YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
98. Spesial Duo tengil: Siapa Yang Arkhan Lihat?


__ADS_3

Arkhan dan Azkhan sedang melakukan double date dengan pacar mereka masing-masing. Mereka berempat baru saja keluar dari bioskop. Ana memegang popcorn big size yang masih belum habis. Dia dan Azkhan berjalan di belakang Arkhan dan Ameera sambil sesekali berebut dan saling menyuapi yang lain.


"Hehhh, cepetan dong jalannya. Dasar bucin!" Arkhan mencibir adik kembarnya, mereka berjalan lambat sekali. Rasanya ingin sekali dia seret kedua orang itu supaya berjalan dengan cepat, dirinya sudah lapar.


"Biarin! Iri? Bilang tuh sama Meera. Meer, pacar elo minta di bucinin tuh!" Azkhan melemparkan satu buah popcorn ke kepala kakaknya.


"Apa sih Ar? Punya mulut jangan usil deh. Biarin aja si Azkhan kenapa sih?!" tutur Ameera mulai risih.


Arkhan mendengus kesal. Meera malah membela adiknya daripada dirinya.


"Iya tuh, iri dia sama gue dan Ana. Gak bisa romantis!" ucap Azkhan mengejek.


"Azzy, jangan gitu sama kakak sendiri. Gak sopan!


"Dih. Azzy? Sok imut!"


Azkhan mendelik kesal pada kakaknya. Balik mengejeknya.


"Heh, itu panggilan sayang Ana sama gue. Lah elo? gak punya! Iri kan lo?" cibir Azkhan yang membuat Arkhan kesal.


"Sudah ih, kenapa sih kalian ini. Kalau ada, bertengkar terus, kalau gak ada saling mencari." Ameera kesal mencerca kedua pria itu.


"Dia tuh ngeselin!" Arkhan.


"Kamu yang duluan usil!" Ameera melotot pada kekasihnya.


"Ih kenapa jadi aku? aku kan cuma minta mereka jalan cepetan, gue laper!" ucap Arkhan. Dia berjalan dengan cepat meninggalkan Ameera dengan perasaan kesal.


'Besok-besok, gak mau gue double date!' batin Arkhan.


Ana mencubit lengan Azkhan sedikit keras. "Tuh kan gara-gara kamu, Arkhan marah. Kasihan Ameera."


"Sakit, Yang. Kok jadi aku? Kan dia yang duluan!" protes Azkhan.

__ADS_1


Ana menghampiri Ameera yang kini berwajah suram.


"Meer, maafin Azkhan ya." ucap Riana tak enak hati. Ameera tersenyum pada Ana.


"Sudah, jangan merasa bersalah begitu. Arkhan memang sifatnya keras." Ameera mencoba menenangkan Riana. Dia tahu pasti Riana pasti sedang merasa tak enak hati. Dan dia juga tahu pasti bagaimana sifat Arkhan. Dia sudah mengenal Arkhan sedari kecil. Entah kenapa dia tidak seperti Azkhan, punya perasaan yang lembut, padahal mereka kembar.


Arkhan terus berjalan, dia melirik ke arah samping, tidak ada Ameera. Dia melirik ke arah belakang. Jauh dari tempatnya, mereka bertiga malah berhenti padahal dirinya sudah sangat lapar.


"Hei, cepetan dong jalannya! Gue lapar!" teriak Arkhan.


Ketiga orang itu mendekat ke arah Arkhan. Ameera cemberut.


'Gak pernah bisa romantis!' menggerutu dalam hati. Dia berjalan melewati Arkhan.


"Heh. Elo bisa gak sih sedikit romantis! Cewek itu seneng di romantisin, bukan di bentak!" bisik Azkhan pada kakaknya.


"Gue bukannya bentak dia. Gue ngomong sama elo!" Arkhan meradang.


"Sana, kejar Ameera. Daripada ngambek lagi. Gak bisa ketemu sebulan, elo pasti merana!" ucap Azkhan mengingatkan. Hubungan kakaknya ini memang bisa di bilang kurang mulus, lebih banyak marahan daripada akurnya.


"Ya elo bujuk, kek. Pegang tangan dia. Gandengan juga cukup!"


"Oh. Harus gitu ya?"


Azkhan menggaruk hidungnya. Padahal mereka baru saja menonton film romantis.


"Ya udah, sana. Tunggu apa lagi?" mendorong lengan sang kakak.


Arkhan berjalan ke arah Ameera dan menahan tangannya.


"Meer. Elo kok marah sih. Maafin gue." Ameera terdiam mendengar permintaan maaf Arkhan, pria yang sulit mengatakan maaf dengan mulutnya. Hatinya tiba-tiba luluh. Tapi dia tidak mau dengan mudah menoleh pada pria itu. Biarkan saja dia berusaha untuk mendapatkan maafnya.


"kok diem? Marah?"

__ADS_1


"Hem!"


"Gue janji deh gak akan usil.lagi sama si Azkhan!"


'Hehhh bukan itu gue marah! Gue juga pengen di bucinin, Arkhan!' Ingin rasanya berteriak, tapi masa dia harus bilang seperti itu? Gengsi!


"Ay... Ayang! Maafin gue!" ucap Arkhan. Ameera menoleh pada Arkhan.


"Gak pantes banget sih. Depannya manggil Ayang, belakangnya Gue! Gak ada manis-manisnya!" bentak Ameera. Arkhan bingung.


Apa yang salah?


"Kenapa gak bilang 'Maafin aku?'." ucap Meera.


"Apa bedanya?"


"Ya beda lah. Lebih sweet!" cerca Meera. Meski bingung Arkhan mengiyakan saja.


Azkhan dan Ana hanya menatap kedua pasangan itu dengan bingung. Seakan dalam hati berbicara, 'Hubungan macam apa mereka?'


Ke empat orang itu kini menaiki eskalator menuju ke lantai atas. Mereka menuju sebuah meja kosong dengan empat kursi di dekat jendela. Meski di luar panas, tapi lebih baik karena bisa melihat pemandangan kota yang padat.


"Kalian mau pesan apa? Kami pesankan?" tanya Azkhan.


"Aku mau...."


"Spageti dengan lada hitam, minumnya lemon tea dingin." Arkhan memotong ucapan Ameera, dan kemudian pergi meninggalkan ketiganya.


Ameera tersenyum sambil memandang punggung Arkhan. Dalam hati dia bergumam, meski Arkhan tidak seromantis Azkhan, tapi dia begitu perhatian dengan dirinya. Bahkan tahu apa yang dia inginkan sekarang.


"Ay. Kamu mau apa?" tanya Azkhan pada Ana.


"Terserah kamu."

__ADS_1


Azkhan menyebutkan salah satu makanan. Ana mengangguk saja. Azkhan menyusul kakaknya untuk melakukan pemesanan.


Mereka kembali dari kasir setelah memesan. Arkhan terdiam melihat dari kejauhan seseorang yang ia kenal. Tidak salah lihat. Benar itu dia!


__ADS_2