YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
115. Menguak Masa Lalu.


__ADS_3

Tok. Tok. Tok.


Pintu ruang kerja Bima di ketuk seseorang, dari luar. Bima yang tengah sibuk dengan pekerjaan yang di bawanya menoleh ke arah pintu yang kini terbuka dengan perlahan mski dia belum mempersilahkannya. Dia sudah tahu siapa itu.


"Pa, Yumna boleh masuk?" lirih suara merdu itu.


Bima meletakkan berkas di tangannya, dia juga melepas kacamata bacanya dan menyimpannya di atas berkas. Tersenyum ke arah putrinya yang kini masih melongokkan kepalanya di ambang pintu.


"Masuk saja, papa juga hampir selesai." ucap Bima. Perlahan Yumna melebarkan pintunya dan berjalan masuk ke dalam sana. Berjalan dengan pelan mendekat ke arah Bima.


Bima tersenyum, lucu, melihat tingkah Yumna, persis seperti dulu saat dia masih kecil, sewaktu dia melakukan kesalahan atau bila ada maunya. Tingkahnya ya begitu, berjalan dengan perlahan sambil menunduk dalam.


Yumna berhenti tepat di hadapan Bima. Kedua tangannya saling bertautan di depan tubuhnya. Saling meremas dengan kuat.


"Ada apa, Yumna?" tanya Bima saat putrinya sudah ada di hadapannya.


"Aku... Mau..." Yumna masih terbata. Bima berdiri dan mendekat ke arah putrinya. Di peluknya Yumna dengan erat. dia elus belakang kepalanya dengan sayang, satu tangan yang lain menepuk pundak Yumna dengan pelan.


Mata Yumna membulat, tak menyangka jika papa akan melakukan hal itu lagi, dulu sekali... Ya... Dulu sekali, ingat jika ia ada salah, pasti papa akan memeluknya seperti ini.


Mata Yumna memerah, perlahan mulai terasa panas, dadanya juga terasa sesak. Dan pelukan ini lah yang selalu bisa menghalau rasa sesak itu, sama seperti sekarang. Rasa sesak yang selama ini ada di dalama dirinya kini mulai sirna karena pelukan papa.


Yumna mengangkat kedua tangannya dan ia lingkarkan di pinggang papa erat. Dia menangis tersedu di dada papa yang bidang. Tak ia pedulkan lagi rasa malu dan juga egonya, nyatanya dia memang butuh papa sekarang.


"Papaaa....ha.... hikss... maafkan aku..." tangis Yumna pecah seketika, rasa yang menyesakan dadanya selama seharian ini akhirnya meletus juga di pelukan sang papa. bahu Yumna naik turun, dia menangis hingga sesegukan, bahkan sulit untuk bicara.


Bima tersenyum haru, anak ini memang banyak yang berubah, tapi sifat yang satu ini masih sama.

__ADS_1


Dia mengelus rambut Yumna dengan sayang, sedewasa apapun putrinya dia tetaplah putri yang selalu dia anggap kecil, bahkan rasanya baru kemarin dia bertemu dengan sosok Yumna yang sudah berusia empat tahun. Empat tahun pertama hidup putrinya telah ia lewatkan karena kesalahannya. Dan ia tak mau melakukan kesalahan yang sama lagi, yang mungkin dengan cara yang berbeda di masa kini.


"Maafkan Papa, ya. Papa janji, Papa akan menuruti apa permintaan kamu. Papa janji gak akan ganggu Haidar dan kamu lagi, kalau itu memang yang kamu mau." ucap Bima, suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya mulai memanas. Tangis anak-anaknya adalah tangisnya juga.


Yumna menggelengkan kepalanya. "Bukan papa yang salah, tapi aku, Pa. Maaf... bukan papa yang salah, Papa hanya ingin melindungi aku. Aku yang egois.!" ucap Yumna dengan nada terputus-putus.


Bima semakin erat memeluk putrinya, dia pasrah dengan keputusan Yumna jika ingin kembali dengan Haidar, jika memang itu kebahagiannya. Hanya saja dia akan mengawasi pria itu lebih ketat!


Setelah puas menangis di pelukan papa, Yumna dan Bima duduk di sofa dengan Yumna yang merebahkan kepala di dada papa. Dia sesekali masih sesenggukan, dan Bima membantu menyusut air mata Yumna dengan tisu maupun tangannya.


"Sudah, jangan menangis lagi. Kamu kebiasaan dari kecil, jarang nangis tapi sekalinya nangis lama." Bima mencubit hidung Yumna yang merah, membuatnya semakin merah.


"Ihh... Papa..!" teriak Yumna dengan kesal. Dia paling tak suka jika sedang menangis di perlakukan seperti itu, membuat ingusnya menempel kemana-mana.


"Tisu." ucap Yumna manja meminta di bawakan tisu oleh papanya. Papa mengambil selembar tisu dan membersihkan bawah hidung Yumna tanpa perasaan jijik.


Yumna menatap papa dengan bingung.


"Apa Mama cerita?" tanya Yumna. Papa menggelengkan kepalanya.


"Papa dengar sendiri!" ucap papa dengan senyum menyeringai di bibirnya.


"Papa nguping?!" Seru Yumna tak percaya. Bima tertawa terbahak melihat ekspresi Yumna yang seperti itu.


"Papa serius tanya sama kamu. Apa kamu suka dengan Haidar?" tanya papa sekali lagi. Yumna menatap papa sekilas, lalu memalingkan pandangannya saat dua detik mereka salng pandang.


"Aku gak tahu, Pa. Hanya saja disini terasa sakit kalau dengar Haidar sebut nama dia. Disini terasa sakit kalau melihat Haidar jalan sama dia. Rasanya ingin marah kalau dia terus saja mengagungkan pacarnya. Apa papa kira aku suka dengan dia?" tanya Yumna meminta jawaban. Dia mengusap dadanya yang sering terasa sakit. Sebaiknya dia mulai jujur dengan orangtuanya, toh dengan siapa lagi dia harus bercerita?

__ADS_1


Orangtua adalah panutannya, pemberi nasihat terbaik, dan juga pemberi rasa ternyaman di dunia.


"Rasa cinta itu bermacam-macam, Yumna. Papa juga tidak tahu banyak tentang hal itu. Tapi yang papa tahu, dan papa sadar setelah kepergian mama, mama adalah hal terindah, terpenting, dan yang paaaling berharga dalam kehidupan papa. Papa payah dalam masalah cinta sampai mama datang dan menyadarkan papa tentang arti cinta dan sayang."


Yumna menatap papa dengan heran.


"Mama pernah pergi dari papa, karena masalah apa sih?" tanya Yumna heran. Dia melirik ke arah papa yang menatap dinding di depannya. Papa mengalihkan pandangannya pada Yumna dan mengangguk dengan cepat.


Dia hanya tahu tentang cerita Bunda Dena yang meminta papa menikah lagi dengan Mama Lily, dia juga tahu sekilas tentang kenapa mama pergi dari papa sampai mereka bercerai dan juga mama yang menikah lagi dengan Papi Azka, tapi cerita asal mula itu dan setelah itu dia tak tahu sama sekali.


"Ssstttt... Papa akan ceritakan, tapi ini hanya rahasia kita berdua, ya. Mama tidak mau ada yang tahu tentang cerita masa lalu kami." Papa menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Yumna hanya mengangguk mengiyakan. Raut wajah serius dan penasaran kini tergambar jelas di wajahnya.


"Kamu tentu tahu cerita bagaimana awal kami menikah karena permintaan Bunda Dena kan?" tanya papa. Yumna mengangguk, masih dengan raut wajah yang serius.


"Hahhhh...? Serius?!!" Tanya Yumna saat Bima menceritakan kalau dirinya juga melakukan nikah kontrak pada awalnya. Mata Yumna membulat sempurna, tak menyangka kalau ternyata bukan hanya dia saja yang melakukan hal itu, papa hanya mengangguk lalu mulai meneruskan kisahnya.


Yumna mendengarkan semua apa yang papa ceritakan dengan diam. Matanya berkaca-kaca, Ternyata perjalanan cinta mama dan papa terlalu rumit dengan kisah cinta mereka masing-masing, mama dengan papa Azka, dan Bima dengan Mami Celia yang kini menjadi istri Papi Adit. Dan pada akhirnya cinta kembali pada pemiliknya. Dan tentu saja cinta mami Celia berlabuh pada seseorang yang tak dia duga sama sekali. Dan sayang sekali, ada yang harus menjadi korban disini dan itu karena AUTHOR!!! Padahal Babang Azka orang baik!


"Aku harus tanyakan Papi Adit tentang cerita mereka!" Yumna dengan bersemangatnya, dia pasti akan mendapatkan cerita menarik dari kisah mereka berdua.


"Ya dan tanyakan juga siapa tahu dia masih punya video yang sama dengan yang ada di ponsel mama."


"Maksud papa yang waktu papa pakai baju blink-blink itu ya?" tanya Yumna.


Bima menelan ludahnya kasar, seingatnya yang memakai baju blink-blink itu dirinya, kalau Adit kan pakai baju badut!


Apa Yumna masih mengingat saat dirinya berubah menjadi Beyonce?

__ADS_1


__ADS_2