
"Gue bingung, Bang. Apa perasaan gue ini ... perasaan cinta sama dia?" lirih Haidar masih menatap lamat foto Yumna yang hanya satu-satunya di hpnya. Menyesal sekali dia, tidak punya foto Yumna yang lain.
"Gue gak tahu. Itu kan perasaan elo! Elo rasa selama ini gimana sama dia? Kalau dibanding dengan Vio? Berat mana? Yumna, atau Vio?" tanya Ben.
Haidar mendelik kesal.
"Jangan ungkit dia lagi! Vio udah gak ada artinya buat gue!" ujar Haidar kesal.
"Dih... Dulu aja sampe segitunya elo lawan tante dan om gara-gara dia!"
"Itu dulu! Sebelum gue tahu kalau dia hianatin kepercayaan gue! Apalagi setelah kejadian malam itu!"
"Elo-nya aja yang b*go!" Ben menoyor kepala Haidar dengan kesal. "Gue dan Agnes kan udah bilang kalau Vio bukan cewek baik-baik. Elo-nya aja yang katarak! Mata elo ketutup belek. Dibilangin bengal banget. Telinga elo bersihin dong, biar elo sadar kalau yang orang lain bilang itu karena sayang sama elo! Bukannya..."
"Bang. Bisa gak sih elo hibur gue. Bukannya malah mojokin gue!" Haidar kesal. Mengusap kepalanya yang tadi di dorong kasar oleh telapak tangan Ben.
"Bukannya mojokin. Gue nasehatin. Biar elo gak nyasar lagi!" kesal Ben.
__ADS_1
Haidar mendelik tidak suka. Lalu berdiri
"Gue pulang lah. Disini juga apa, cuma di marahin doang! Kesel gue sama elo, Bang. Ini kepala di kasih fitrah tiap tahun!"
"Halaaahh. Fitrah tiap Tahun juga percuma. Fitrah kan buat bersihin diri, hati dan otak, lalu kemana itu semua selama ini?" tanya Ben.
Haidar tidak menjawab. Dia melengos pergi meninggalkan Ben yang masih tertawa terkekeh melihat wajah Haidar yang kesal.
Ben mengikuti Haidar dari belakang.
"Ngapain lo ikutin gue?" tanya Haidar masih kesal.
"Oh... gue kira mau tinggal dan cari cewek seksi!"
"Gila lo. Gak mau gue di gantung sama bini gue. Lagipula gue kan suami setia, dan soleh!"
"Sok alim! Dulu aja pacarnya kayak koloni semut. Kalau ada Agnes pada kabur mereka!"
__ADS_1
"Waaah jangan disamakan sama dulu, dong! Dulu kan gue masih single, masih lajang. Bebas dong punya pacar berapa aja!"
"Jiaahhh. Pacar cuma buat pelarian doang. Dasar playboy!" ucap Haidar, lalu berjalan mendekat ke arah mobilnya terparkir. Ben ikut membuka pintu yang lain dan duduk di kursi penumpang.
"Bang, apa gue harus nyusulin Yumna ke rumah orangtuanya?" tanya Haidar lagi. Tidak ada jawaban dari orang yang diajaknya bicara. Haidar menolehkan kepalanya. Ben sudah menutup matanya dengan sedikit suara kasar terdengar dari mulut.
"Yeee.... Dasar *****. Nempel dikit langsung molor!" kesal Haidar, lalu segera melajukan kendaraannya berbaur di tengah jalan.
Haidar menatap jam di pergelangan tangannya. Tengah malam sudah lewat, jarum jam menunjuk ke angka dua lebih. Pantas saja Ben sudah masuk ke alam mimpi.
Jalanan cukup tenang. Tidak banyak kendaraan yang melaju di jalan, tidak ada macet atau suara klakson yang bersahut-sahutan.
Mata Haidar fokus pada jalanan, tapi hati dan pikirannya terbang ke tempat nan jauh yang dia sendiri tidak tahu dimana.
Terlintas senyum dan tawa Yumna, lagi-lagi terbayang di pelupuk mata. Senyum nan manis itu seringkali mengganggu pikirannya.
Tin ... Tin ....
__ADS_1
Suara klakson berbunyi menyadarkan Haidar.
Terkejut dengan cahaya yang berasal tepat dari depan mobil mereka. Haidar lantas membanting setir ke arah lain.