
"Apakah kamu bersedia melakukan hal itu untuk Yumna?" tanya Bima sekali lagi.
Haidar masih terdiam, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Saham yang keluarga Rahadian miliki tentu saja bukan miliknya, itu adalah hasil kerja keras dari papinya selama ini.
Bima menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, dia melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap tajam pria muda yang ada di hadapannya. Haidar masih menatap lututnya. Bimbang. Dia perlu banyak berpikir untuk menjawab pertanyaan dari Bima.
"Bagaimana?" tanya Bima. Nadanya dingin membuat Haidar ingin segera pergi dari sana. Hawa yang dia rasakan mencekik lehernya saat ini.
Haidar menarik napasnya, dan menguatkan diri, menghembuskannya dengan perlahan. Dia mulai mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap Bima.
__ADS_1
"Maaf, Pak Bima. Jika Bapak menginginkan hal itu, saya sepertinya akan menolak keinginan Bapak," ucap Haidar. Bukan dia tidak inginkan Yumna, tapi tidak akan adil baginya dan keluarga jika apa yang papinya raih selama ini dia berikan begitu saja untuk Yumna.
Bima menatap haidar dengan kening yang mengerut, tidak dia sangka sebelumnya, Bima mengira jika Haidar akan memberikannya dengan mudah, mengingat pemuda ini sebelumnya mempunyai sifat yang ambisius. Namun, ternyata Haidar menolaknya mentah-mentah.
"Jadi kamu tidak serius dengan Yumna?" tanya Bima.
Haidar menutup matanya tidak sampai sedetik, dia kembali menatap dengan berani pada Bima.
"Semua itu bukan milik saya, tapi milik kedua orang tua saya. Meskipun nantinya akan jatuh di tangan saya, tapi saya tidak akan pernah memberikan semua hal yang bukan hasil dari keringat saya untuk memberikannya kepada putri Bapak? Bukankah itu berarti saya mendapatkan putri Bapak dengan cara yang mudah?" tanya Haidar. Dia kini pasrah, jika memang Bima tidak akan menerimanya karena urusan saham tadi, mau bagaimana lagi?
__ADS_1
Haidar bukan orang yang dulu, yang bisa menghamburkan uangnya untuk urusan wanita. Kini dia menjadi sosok yang berbeda.
"Jadi? Bagaimana?" tanya Bima.
Jujur Haidar kecewa dengan sikap Bima, tidak menyangka jika pria itu benar menginginkan saham milik keluarganya. Sakit hatinya akan lebih terasa jika keluarganya tidak memiliki apa-apa lagi.
Wanita bisa dicari, tapi kepercayaan dari keluarga akan sulit untuk dia dapatkan jika sampai melakukan hal itu.
"Tidak!" jawab Haidar sambil menatap Bima dengan tajam.
__ADS_1
"Saya tidak akan memberikan hal yang bukan milik dan hasil keringat saya. Jika Pak Bima tetap menginginkan hal itu, maaf saja. Saya tidak bisa. Saya hanya punya diri saya untuk diberikan kepada putri Bapak," ucap Haidar dengan beraninya.
Haidar merasa bersalah kepada Yumna jika dia memilih mundur sekarang ini. Bagaimana pun juga, selama ini Haidar sudah sering membuat kedua orang tuanya susah, kali ini dia sudah bertekad untuk tidak melakukannya lagi!