YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
140. Memohon Pengampunan


__ADS_3

Haidar kini hanya seorang diri di ruangan rumah sakit itu. Dia harus menjalani pengobatan beberapa hari ke depan pasca kecelakaan yang menimpanya semalam. Ben sudah diizinkan pulang karena hanya mengalami luka ringan, sedangkan dirinya harus lebih lama menginap di rumah sakit ini.


Mami sedang ada urusan, sedangkan papi sedang di kantor menggantikan dirinya tyang harus istirahat total beberapa hari ini. Haidar menghembuskan nafasnya, merasa sepi sendirian disini.


Haidar merasa haus, tapi dia sulit untuk bergerak dan menjangkau minuman yang ada di atas nakas. Haidar menekan tombol yang ada di dekatnya guna memanggil perawat.


Ckkleek.


Pintu terbuka. Haidar masih tetap berusaha mengambil minum sendiri. Tidak melihat siapa yang baru saja datang.


"Suster kenapa lama sekali. Saya haus sedari tadi!" ucap Haidar kesal.


"Trimakasih," ucap Haidar saat gelas berisi air itu berpindah ke tangannya.


Haidar minum lalu menyerahkan gelas yang telah kosong itu pada suster, tapi kemudian Haidar terdiam, terpaku melihat orang yang baru saja membantunya bukanlah seorang suster. Seorang wanita cantik yang terihat sedikit kurus dari terakhir mereka bertemu.


"Ada apa kamu kesini?" tanya Haidar sarkas. Dia merasa sebal melihat wanita ini ada di hadapannya.


Dengan gerakan cepat wanita itu merendah, menjatuhkan lututnya di lantai.


"Haidar, aku tahu aku salah. Aku mohon maaf. Aku ... Aku salah... hikss..." ucapnya terdengar pilu di sela tangisan. "Aku khilaf Haidar. Aku mohon maafkan aku. Aku sedang tersesat saat itu, dan aku juga sedang terdesak. Aku mohon maafkan aku!" ucapnya dengan tangis yang pilu. Pundaknya bergetar, naik turun. Haidar hanya diam sambil menghela nafasnya dengan berat.


"Pegilah, Vi." titah Haidar.


Vio menggelengkkan kepalanya. Tidak mau bangkit sebelum Hiadar memaafkan dirinya.


"Aku gak akan pergi sebelum kamu memaafkan aku." lirihVio. Bukan sekali ini Vio menemui Haidar, tapi sudah sering sejak saat Haidar memergokinya main dengan tiga pria sekaligus.


Hati Haidar kini bagai es beku yang sulit sekali dicairkan, tidak seperti dulu, hanya dengan sedikit senyum dan bahasa tubuh Haidar akan luluh dengan apa yang diinginkannya.


"Aku sudah maafkan kamu, tapi jangan harap kalau hubugan kita akan baik seperti dulu. Kamu sudah sangat kecewakan aku, Vi." Luka hati Haidar terbuka kembali dengan kedatangan wanita ini terus menerus. Betapa butanya dia saat itu yang tidak mendengarkan apa yang dikatakan mami dan juga Agnes dulu. Kini penyesalan datang terlambat, Haidar tidak lagi bisa manawar rasa sakit dan kecewa yang ada di dalam hatinya. Sungguh sangat kecewa dengan kelakuan wanit yang dulu sangat ia cintai dan susah payah ia pertahankan untuk mendapat restu dari keluarganya. Namun, saat semua hampir menjadi mudah...


Ahh .... Mungkin jika lebih baik dia tertabrak kereta saja agar tidak merasakan dan menginggat rasa sakit hati akibat dikhianati.

__ADS_1


"Enggak Haidar. Aku sudah berubah, aku bisa pastikan itu. Aku berubah demi kamu, Haidar. Tolong jangan buang aku!" Vio menghiba. Haidar mencoba untuk tidak menatap wanita yang kini terlihat sangat menyedihkan itu.


"Bukan aku yang buang kamu, Vi. Tapi kamu sendiri yang menjadikan dirimu sampah. Beruntung aku bisa melihat semua kelakuan kamu sebelum terlambat. Kamu memang wanita yang sangat aku cintai, tapi itu dulu, dan sekarang aku bebaskan kamu dengan siapapun yang kamu mau. Aku tidak bsa memberikan apa yang kamu mau, aku juga tidak bisa memberikan kamu cinta lagi karena sudah semenjak lama cinta untuk kamu tidak ada lagi. Maaf." ujar Haidar.


Vio menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Haidar barusan. Dia menggerakkan kakinya untuk semakin mendekat dan menyentuh tangan Haidar.


"Haidar, aku sungguh menyesal. Aku akan lakukan apapun untuk terus sama kamu. Aku sudah tinggalkan duniaku, aku sudah tinggalkan impianku, demi kamu. Aku udah gak jadi model lagi, aku siap untuk menikah dengan kamu, Haidar!" Vio menggoyangkan lengan kiri Haidar yang tidak sakit.


Haidar menghembuskan nafasnya lalu tertawa terkekeh.


"Baru kali ini kamu bilang meninggalkan impian kamu demi aku? Dulu apa kabar saat aku meminta itu?" tanya Haidar.


"Aku salah Haidar. Maafkan aku. Aku akan perbaiki semua kesalahan aku dan aku akan jadi istri yang baik buat kamu." Haidar menepis tangan Vio dengan kasar hingga wanita itu sedikit terdorong ke belakang.


"Istri yang baik? Kamu sebelum jadi seorng istri pun sudah tidak baik, Vio. Kamu sudah sangat melukai hati aku. Kamu tahu apa yang aku rasakan saat melihat kamu bermain dengan tiga orang sekaligus? Aku jijik! Aku selalu menahan diri untuk tidak menyentuh kamu karena aku tahu cara menghormati orang lain, aku menghormati kamu sebagai wanita yang spesial, sebagai ratu di dalam hati ini, tapi kenapa kamu malah menceburkan diri sendiri dalam kubangan kenistaan?"


Vio hanya menunduk dalam, tidak berani menatap Haidar yang kini menahan amarah hingga wajahnya memerah, nada suaranya terdengar sangat dingin hingga membuat Vio membeku di tempatnya.


"Kamu tau, Vi..... Apa kamu tahu apa yang aku lakukan untuk mempertahankan kamu? Aku melawan kedua orangtuaku hanya untuk wanita kotor seperti mu." Sakit hati Hiadar saat mengatakan hal itu.


"Berapa banyak.... Berapa banyak laki-laki yang sudah menjamah kamu" tanya Haidar pada Vio. Vio kembali menunduk, semakin tidak berani menatap Haidar yang menanyakan hal seperti itu.


"BERAPA BANYAK LELAKI YANG SUDAH SENTUH KAMU DAN NIKMATI TUBUH KAMU?!!" Haidar lagi dengan penuh amarah. Vio sampai mengkerut di tempatnya karena mendengar bentakan dari mantan kekasihnya dulu.


"Aku minta maaf." hanya itu yang bisa Vio katakan di sela tangisan yang kini semakin hebat.


"Aku minta maaf, Haidar."


"Jangan sebut namaku!" teriak Haidar. Dadanya kembang kempis menahan gejolak amarah yang ditimbulkan wanita ini. Jika aja keadaan dirinya tidak sedang seperti sekarang ini pastilah Haidar akan pergi atau menyeret wanita ini keluar.


"Pergilah, Vi. AKu mohon." ucap Haidar lirih saat melihat wanita yang pernah menjadi tujuan hidupnya dan sumber kebahagiaannya kini hanya bisa menangis sabil bersimpuh di lanntai.


"Pergilah sebelum orangtuaku datang dan menyeret kamu keluar."

__ADS_1


"Aku akan meminta maaf pada orang tua kamu. Kalau perlu aku akan mencium kaki mereka tapi aku mohon maafkan aku, aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, Haidar. Hanya kamu yang aku punya sedari dulu... Hikss..."


"Hanya aku? Tapi kamu yang sudah membuang aku sedari dulu, Vi. Kamu gantikan aku dengan pria lain. Kenapa? Apa aku kurang baik untuk kamu?" tanya Haidar akhirnya. Vio menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu sudah bosan dengan aku, kalau kamu tidak ada hati dengan aku, kenapa kamu terus menjalani hubungan palsu ini?"


"Perasaanku gak palsu, Haidar! Aku sungguh sangat cinta dan sayang sama kamu." bela Vio.


"Kalau kamu cinta dan sayang sama aku, kenapa kamu gak bisa setia, dan hanya menjadikan aku pria satu-satunya buat kamu?" tanya Haidar.


"Aku salah..." Vio meremas gaunnya hingga kusut. Dia sangat menyesal karena telah mengkhianati pria ini, pria yang telah menemaninya sedari dulu, pria yang telah melindunginya sedari dulu. Semua ia dapatkkan, hanya sentuhan saja kenapa dia sampai memeberikannya pada orang lain.


"Aku menyesal...." lirih Vio agi.


"Bagus kamu menyesal, tapi penyesalan kamu tidak ada gunanya lagi sekarang. Dasar Wanita Sundal!" Suara Mami Mitha tiba-tiba terdengar di belakang mereka. Vio tersentak kaget. Bahkan, Haidar pun tidak menyadari sejak kapan wanita yang telah melahirkannya itu ada di dalam sana.


"Tante aku mohon. maafkan aku. Aku minta maaf atas keslahanku di masa lalu!" Vio kini merangkak mendekati dan memeluk kaki Mitha dengan erat.


"Menjauh dariku. Najis kau sentuh aku!" Mitha mengerakkan kakinya dengan kasar, hingga Vio terjengkang ke samping. Wanita itu terus menangis, tapi Mitha tetap bergeming dan menatap wanita itu dengan tatapan benci dan juga jijik.


"Pergi kamu dari sini. Sedari dulu aku tidak pernah menerimamu ada diantara kami, apalagi sekarang. Kau tidak tahu rasa berterima kasih!" usir Mitha pada Vio.


"Suster! Bawa wanita kotor ini pergi dari sini. Lain kali jangan biarkan wanita ini masuk ke dalam ruangan anak saya. Kalau tidak, saya akan tuntut rumah sakit ini dengan alasan perlakuan tidak menyenangkan!" teriak Mitha pada suster dan juga dokter di belakangnya.


Suster datang mendekat dan menarik tangan Vio untuk bangkit.


"Kami mohon jangan membuat kekacauan di rumah sakit ini ya, Bu. Ayo ikut kami keluar." ucap suster itu dengan lembut. Vio menarik tangannya kasar.


"Bu, aku mohon aku tidak akan melakukan hal yang salah lagi, aku sudah berubah!"


"Aku bukan ibumu! Pergi dari sini!" tunjuk Mitha dengan lantang ke arah pintu. Dada Mitha serasa sesak, amarah tidak bisa ia kendalikan lagi, ingin rasanya menampar dan menjambak rambut wanita yang sudah membuat anaknya patah hati yang mendalam hingga hampir gila.


Dokter dan perawat akhirnya menyeret paksa Vio dari ruangan itu.

__ADS_1


Haidar yang menyaksikan itu merasa sangat bersalah. Di satu sisi, dia merasa sakit melihat perlakuan kasar mami pada Vio, tapi di satu sisi dia juga merasa bersalah telah membuat maminya bersedih dan emosi.


__ADS_2