
Vio sudah selesai dengan sesi pemotretannya. Dia mendekat ke arah Haidar dan menarik pria itu untuk ikut bersamanya.
"Joe. Bisa tolong foto kami?" tanya Vio.
Joe, si fotografer, hanya mengangguk seraya memberikan jempolnya.
Vio merapikan jas dan dasi Haidar, begitu juga dengan rambutnya. Jarak mereka sangat dekat membuat Haidar merasa senang. Dia mendekat pada Vio dan mencuri cium bibir wanitanya. Tak peduli dengan keadaan disana yang masih ada beberapa orang dengan status jomblo. Membuat iri saja!
Haidar merasa senang, Vio sangat perhatian padanya.
"Sudah siap?" tanya Joe.
Vio mengangguk. Haidar berada di belakang Vio dengan memeluk pinggang ramping wanitanya. Dagunya ia labihkan di bahu wanita itu. Vio memegang pipi Haidar dan sedikit menoleh pada pria itu.
Cekrek.
Cekrek!
Beberapa pose mereka ambil. Begitu mesra dan intim hingga membuat yang melihatnya merasa iri. Satu cantik, dan satu lagi tampan. Sangat serasi!
...***...
Yumna baru saja keluar dari kantornya, dia menunggu Haidar seperti biasa.
Sepuluh menit. Yang di tunggu belum juga datang. Yumna menunggu dengan sabar.
"Yumna, kamu belum pulang?" suara seseorang yang sangat ia kenal tedengar di belakangnya.
Bima berjalan mendekati putri sulungnya.
"Belum, Pa. Masih nunggu Haidar." jawab Yumna.
"Mau papa antarkan?" tanya Bima, dia merasa kasihan juga melihat putrinya yang berdiri sendirian disini.
Yumna menggeleng pelan. "Gak usah, Pa. Mungkin sedang macet di jalan. Yumna tunggu saja sebentar lagi." jawab Yumna.
Kasihan sebenarnya, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa jika Yumna ingin menunggu suaminya saja.
"Yakin?" tanya Bima.
__ADS_1
Yumna mengangguk.
"Papa pulang saja duluan. Nanti kalau Haidar gak datang juga, aku pulang pakai taksi." ucap Yumna.
"Kenapa kamu gak bawa mobil saja. Di rumah mobil gak ada yang pakai."
"Ah, papa. Rasanya pasti aneh lah karyawan biasa pakai mobil bagus." tutur Yumna. Bima hanya menggelengkan kepalanya. Entah apa yang ada dalam fikiran putrinya ini. Mobil, ada. Fasilitas, ada. Tapi kenapa putrinya tidak mau pakai itu semua?
"Ya sudah. Papa pulang duluan. Kamu hati-hati, ya. Libur nanti pulang ke rumah. Mama dan Syifa kangen!" ujar Bima seraya mengacak rambut Yumna.
Yumna mengangguk senang. Rasanya kangen sekali dengan usapan papanya ini. Semenjak dirinya tinggal di rumah Haidar, tentu dia tidak bisa lagi bermanja-manja dengan Papa Bima atau Mama Lily.
Yumna mengambil tangan papanya dan mencium punggung tangan Bima.
"Hati-hati, ya!" ucap Bima. Yumna mengangguk lalu dia melambaikan tangannya pada Bima. Bima pergi dari sana dengan Pak Naryo yang selalu stay disana.
Pak Naryo membuka pintu untuk Bima, lalu menutupnya. Dia menganggukkan kepalanya pada Yumna yang di balas Yumna dengan hal yang sama.
Dion melihat hal itu, dia merasa sangat kecewa dengan Yumna. Tak ia sangka ternyata Yumna yang sudah bersuami ada hal lain dengan Pak Bima.
Yumna merasa sepi setelah kepergian papanya. Dia kembali menunggu. Sesekali melihat jam di pergelangan tangannya.
"Loh, Yumna. Mana Haidar?" tanya Mami Mitha, dia melihat baju Yumna yang basah. Yumna terdiam. Dia kira Haidar sudah pulang tadi.
"Haidar mungkin ada perlu, mi. Yumna ke atas dulu, ya!" tanpa mendengar jawaban Mitha, Yumna pergi ke lantai atas.
Mitha hanya menatap punggung Yumna yang kini mulai menjauh.
Sebenarnya ada apa dengan mereka? Mitha mencoba berfikir, tapi Entahlah. Dia tentu tidak tahu apapun jika anak-anak itu tidak mengatakan alasannya.
Kemana Haidar? Kenapa dia belum pulang? batin Yumna. Dia mengeluarkan hpnya yang sepi tanpa notif. Biasanya pria itu akan mengirimkan pesan jika dia tak datang menjemput.
Yumna tadi sudah menunggu Haidar selama setengah jam. Bodohnya dia! Apakah Haidar akan menjemputnya setelah pembahasan perceraian kemarin? Tentunya Haidar ingin berakting dengan sungguh-sungguh kan? Mama Mitha pastinya tidak akan membiarkan mereka cerai dengan mudah kalau dia dan Haidar masih pulang pergi bersama.
Yumna tersenyum miris. Setidaknya kalau pria itu ingin menghindarinya dia tetap mengirimkan pesan, bukan? Jadi dia roda perlu bingung apakah dia harus menunggunya atau tidak.
Dia tak ingin mengingatnya lagi. Yumna segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
...***...
__ADS_1
Mitha masih duduk di sofa, dia melipat kedua tangannya di depan dada. Kesal, karena Haidar sampai sekarang belum pulang juga.
"Anak itu! Dari dulu sukanya kabur-kaburan! Aku kira kalau dia udah nikah bakalan berhenti kabur! Ternyata masih begitu saja kelakuan dia!... Kasihan Yumna!" gumam Mitha geram.
Tak lama yang di tunggu pun datang. Haidar dengan santainya masuk ke dalam rumah dengan jas yang tersampir di bahunya.
"Haidar!" panggil Mitha. Haidar menutup pintu dan berjalan ke arah sang mami.
"Dari mana saja kamu?!" Mitha dengan suaranya yang melengking. Suasana di rumah itu sudah sepi karena ini sudah hampir jam sebelas malam.
"Cari angin!" ucap Haidar malas, ia lalu melangkahkan kakinya kembali.
"Cari angin?! Kamu sedari sore pergi kemana? Kenapa gak jemput Yumna? Dia sampe kehujanan gara-gara gak kamu jemput!" teriak Mitha. Haidar terdiam, dia masih kesal karena gadis itu.
"Yumna sudah gede lah, Mi. Masa dia gak tahu kalau hujan dan gak neduh!"
Mitha menatap ke arah putranya dengan kesal. Ingin sekali dia melayangkan sesuatu padanya.
"Sudah ya, Mi. Haidar capek!" ucap Haidar lalu dia pergi dengan cepat ke arah tangga. Lagi-lagi Mitha hanya melihat putranya yang lain pergi ke atas.
Hahh ya ampun! Sebenarnya ada apa sih!
Haidar membuka pintu kamarnya. Yumna sudah tertidur di atas kasur. Dia mendekat ke arah Yumna. Seharian tidak melihat dia rasanya ada yang aneh.
Setelah bercerai nanti tentu kita gak akan ketemu lagi!
Tiba-tiba saja perasaannya terasa aneh. Ada rasa tak rela kehilangan kebersamaan mereka. Pasti sepi!
Haidar menarik kembali tangannya yang terulur, tangannya seperti punya otak sendiri ingin mengelus pipi Yumna.
Lebih baik dia mandi daripada nanti terjadi hal yang tak diinginkan.
.
.
.
Iya-Iya othor dah bangun. 😇😇
__ADS_1