
Pagi menjelang, Haidar segera membereskan semua pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper. Pintu terbuka, terlihat Vio baru saja masuk dan terheran melihat Haidar yang sedang beres-beres pakaian.
"Sayang. Kamu mau kemana?" Haidar menoleh sekilas lalu kembali pada kegiatannya.
"Aku mau pulang, Vi."
"Pulang? Kok pulang? Harusnya kan kita pulang besok sore?"
"Aku ada... kerjaan mendesak! Papi bilang ada pekerjaan penting dan aku sendiri yang diminta turun tangan. Kamu ... gak apa-apa kan aku tinggal?" tanya Haidar. Vio merengut tidak suka. Dia berjalan dan duduk di tepi ranjang, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kamu, kan sudah janji akan pulang bareng aku? Tapi kenapa, sekarang kamu malah mau pulang duluan? Pasti pekerjaan itu cuma alasan kan buat kamu ketemu istri kamu?!" cerca Vio.
"Bu– bukan, sayang! Aku memang pulang untuk pekerjaan. Kalau kamu tidak percaya telfon saja asisten aku!" dustanya. Dia duduk di samping Vio dan memegang bahunya, memutar tubuh Vio untuk menghadap ke arahnya.
"Vi, maafkan aku ya. Aku janji setelah kamu pulang ke Jakarta nanti aku akan libur satu hari penuh buat kamu. Cuma buat kamu!"
Vio membuang pandangannya menghindari tatapan Haidar. Haidar merasa bingung jika kekasihnya ini sudah merajuk.
"Vi. Vivi, sayang. Cintaku. Manisku. Sayangku. Matahariku. Aku minta maaf seeebesar-besarnya. Apapun ... Apapun yang kamu mau aku akan berikan, tapi aku minta kamu jangan marah sama aku, oke?!"
Vio kembali menatap Haidar.
"Apa pun?" tanya Vio.
Haidar mengangguk. "Apa pun!"
"Kalau begitu ..." Vio mendekat pada Haidar hingga pria itu bisa mencium wangi nafas Vio.
"Aku mau kamu!" bisik Vio sensual di telinga Haidar.
Glek...
Haidar susah payah menelan salivanya. Hangat nafas Vio membuat darahnya mendadak panas.
"Sayang..." Haidar mendorong bahu telanjang Vio. "... Kamu tahu kan, a–aku tidak bisa melakukannya sebelum menikahi kamu." ujarnya gugup. Kalau saja tidak ingat dengan janjinya dulu, Haidar mungkin sudah menjadi pria yang berengsek sekarang karena wanita seksi ini.
Vio lantas tertawa, dia menutupi mulutnya dengan tangan.
"Haha... Aku bercanda, Haidar. Aku tahu kamu memang pria paling baik yang pernah aku temui. Kamu yang selalu menjaga aku, kamu gak akan pernah sakiti aku dan kamu pelindungku. Sana. Kalau kamu mau pulang, pulang saja. Aku gak apa-apa kok. Asalkan kamu memang pulang untuk hal pekerjaan, bukan untuk hal lain!" ucap Vio seraya mengibaskan tangannya.
"Kamu gak marah?" tanya Haidar dia tersenyum senang mendengar pujian Vio.
"Aku harus mengerti kan kalau pacarku ini sangat sibuk. Aku gak boleh egois. Sebagai putra satu-satunya dari keturunan Rahadian, tentu saja kamu pasti sibuk mengurus semuanya sendirian. Aku bisa apa? Di banding dengan kamu, aku bukanlah apa-apa!" ucap Vio sendu.
Haidar tidak pernah suka jika Vio sudah mengatakan hal ini, seakan dirinya membuat Vio merasa terendahkan derajatnya.
"Hei. Hei. Aku gak suka kalau kamu bicara seperti ini. Aku memanglah keturunan Rahadian, tapi semua kekayaan yang ada pada keluarga kami bukanlah apa-apa di banding kamu. Kamu adalah segalanya untuk ku, Vi." Haidar mengambil tangan Vio dan mengecupnya lembut.
"Apa aku pantas untuk kamu, Haidar? Bagaimana dengan mami nanti kalau kita bersama? Apa kamu akan tinggalkan aku kalau mami kamu gak setuju?" tanya Vio memasang ekspresi sedih.
__ADS_1
"Sayang, dengarkan aku. Apa pun yang mami ucapkan nanti, apa pun keputusan mami. Aku gak akan tinggalkan kamu. Percaya sama aku!" Vio tersenyum lalu mengangguk.
"Aku akan pegang ucapan kamu!" ucap Vio seraya memeluk Haidar erat. Haidar mengelus kepala Vio dengan lembut. Merasakan kehangatan yang Vio berikan.
"Sayang..." Haidar menunduk
"Hem?" Vio menarik kepalanya dari dada Haidar, dan memegang kedua pipi Haidar dengan telapak tangannya. Memandang Haidar dengan penuh kasih (huwekkkk🤮🤮🤮 zizik gue; author). Lalu mendekatkan diri pada Haidar.
Cup.
"Kamu harus ingat sama janji kamu."
Cup.
"Kamu hanya milikku."
Cup.
"Priaku."
Cup
"Kamu gak akan tinggalin aku!" Kali ini Vio menatap Haidar dengan tajam, seakan terhipnotis dengan perkataan Vio, Haidar menganggukan kepalanya.
"Ya, aku gak akan tinggalin kamu. Aku milik kamu!"
Vio tersenyum, dia kembali mendekatkan dirinya pada Haidar dan mel*mat bibir Haidar dengan posesif. Satu persatu yang ada di dalam sana tak luput dia absen. Haidar menekan kepala Vio, memperdalam ciuman mereka. Membuat sesuatu yang ada di dalam celana Haidar menggeliat.
Haidar melepaskan ciumannya, sadar dengan apa yang di lakukan kekasihnya, dia menahan tangan Vio. "Stop, sayang! Jangan!" Vio merengut sebal.
"Kamu sengaja ya goda aku?" tanya Haidar menatap Vio, sedangkan wanita itu tersenyum nakal.
"Memang aku sengaja. Supaya kamu gak pernah lupa sama aku!" ucap Vio lalu kembali mendekat pada Haidar.
"Sudah, sayang!" Haidar menghalangi bibirnya dari sambaran bibir kekasihnya. Kalau ini di teruskan bisa saja Haidar membatalkan kepergiannya dan terus mel*mat bibir Vio seharian hingga bengkak.
"Sudah, ya. Jangan buat aku tidak tahan!" Vio mengerucutkan bibirnya, lalu tersenyum.
"Aku kan masih kangen kamu! Kapan lagi kita bisa berduaan. Setelah kita pulang, pasti semuanya sibuk! Dan kalau kamu pulang kerja kamu pasti sama dia!" Haidar tertawa pelan.
"Meski aku sama dia, tapi hati ini tetap buat kamu!" Haidar membentuk jari-jari tangannya hingga membentuk love lalu ia berikan untuk Vio.
"Dasar alay!" cerca Vio menepis tangan Haidar, lalu menghamburkan dirinya ke pelukan Haidar.
"Aku alay karena siapa juga?" Vio dan Haidar tertawa. Haidar mengecup kening Vio.
"Sudah, aku harus berangkat. Aku akan naik penerbangan tercepat. Kamu jaga diri baik-baik ya!" Vio mengangguk dan melepaskan diri dari pelukan Haidar. Haidar bangkit dan mengambil kopernya lalu kembali mendekat pada wanitanya.
"Haidar!" panggil Vio manja. "Uuuummm" dia mengerucutkan bibirnya membuat pria itu tersenyum senang.
__ADS_1
Haidar mendekat dan mengecup bibir Vio, namun segera menjauhkannya saat lidah Vio mulai merangsek masuk.
"Nakal kamu, ya!" Haidar tertawa lirih serah menepuk dahi Vio. Vio hanya tersenyum lebar.
"Pakailah kartu ku untuk apa pun yang kamu mau. Aku pergi dulu ya!" pamit Haidar. Vio mengangguk lalu menggelayuti lengan Haidar hingga ke pintu kamar hotel.
"Hati-hati, sayang!" ucap Vio seraya melambaikan tangannya pada Haidar. Haidar pun melakukan hal yang sama dia melambaikan tangannya pada Vio.
Berat memang meninggalkan kekasihnya sekarang, tapi dia juga tidak bisa begitu saja membuat Yumna membicarakan tentang perceraiannya kepada para orang tua.
Haidar pergi membawa kopernya dengan menggunakan taksi.
Vio menurunkan lengkungan di bibirnya. Dia menatap malas kepergian Haidar, lalu kembali berjalan ke kamarnya setelah menutup pintu kamar hotel Haidar.
"Dia sudah pergi?" seorang pria tengah berbaring di atas ranjang dengan masih menggunakan selimutnya. Vio menutup pintu dan menguncinya.
"Ya, dia pergi!" ucap Vio sendu lalu mendekat ke arah ranjang.
"Hei, kenapa terlihat sedih? Apa kamu sedih tidak mendapatkan apa yang kamu mau?" pria itu membuka kedua tangannya lebar-lebar. Vio mendekat dan melabuhkan kepalanya pada dada bidang pria itu.
"Kamu sudah tahu, kenapa masih bertanya?" Vio menggesekkan hidungnya di leher pria itu
"Oh, ayolah honey. Kamu tidak dapatkan dari dia, tapi kamu bisa dapatkan dari aku! Puaskan hasratmu!" bisiknya, lalu menjilat cuping telinga Vio. Membuat wanita itu terbakar gelora hasrat di dalam dirinya.
Vio tersenyum lalu dia bangkit dan mendorong pria itu hingga kembali terlentang. Vio membuka selimutnya dan memainkan sesuatu yang kini tegak dan mengeras.
"Ahh sshhh...." suara desisan pria itu terdengar nikmat saat Vio memanjakan miliknya degan lidahnya. Meng*lum dan mengh*sapnya seperti permen.
"Akhhh... Faster..." Vio menyunggingkan senyumnya lalu mempercepat gerakannya, menarik turunkan kepalanya, menjepit milik pria itu dengan bibirnya.
Seorang pria lain keluar dari kamar mandi, dia masih memakai handuk melilit di pinggangnya. Tersenyum saat melihat adegan yang tersuguh di depan matanya.
"Sialan, kalian mulai tanpa aku?!" Dia lantas mendekat, memposisikan dirinya tepat di belakang Vio. Pria itu menaikkan roknya hingga terlihat dua bongkahan yang sungguh menggoda untuk dir*mas. Sesuatu di balik handuknya bereaksi seketika.
Pria itu tersenyum saat mendengar Vio mendesis karena ulahnya yang menggoda milik wanita itu. Dia segera menarik tali di kedua sisi pinggang Vio hingga G-string berwarna merah itu terlepas dari tempatnya, dan kemudian dia lemparkan ke lantai.
Pria itu menunduk, membaui dan merasakan area yang sudah basah nan lembab di sana. Meny*sapnya dan menarik ulur lidahnya. Membuat Vio mendesis nikmat diantara permainan lidahnya.
Tak tahan dengan miliknya yang sudah mengeras, pria itu bangkit kembali. Dia menarik handuk di pinggangnya dan kembali melemparkannya ke lantai. Satu tangannya memegang pinggang Vio erat, lalu tangan yang lain menelusup ke dalam bajunya hingga sampai di dada penuh menggoda nan menggiurkan, lalu dengan satu sentakkan terdengarlah suara-suara yang memilukan namun penuh kenikmatan.
AAAAAKKHHHHHHHHHHHH!!!!!
.
.
.
Sebelum para readers mengamuk author mau...
__ADS_1
KABUUUUUURRRR
🏃🏼....🗡🗡🔫🧜♂️🧜♂️🧜♂️🧜♂️🧜♂️🧜♂️🧜♂️🗡