
Bisma menyandarkan dirinya pada sandaran kursi. Jika saja mantan istrinya tidak mengatakan hal yang kemarin itu, tentu saja dirinya tidak akan mencari pasangan dadakan seperti ini.
"Aku bukannya gak bisa move on, tapi hanya beristirahat sebentar," gumam Bisma dengan pelan. Dia melihat ke arah luar di mana sudah tidak lagi menemukan mobil Yumna di sana.
"Kenapa dia tidak mau bantu juga sih? Kalau saja dia mau bantu tentu saja semua urusan kita akan lebih mudah," gumam Bisma kembali. Bisma kemudian beranjak pergi dari kafe tersebut. Dia kini memikirkan hal lain yang bisa membuatnya selamat dari perkataan pedas mantan istrinya besok.
Yumna kembali mengendarai mobilnya ke perusahaan. Teringat dengan kata-kata Bisma barusan. "Memangnya dia siapa? Seenaknya saja meminta tolong seperti itu. Memangnya aku ini apa?" gumam Yumna dengan kesal.
Sampai di perusahaannya dia bertemu dengan Bima untuk melaporkan apa yang terjadi di perusahaan milik Bisma tadi, tentunya yang dia bicarakan dengan ayahnya adalah soal pekerjaan bukan hal yang lain.
Bima menganggukan kepalanya seraya melihat berkas yang ada di tangan. Dia sungguh sangat puas dengan kinerja putrinya itu.
"Pa, aku ingin berhenti saja," ucap Yumna tiba-tiba membuat kening Bima mengerut.
"Berhenti?"
"Iya, Arkhan atau Azkhan yang lebih berhak untuk mengelola perusahaan ini," ucap Yumna kemudian.
__ADS_1
Bima menghembuskan nafasnya dan bersandar pada sandaran kursi.
"Ada apa?" tanya Bima seraya menatap putrinya.
"Tidak ada apa-apa. Yumna pikir rasanya capek, ingin istirahat saja," jawab Yumna lagi.
Bima menyidik wajah Yumna, putrinya terlihat sedikit resah memang terlihat lelah di raut wajahnya.
"Oke kamu boleh ambil cuti sampai kamu siap kembali ke perusahaan ini," ucap Bima pada akhirnya.
Bima menatap putrinya dengan diam, sedangkan jumlah yang sadar ditatap seperti itu oleh ayahnya kini menundukkan kepala. jujur saja dia takut jika Bima marah.
"Mau cerita?" tanya Bima sekali lagi. Dia yakin jika ada sesuatu yang membuat anaknya ini tidak nyaman.
"Aku cuma capek ingin istirahat aja," ungkap Yumna dengan tegas.
"Apa terjadi sesuatu?" desak Bima.
__ADS_1
Yumna kini menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu terjadi sesuatu untuk aku berhenti. Aku cuma pengen istirahat aja, Papa," ucap Yumna sekali lagi.
"Oke kalau itu yang kamu inginkan. Sebenarnya Papa sudah sangat bahagia sekali ada yang bisa membantu Papa di dalam perusahaan ini. Papa juga akan lebih tenang jika akan resign nantinya. Kamu sudah bisa mengelolanya dengan sangat baik selama ini." Mendengar ucapan papanya membuat Yumna menjadi merasa bersalah. Akan tetapi, raga dan jiwanya kini terasa lelah. banyak hal yang dia pikirkan.
"Apa kamu mau pulang sekarang?" tanya Bima pada akhirnya.
"Nanti aja sore bareng sama Papa," ucap Yumna.
"Oke, kalau laporan ini sudah selesai kembali saja ke ruangan. Nanti sore berikan laporan kepada sekretaris Papa," ucap Bima pada putrinya.
Yumna tersenyum senang dan menganggukkan kepalanya. Dia pikir akan sedikit sulit meminta berhenti dari sini, tapi ternyata Bima meluruskan keinginannya dengan mudah.
"Oh iya, Yumna," ucap Bima saat putrinya baru tiga kali melangkah.
"Ya?" tanya Yumna.
"Apa Haidar benar suka dan cinta sama kamu?" tanya Bima lagi. Yumna menatap ayahnya dengan kesal, sudah memberi tantangan, tapi belum yakin juga?
__ADS_1