YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
196. Aku Tidak Akan Menyerah


__ADS_3

"Yumna, kalau aku ingin memperjuangkan kamu, dan aku ingin membawa kamu kembali ke rumahku, apa kamu mau?" tanya Haidar yang membuat Yumna menoleh ke arahnya.


Yumna cukup terkejut dengan apa yang Haidar katakan barusan. Dia tidak menyangka akan begitu cepat mendapatkan ucapan yang seperti ini dari Haidar.


"Hah?" Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Yumna. Dia terpaku hingga kini rasanya lehernya itu menjadi kaku dan tidak bisa kembali dia alihkan ke arah lain.


"Aku tidak akan basa-basi atau malu lagi, kita pernah hidup bersama dalam satu atap. Meski tidak lama, tapi aku ingin merasakan hal seperti itu lagi, tentunya bukan untuk waktu satu tahun atau waktu yang singkat. Dan bukan karena perjanjian apapun, tapi benar-benar karena inginku, karena keinginan kita, karena kita berdua punya perasaan yang sama dan keinginan yang sama. Apa kamu sama dengan aku, punya pemikiran seperti itu?" tanya Haidar pada Yumna. Kini Haidar menoleh sekilas pada Yumna yang duduk di sampingnya. Dia tersenyum ketika melihat wajah wanita itu yang tampak bingung. Tangan Haidar tak lepas dari setir yang dia genggam, lalu kembali fokus pada jalanan.


Salahnya. Dia mengatakan hal itu kenapa saat masih berkendara?

__ADS_1


Jadi gak bisa main romantis-romantisan deh, rutuk Haidar dalam hati. Haidar terkekeh pelan.


"Maaf, harusnya aku merangkai kata seperti ini di tempat yang tepat. Kenapa aku gak sabaran malah mengatakan hal sepenting ini disini," ujar Haidar dengan malu. Haidar menjadi tidak enak hati dengan apa yang dia katakan tadi. Belum tentu jika Yumna juga punya pemikiran yang sama. Apa dia terlalu kepedean mengatakan hal itu?


Yumna menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu harus menjawab apa, tiba-tiba teringat dengan masa lalu saat Papa Bima dan Mama Lily marah terhadapnya dengan pernikahan mereka yang seperti itu. Lantas? Apakah nantinya mereka akan memberikannya izin terhadapnya kembali pada Haidar? Apakah mereka akan kembali mempercayai jika hubungan mereka sampai pada tahap pernikahan lagi?


"Haidar. Kalau kamu benar-benar mau berjuang untuk aku, apa kamu bersedia melewati apapun yang akan menghadapi kita di depan nanti?" tanya Yumna pada Haidar. Pria itu mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Yumna. Dia tidak bisa berkonsentrasi menyetir akhirnya menepikan mobil di jalanan yang sepi.


Yumna yang sadar dengan tatapan itu memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia takut sekali. Takut jika pandangan itu akan melelehkan dirinya.

__ADS_1


"Yumna," panggil Haidar kepada Yumna.


"Kali ini biarkan aku untuk berjuang dengan rasa ini. Jika kamu izinkan, aku ingin bertemu dengan mama dan papa kamu, untuk meminta izin kepada mereka supaya mereka memberikan restu untuk kita bersama. Itupun jika kamu mau tentunya. Aku enggak akan memaksa kamu kalau tidak mau," ujar Haidar.


Jujur saja selama ini tidak pernah memikirkan perasaan Yumna. Dulu dia terlalu abai dengan wanita ini. Akan tetapi, kali ini dia tidak ingin melakukan hal seperti itu lagi. Cukup sekali dia abai dengan Yumna dan perasaannya.


Yumna semakin menundukkan kepalanya mendengar ucapan Haidar. Bukan dia tidak senang, dia sangat senang sekali mendengar ucapan itu, tapi dia juga kini menjadi takut.


Haidar tahu akan raut wajah itu. dia melihat ketakutan di wajah yumna. Diraihnya tangan Yumna dan menyingkirkan bunga yang dia berikan tadi ke atas dashboard. Yumna tersentak dengan perlakuan Haidar. Dadanya kini berdetak dengan sangat cepat hingga membuat sesuatu berloncatan di dalam sana

__ADS_1


"Aku tidak akan menyerah!"


__ADS_2