
"Terserah, mau hp ini kamu harus traktir aku makan. lapar dari tadi nunggu kamu, panas juga kena matahari," ujar Juan cuek. pandangannya tertuju pada jalanan yang cukup ramai di depannya.
Syifa semakin kesal.
Demi bisa nonton drakor!
"Oke, deh. Tapi jangan ke tempat yang mahal. Jatah bulanan Syifa dah menipis ini," ucap Syifa.
Demi hp dan drakor, tak apa lah dia besok berhemat sedikit, jajan cilok aja dan siomay di depan kampus, biar murah.
Juan menyunggingkan sedikit senyuman di bibirnya. Melihat dari sudut matanya, wajah yang kesal Syifa.
Menyenangkan juga melihat dia cemberut seperti itu!
Juan terus melajukan mobilnya ke sebuah tempat makan.
Syifa menatap tak percaya makanan yang ada di depannya. Satu meja penuh dengan makanan yang Juan pesan. Nasi goreng, mie goreng, sate ayam, kentang, makanan penutup, dua buah jus dan air mineral. Siapa yang akan menghabiskan semua makanan ini? Dan lagi, berapa banyak uang yang harus dia keluarkan untuk membayar semua makanan ini?
"Kak, yakin akan habiskan ini semua?" tanya Syifa kesal. Ingat lembaran uang miliknya menari-nari meninggalkan dompetnya.
Tipis deh. Huhu ....
Juan hanya mengangkat bahunya dengan acuh. Dia mulai mengambil nasi goreng yang ada di hadapannya, sementara Syifa diam melihat Juan yang mulai menikmati makanan itu dengan wajah yang lucu.
"Gak makan?" tanya Juan. Satu suapan masuk ke dalam mulut.
"Kenyang cuma lihat aja," jawab Syifa datar. Juan tersenyum lalu kembali menikmati makanan di depannya.
Lima menit Syifa hanya menyaksikan pria itu makan dengan tanpa bicara, wajahnya sangat menikmati makanan yang mampir ke mulutnya. Perut Syifa bergerak, bergetar, sedikit bersuara meminta makanan yang enak. Apalgi ini sudah waktunya jam makan siang.
"Yakin gak mau makan?" tanya Juan dengan sengaja menyeruput jus jambu miliknya.
__ADS_1
Dengan kesal, Syifa juga menyambar jus alpukat yang ada di depannya. Menyeruputnya dengan suara keras. Beberapa orang yang ada di sekitar mereka menatap ke arahnya dengan pandangan yang mengejek. Akan tetapi, Syifa tidak peduli. Dia lebih peduli pada isi dompet yang sebentar lagi akan raib dari dompet miliknya.
Juan menatap Syifa, menggelengkan kepalanya. Sekilas dia tidak percaya dengan gadis yang ada di depannya ini, tak ada sikap elegannya sama sekali. Tidak menyangka, putri dari seorang Bima Satria Mahendra bisa melakukan hal yang tidak sopan saat di tempat umum.
Syifa cuek saja. Dia tahu arti gelengan kepala Juan saat ini. Masa bodoh jika pria itu tidak suka. Toh bagus jika Juan mengajaknya pulang. Dia akan mendapatkan hpnya dengan segera.
Juan sengaja memperlambat makannya, membuat Syifa melipat kedua tangan karena bosan dan juga kesal. Wajahnya sedikit cemberut. Juan tahu akan arah pandang gadis di depannya itu, menatap ke saku kemeja yang dia pakai. Ada sesuatu di saku jaket Juan yang merupakan milik Syifa. Juan hanya diam tak terlalu menampakkan diri jika dia memperhatikan Syifa.
"Masih lama tidak makannya?" tanya Syifa kesal.
"Ya ampun. Ini saja masih belum habis setengah, kenapa buru-buru sekali?" tanya Juan.
Jari tangan Syifa bergerak, mengetuk-ketuk di atas kulit lengannya, seakan sedang menghitung berapa detik pria itu makan satu suapan hingga menelannya. Sesekali Syifa melirik jam tangan, ini sudah hampir ima belas menit mereka disini, tapi pria tampan yang mulai menyebalkan di depannya ini masih saja berkutat dengan satu makanan saja.
Bagaimana dia akan menghabiskan semua makanan ini? Sebanyak apa waktu yang dia perlukan untuk menghabiskannya?
Hais! Dasar menyebalkan! Geram Syifa. Dia mengambil piring mie goreng yang ada di depannya dan mulai makan dengan rakus.
Syifa mengabaikan etika di meja makan, suara dentingan sendok dan garpu yang beradu di piring, dia anggap sebagai musik yang mengalun indah mengiringi acara makan yang menyebalkan itu.
Juan melongo, menatap Syifa yang makan bak manusia yang kelaparan akibat tiga hari tidak makan. Bahkan sekarang ini, makanan di piring Syifa menyisakan satu suapan terakhir.
Garpu yang ada di tangan, dia putar hingga membuat sisa mie goreng yang ada di piring tergulung hingga cukup besar. Juan menatap makanan yang ada di tangan Syifa, ragu jika gadis dengan pipi tembam itu akan memasukkan makanan itu sekaligus ke dalam mulutnya.
Rasanya Juan ingin menepuk keningnya kala melihat Syifa yang melakukan hal yang tadi dia pikirkan.
Wow! Benar-benar tidak menyangka kalau dia melakukan hal itu!
Piring Syifa telah bersih dari makanan, menyisakan warna coklat akibat bumbu yang membuat lezat makanan yang baru saja tadi dia habiskan. Syifa mengambil tisu yang selalu ada di tasnya, mengelap sisa saus manis yang ada di sudut bibir.
Juan menyimpan sendok miliknya, lalu menyandarkan diri, menatap Syifa yang masih tidak dia percayai.
__ADS_1
"Apa? Kenapa melihatku seperti itu? Kakak bilang kalau habis makan akan kasih hp ku kan? Ayo cepat habiskan makanannya terus berikan milikku!" ujar Syifa, satu tangannya menengadah untuk meminta hp miliknya.
"Aku belum selesai makan," ucap Juan, kembali pria itu menyuapkan makanan yang baru habis setengah piring dengan perlahan. Sengaja untuk ke sekian kalinya.
Syifa mendengkus sebal, menarik piring kentang goreng yang ada di depannya, mencelupkan ke saos yang ada di piring dan kemudian memakannya.
Benar-benar dia seperti ... apa dia monster?
Juan memandang Syifa, berpikir seberapa panjang usus gadis ini hingga masih muat memasukkan makanan yang lain ke dalam mulutnya.
Syifa tidak peduli, begini lah jadinya kalau dia dibuat emosi seperti ini. Berapa banak makanan yang masuk ke dalam perutnya seakan menghilang begitu saja. Dia akan sadar jika sudah sampai di rumah saat merasakan perutnya yang hampir meledak. Tunggu saja angka timbangan yang berubah angkanya dari beberapa hari yang lalu.
Makanan di atas meja kini sudah habis. Juan baru saja menyelesaikan makan satu piring nasi goreng dan jus jambunya, sedangkan Syifa sudah menghabiskan satu piring mie goreng, satu piring kentang goreng, makanan penutup mulut, dan juga jus alpukat yang kini hanya tinggal seperempat gelas.
"Sudah, kan? Mana?" tanya Syifa. Lagi-lagi menengadahkan tangannya untuk meminta miliknya.
"Tadi kan aku bilang hanya makan siang, tidak bilang mau kasih hp kamu," ujar Juan dengan santainya. Mendengar hal itu, Syifa marah karena merasa ditipu. Dia berdiri ambil menggebrak meja dengan keras. Kembali menjadi perhatian dari beberapa orang yang ada di sekitar mereka.
"Dasar tukang ingkar janji! tadi bukannya Kakak bilang akan memberikan hp ku? Kenapa jadi ingkar begitu?" teriak Syifa marah. Tidak peduli dengan persekitarannya yang masih menatap dirinya dan Juan disana.
Bisik-bisik suara mulai terdengar.
"Jangan teriak seperti itu, apa kamu gak malu dilihat banyak orang?" ucap Juan.
"Masa Bodoh! Kalau Kakak tidak mau memberikan hp itu padaku, akau akan teriak kalau kamu adalah Om-Om mesum!" desis Syifa, berharap jika pria itu kalah dan menyerahkan benda hp miliknya.
Juan mengangkat bahunya, membuat Syifa semakin marah.
"Semua yang ada di sini. Harap berhati-hati dengan dia. Jangan sampai terlena dan terbuai dengan wajahnya karena dia adalah OM-Om mesum yang tidak tau diri!" teriak Syifa.
Juan yang mendengar hal itu sedikit terkejut karena keberanian Syifa yang berteriak dan mengatakan hal semacam itu.
__ADS_1
Syifa bangkit dari duduknya, mengambil tas dan melayangkannya ke tubuh Juan dengan keras lalu tak peduli dengan pria itu dan pergi ke luar dari dalam cafe.