir. Haidar menggelengkan kepalanya pelan.
"Nggak, buat periksain kamu," jawab Haidar lalu tanpa Yumna berbicara dia menarik tangan istrinya itu untuk pergi dari sana.
"Eh, periksa apa?" tanya Yumna saat mereka menuruni anak tangga dan menuju ke mobil yang terparkir.
"Sudah, ikut aja." Yumna menurut apa kata Haidar, dia masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman dengan baik.
Haidar mulai menjalankan mobilnya, sedangkan Pak Dani membukakan pintu gerbang. "Semoga benar, Mas Haidar. Hati-hati di jalan, jangan ngebut," ucap Pak Dani sambil melambaikan tangannya.
"Siap, Pak!" teriak Haidar. Yumna yang melihat interaksi Haidar dan Pak Dani menjadi bingung.
"Benar apanya?" tanya Yumna saat kendaraan sudah melaju menjauh dari rumah itu.
"Nggak ada apa-apa. Cuma bahasan antar lelaki aja," ucap Haidar lalu kembali fokus ke jalanan yang ada di depannya.
"Sebenarnya apa yang mau kita lakuin sih? Periksain aku karena apa juga?" tanya Yumna dengan bingung, rasanya dia tidak sakit dan tidak butuh untuk bertemu dengan dokter.
"Nggak apa-apa. Aku cuma ...." Haidar terdiam, memilih untuk berhenti sejenak di tepi jalanan yang dirasa sepi. Yumna sedikit bingung dengan apa yang terjadi, seharusnya yang diperiksa itu kan Haidar.
__ADS_1
"Sayang. Aku curiga sama sesuatu, deh," ujar Haidar
"Curiga apa?" Yumna bertanya semakin bingung.
"Anu ... mungkin nggak sih kalau kamu hamil?" tanya Haidar menatap sang istri, pertanyaan Haidar membuat Yumna terdiam membeku.
"Aku hamil?" Yumna balik bertanya.
Haidar menjadi bingung, ini hanya dugaan saja di antara dia dan juga Pak Dani. Bagaimana kalau dirinya salah dan malah membuat Yumna menjadi sedih?
"Em, gini sih. Aduh. Aku bingung harus bicara dari mana, ya?" Haidar menggaruk belakang telinganya, melirik wajah sang istri yang tiba-tiba saja diam.
"Itu, ini hanya dugaan Pak Dani aja sih. Lihat tadi kamu nangis dan teriak, jadi bikin Pak Dani yakin kalau kamu ...." Haidar lagi-lagi terdiam. Rasanya tidak tega jika dia melanjutkan ucapannya, seakan membiarkan Yumna berharap akan sesuatu yang belum pasti.
"Apa kamu sama Pak Dani mikir aku lagi hamil?" tanya Yumna pelan. Haidar memilih mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Itu masih dugaan, lihat tadi kamu seperti itu. Tapi ... kalau kamu nggak mau, kita pulang aja lagi," ucap Haidar.
Yumna hanya diam sejenak. Lagi-lagi soal anak. Apakah mungkin Haidar sudah tidak bisa lagi menunggu soal anak ini? Apakah dia sudah mulai mempermasalahkan anak seperti yang lainnya?
"Kita pulang aja," ucap Haidar setelah melihat wajah istrinya yang suram.
"Nggak, kita lanjut aja ke klinik, atau ke rumah sakit sekalian," ucap Yumna memegang tangan Haidar di atas kemudi. Haidar menatap Yumna tidak percaya.
"Ha?" Haidar melongo mendengar ucapan sang istri.
"Kita ke rumah sakit. Untuk membuktikan kalau aku hamil atau tidak. Kamu sudah pengen anak kan?" ujar Yumna. Nada suaranya sedikit dingin di telinga Haidar.
__ADS_1
"Eh, nggak jadi lah. Kalau kamu nggak mau nggak usah juga." Haidar tidak mau memaksakan, daripada mood Yumna kembali memburuk dan membuat dirinya merasa bersalah semakin dalam. Melihat wajah yang suram itu saja rasanya Haidar seperti telah melakukan sebuah kejahatan kepada sang istri.