YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
352


__ADS_3

Haidar lagi-lagi harus pasrah saat menghadapi omelan dari papanya. Semua yang dikatakan memang benar, dia lah yang salah karena tidak jujur dengan Yumna. Maksudnya tidak berbicara bagaimana baiknya dengan istrinya itu.


"Lain kali kamu harus bicarakan segala sesuatunya dengan istri kamu. Dia itu yang akan mendampingi kamu sampai tua. Dia itu yang akan mengurus rumah tangga kamu agar selalu harmonis, dia juga yang akan mengurus semua anak kamu hingga besar. Ah, Mami tuh bingung ya sama laki-laki, kadang udah dikasih hati kok minta jantung! Sudah dibaik-baikin malah ngelunjak. Istri ini juga butuh dihargai pendapatnya. Butuh ditanya bagaimana baiknya!" sindir Mitha pada kedua laki-laki yang ada di depannya.


Arya tidak terima dengan ucapan sang istri. "Mi, Papi nggak gitu loh sama Mami. Dalam setiap keputusan Papi selalu izin kan?" protesnya.


Mitha bangkit dari duduknya, lelah dengan pembahasan ini. "Nggak juga tuh. Ingat apa yang Papi lakuin sama Mami kemarin? Beli stik golf harga berapa?" tanya sang istri yang membuat Arya manyun.


"Itu kan buat refresh otak, Mi."


"Iya, tapi nggak selangit juga harga buat satu stik golf kan?" ujar Mitha seraya memberikan tatapan sinis pada suaminya. Mitha pun pergi dari hadapan dua orang itu.


"Tuh, Papi sendiri juga sama." Kali ini anaknya yang melakukan protes.

__ADS_1


"Beda lah, itu kan stik golf, bukan mantan."


"Apa bedanya kalau di tempat golf ada cewek muda seksi."


Arya yang mendapat ucapan seperti itu tidak bisa lagi berkata apa-apa, dia akan menyusul sang istri saja ke kamarnya.


"Itu beda lah, mereka itu cuma pajangan. Nggak bisa dipake, kalau pun bisa juga udah kayak piala bergilir. Dah, ah. Papi mau ke kamar aja. Lebih baik bujuk Mami kamu biar nggak manyun lagi, semua gara-gara kamu sampai Papi harus kerja keras buat bujuk Mami. Ah, Papi rela deh kalau harus capek malam ini," ujar Arya pasrah dan kemudian meninggalkan Haidar.


"Huh, dasar bucin!"


"Biarin, daripada kamu. Bucin juga nggak bisa naik turun gunung. Kasihan deh. Main sama guling sana!" ucap Arya sambil mengibaskan tangannya di udara. Tanpa menunggu lagi dia benar-benar pergi menghampiri istrinya dan membujuk wanita itu agar tidak lagi marah.


Kini Haidar hanya tinggal sendirian di rumah itu, tidak ada yang bisa menghiburnya. Bahkan TV saja yang menyala tidak bisa membuat dia melupakan rasa sedih dan gundahnya.

__ADS_1


Haidar mengambil hp-nya dan melakukan panggilan kepada sang istri. Akan tetapi, lagi-lagi Yumna tidak mengangkat panggilannya lagi. Tidak hanya panggilan saja, tapi Haidar juga mengirimkan pesan chat pada Yumna. Hanya di read saja tanpa dibalas olehnya.


Yumna, kamu ada di mana? Aku minta maaf dengan segala kesalahan aku. Kamu baik-baik aja kan di sana? Satu pesan Haidar untuk Yumna.


Centang itu berubah biru. Di sebelah foto profil Yumna juga tertulis 'online'. Haidar menunggu, tapi tidak ada balasan hingga sampai sepuluh menit lamanya.


Nggak apa-apa kalau kamu belum mau angkat atau balas chat aku, setidaknya kamu di sana baik-baik aja, pesan Haidar lagi.


Pesan tersebut juga telah berubah menjadi biru, tapi lagi-lagi Yumna tidak membalas pesannya.


Haidar tersenyum miris, hanya bisa menatap gambaran Yumna dari ponselnya saja.


"Aku kangen kamu. Aku kangen anak-anak kita. Semoga kamu baik-baik aja di sana," gumam Haidar, kemudian mengusap air mata di sudut matanya.

__ADS_1


__ADS_2