YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
184. Jangan Bunuh Diri, Haidar!


__ADS_3

Keadaan Haidar kini telah membaik, dengan melakukan beberapa therapy akhirnya membuat Haidar bisa berjalan dengan lebih baik tanpa menggunakan tongkat.


Haidar sedang berada di depan jendela, menatap deretan gedung yang ada di depannya itu. Tinggi menjulang menantang langit. Cahaya matahari yang terik tidak dia hiraukan masuk ke dalam matanya. Haidar masih saja menatap ke arah luar.


Dalam bayangannya saat ini, masih teringat bagaimana Yumna menangis di depannya malam itu. Dia baru sadar saat Mami Mitha memarahinya karena apa yang dia bicarakan, baru terpikir jika memang rasanya dia salah dan juga kejam mengatakan hal itu kepada Yumna.


"Hah, kalau saja aku gak bicara seperti itu sama dia," gumam Haidar. Dia mencengkeram tepian jendela dengan erat, kini menatap ke arah bawah di mana banyak sekali manusia dan juga kendaraan yang terus saja bergerak seperti semut, kecil sekali. Angin yang berhembus dari luar sana membuat rambut Haidar bergerak-gerak menutupi keningnya.


Haidar melongokkan kepalanya ke arah bawah sehingga perutnya menempel pada tepian jendela. Dia menatap lebih rinci apa yang ada di bawah sana. Berpikir jika di antara manusia-manusia itu terdapat Yumna yang berdiri di depan sana sambil mendongakkan kepala, menatap ke arah jendela kantornya. Berharap dirinya untuk turun seperti dalam film-film yang ada di TV.


Haidar tertawa geli. Mana mungkin Yumna akan melakukan hal itu. Yumna sudah sangat marah terhadapnya, dan lagi wanita itu bukan orang sembarangan yang akan menunggu seorang laki-laki di bawah sana hanya untuk berharap dirinya turun. Yumna adalah wanita yang cantik dan juga menawan, di luar dari sikapnya yang kasar dan juga bar-bar. Dia juga putri pertama dari pria yang cukup berpengaruh di dunia bisnis, sudah pasti jika dirinya juga tidak akan dengan mudah begitu saja mengalah karena menyukainya. Ada banyak pria yang menunggu Yumna meski dengan status pernah menikah.


"Haidar! Apa yang kamu lakukan?!" seru suara seseorang yang terdengar di belakang Haidar. Dia menarik tubuh Haidar hingga menjauh dari jendela itu. Untung saja dia datang di saat yang tepat. Bagaimana jika anaknya ini nekat dan lalu terjun dari lantai ini. Sudah pasti jika dirinya akan kehilangan anak satu-satunya yang sering membuatnya kesal ini.


Haidar hampir saja terjengkang, untung saja kakinya sudah kuat untuk menahan berat tubuhnya. Dia tersentak saat melihat wajah sang mami yang kini menahan marah.


"Mami tau kamu ini frustasi karena Yumna marah sama kamu, tapi kamu gak boleh lakukan itu! Eling kamu, Haidar!" ucap Mami Mitha dengan marah. Dia tidak habis pikir dengan Haidar. Anaknya ini diberi apa oleh Yumna hingga tergila-gila dan ingin melakukan terjun bebas dari lantai ini.


"Eh, Mami. Ada ...."


"Kamu ini, jangan lah sampai seperti itu, Haidar! Kalau kamu gak bisa sama Yumna, kan masih ada yang lainnya. Masih banyak wanita lain yang bisa kamu belajar cintai. Mami yakin suatu saat nanti kamu akan menemukan seseorang yang sama atau lebih dari Yumna. Jangan kamu sampai seperti ini, mau bunuh diri segala! Kalau kamu gak ada Mami akan sama siapa?" teriak Mitha dengan kesal setengah menangis. Mitha memeluk Haidar dengan erat. Tidak ingin melepaskan Haidar lagi, takut jika Haidar akan nekat kembali ke tepi jendela dan lalu melompat dari sana.


Haidar tentu saja merasa bingung dengan apa yang dikatakan maminya itu. Keningnya mengerut hingga alisnya hampir saja menyatu.


"Kamu tega sama Mami? Kalau kamu gak ada, Mami akan sama siapa?" ulang Mitha sambil terisak.

__ADS_1


"Kamu itu kan belum menikah lagi, kalau kamu gak ada Mami gak akan ada temennya, Haidar! Mami belum punya menantu, Mami belum punya cucu. Mami akan sama siapa kalau kamu gak ada!" Mami kini terisak di dada Haidar.


Mendengar ucapan Mitha membuat Haidar kesal. Dirinya memang patah hati, tapi dia tidak akan melakukan hal nekat yang seperti itu juga.


"Mami itu ngomong apaan, sih? Siapa yang mau bunuh diri?" tanya Haidar seraya melepaskan pelukan Mitha darinya. Dia merasakan sesak napas karena perlakuan sang mami yang seperti itu padanya.


"Eh, kamu gak mau bunuh diri?" tanya mami dengan bingung. Mitha merenggangkan pelukannya dari Haidar.


"Mami jangan ngaco, deh! Gak ada yang mau bunuh diri," ucap Haidar lagi.


"Tapi itu tadi ... Kamu ... di jendela?" tanya Mitha pada Haidar seraya menunjuk pada Haidar dan juga jendela yang terbuka lebar.


"Ya ampun, Mi. Aku cuma cari angin sama lihat orang-orang di bawah itu. Kok jadi ngaco anaknya mau terjun!" seru Haidar dengan kesal.


"Mami kira tadi kamu mau bunuh diri," ucap Mitha lagi dengan malu. Dadanya tadi sudah berdetak dengan sangat cepat karena ketakutan akan kelakuan putranya ini.


Mitha mendekat dan memukul kepala Haidar dengan menggunakan tasnya. Haidar meringis kessakitan, tidak menyangka jika maminya itu akan melakukan hal yang seperti itu lagi padanya. Lagi-lagi kepalanya yang menjadi sasaran empuk dari keberingsan seorang ratu di dalam lingkup hidupnya.


"Jadi kalau Yumna bilang kamu harus lompat, kamu mau lompat begitu?" tanya Mitha dengan kesal.


"Ya, kan Haidar gak tau. Apa mungkin Yumna tega nyuruh aku buat lompat dari sini?" tanya Haidar balik pada Mitha.


"Kamu bicara begitu karena tau Yumna gak akan lakukan itu sama kamu, kan?" ucap Mitha dengan kesal. Mitha menggelengkan kepalanya saat melihat senyum meringis Haidar.


Ya, sudah pasti Yumna gak akan lakukan itu, karena wanita itu lemah, lembut dan juga baik.

__ADS_1


Mitha menjatuhkan bokongnya ke atas kursi. Tas yang dia bawa, dia simpan di atas meja.


"Mami ada apa kesini?" tanya Haidar pada Mitha.


"Gak ada sih, gak ada apa-apa. Mami cuma mau tengokin kamu aja. Tiba-tiba pengen kesini, gitu" Mitha tersenyum, membuat Haidar curiga dengan arti senyuman dari maminya itu.


"Mencurigakan! Gak biasanya!" desis Haidar dengan tatapan malas.


Mitha bersiap mengangkat tasnya lagi mendengar ucapan putranya itu.


"Kamu ini, Mami datang kesini apa tidak boleh?!" tanya Mitha kepada Haidar dengan geram. Haidar mengangkat tangannya, menutupi wajahnya yang bisa saja menjadi sasaran amukan sang mami.


"Ya boleh aja, tapi Mami kan biasanya ada niat terselubung kalau sampai datang kesini," ucap Haidar masih besembunyi dari balik lengannya.


"Gak ada. Turunin tangan kamu. Sini Mami bisikin," titah Mitha.


"Bisikin apa?" Haidar masih belum berani menurunkan tangannya itu. Enak saja, Mami itu penipu ulung minta diturunkan tangannya, nanti tahu-tahu tas dengan kuncian besi itu kembali membuat keningnya benjol.


"Gak mau! Aku gini aja!" seru Haidar.


Mitha berdecak dengan kesal melihat anaknya yang memang tidak pernah menurut ini. Dia menarik tangan Haidar dengan paksa hingga akhirnya setengah tubuh Haidar kini berada di atas meja.


Mitha mendekatkan dirinya ke arah Haidar dan mulai membisikkan sesuatu.


***

__ADS_1


Duh, bisikan apa tuh?


Mi, Aku mau dibisikin juga dong!


__ADS_2