YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
231. Mencari Cara


__ADS_3

Yumna telah kembali ke ruangannya. Benar apa kata Bima tadi, jika Haidar ternyata telah menghubunginya beberapa kali. Yumna tidak membawa ponselnya ketika dia bersembunyi di ruangan Bima.


Suara dering telepon kembali terdengar. Haidar kembali menghubungi Yumna, dengan dada yang berdebar Yumna mengangkat panggilan tersebut.


"Yumna, kemana saja? Aku tadi menghubungi kamu beberapa kali tapi tidak kamu angkat?"


"Em ... aku sedang ada di lantai bawah tadi, tidak membawa hp. Ada apa?" tanya Yumna, seperti apa kata Bima, dia harus berpura-pura tidak tahu akan rencana tadi.


"Tidak apa-apa. Aku cuma ingin tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Apa sore nanti kamu sibuk? Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu," ucap Haidar di seberang sana. Suaranya terdengar sangat serius di telinga Yumna. Yumna pikir mungkin Haidar ingin bicara soak yang tadi dia bahas bersama dengan Bima.


"Tidak ada. Ada apa? Mau bicara apa?" tanya Yumna lagi.

__ADS_1


"Em ... itu ... aku tidak bisa bicara di telepon. Jika bisa kita bertemu. Nanti aku jemput."


"Oke, aku tunggu," jawab Yumna.


"Jangan lupa kamu makan siang, ya," ujar Haidar sebelum mematikan teleponnya.


Yumna tersenyum senang. Haidar cukup perhatian sekarang ini.


"Iya, tentu. Kamu juga," jawab Yumna. Panggilan terputus. Yumna menutup telepon dari Haidar, pria itu masih berada di dalam mobil sepertinya, terdengar sesekali bunyi klakson dari seberang sana.


Ah, kapan dirinya akan berkumpul dengan Haidar? Semoga saja, Haidar bisa melewati ujian Papa Bima dan mengantongi restunya.


...***...


Haidar tersenyum senang saat kembali ke kantornya. Apa yang tadi Bima katakan dan janjikan membuat Haidar sangat bersemangat. Dia harus mendapatkan kerjasama dengan perusahaan ini, Cahaya Buana Corp.

__ADS_1


Haidar kembali mempelajari apa yang ada di kertas tersebut, dia kemudian mencari di halaman web-nya nama perusahaan yang harus dia taklukan. Perusahaan di bidang logistik dan juga perkapalan di salah satu kota besar di negeri ini.


Haidar sedikit ciut juga nyalinya, saat melihat sepak terjang dari perusahaan tersebut. Tentu bukan perusahaan yang setara dengan miliknya, tapi setingkat di atasnya. Perusahaan itu sudah sangat terkenal dan jauh lebih besar dibanding yang dia tahu ternyata.


"Papi. Aku ingin tahu banyak tentang Cahaya Buana Corp. Apa Papi tahu tentang perusahaan itu? Bisakah Papi mengirimkan email? Aku ingin data yang lengkap," ujar Haidar dalam sebuah panggilan pada Arya, papinya.


"Ada apa dengan Cahaya Buana?" tanya Arya dengan sedikit mengerutkan keningnya.


Haidar menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Aku dapatkan tugas. Jika ini berhasil, aku akan dapat dua sekaligus!" jawab Haidar yang membuat Arya semakin bingung.


"Oke, Papi akan bertanya pada yang lainnya dan mengirimkan data yang lengkap. Ngomong-ngomong, kenapa kamu tertarik pada perusahaan itu?" tanya Arya ingin tahu.


"Sudah aku bilang, jika berhasil aku akan dapatkan dua keuntungan. Tolong Papi bantu aku untuk bisa mendapatkan tender dari perusahaan itu," mohon Haidar.


Arya menghela napasnya, mencoba untuk mengerti akan permintaan sang putra. Dia tahu, menjalin kerja sama dengan Cahaya Buana tidak lah mudah. Pasti Haidar menginginkan hal ini karena ada sebab tertentu!

__ADS_1


__ADS_2