YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
230. Membutuhkan Kasih Sayang


__ADS_3

Bima mengusap kepala Yumna dengan sayang. Dia ikut terharu dengan keadaan dirinya sekarang ini, Yumna masih saja memeluknya dan menangis dengan kencang. Bukan tanpa sebab Yumna ada di ruangan ini dan bersembunyi di ruang istirahat sang ayah, memang Bima sengaja melakukan hal itu, agar Yumna tahu bagaimana ketulusan hati dari seorang lelaki yang kini sedang menjalankan hubungan dengannya.


Malam itu ....


Pembicaraan Bima dengan Lily selesai di ruang kerja. Meski Lily tidak mengerti akan maksud Bima, tapi wanita itu hanya bisa setuju saja, asalkan Yumna bisa terlihat bahagia dengan lelaki pilihannya.


Bima memutar isi kepalanya, bagaimana caranya agar dia menang. Dia memang tidak terlalu menyukai Haidar atas apa yang dahulu pernah dia perbuat pada Yumna, sebenarnya Bima sudah mempunyai calon lain untuk Yumna. Akan tetapi, dia belum bisa mengatakan hal itu pada istrinya atau pun Yumna. Kedua wanita itu terlalu sibuk mengurusi pria yang dulu menyia-nyiakan pernikahan, meski memang pada dasarnya putrinya juga ikut andil dalam kesalahan ini.

__ADS_1


Bima mempunyai ide, cukup untuk dirinya bisa menyingkirkan anak itu dengan tanpa membuat dirinya jelek di mata anak dan istrinya. Ini sudah menjadi keputusan Bima. Jika Haidar tidak bisa melakukan hal itu, maka maaf saja, calon suami yang lain telah menanti dalam masa depan Yumna.


Kembali pada kenyataan ....


Yumna masih saja tidak bisa menghentikan tangisnya, dia merasa bersyukur sekali Bima memberikan kesempatan kedua untuk Haidar.


Yumna merasa tidak setuju. Dia sangat ragu sekali dengan apa yang akan Bima lakukan mengenai pembahasan soal saham yang Bima ajukan pada Haidar. Tidak mungkin jika Haidar akan menyerahkan hal yang berharga seperti itu dengan mudah. Akan tetapi, Bima hanya bergeming dan mengatakan jika semua itu dia lakukan hanya untuk mengetes Haidar saja. Terpaksa Yumna setuju dengan usulan sang ayah. Hanya ini satu-satunya cara untuk dia bisa bersama dengan Haidar.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan menangis lagi. Papa sudah lakukan tugas Papa dengan baik, sekarang kamu yang harus semangati dia agar dia bisa melakukan pekerjaannya dengan baik juga," ucap Bima pada sang putri. Dia mendorong bahu Yumna dan mengusap air mata dari wajah putrinya tersebut. Yumna masih menangis sesenggukan.


"Sebentar lagi, pasti Haidar akan telepon kamu, kamu ke toilet sana, cuci muka kamu. Anggap saja kalau kamu tadi tidak tahu apa-apa. Jangan sampai dia tahu kalau ini adalah rencana kita," ucap Bima sambil menempelkan satu telunjuknya di depan bibir. Yumna mencoba menghentikan tangisnya, dia menganggukkan kepalanya. Bima tersenyum, dia mendekat dan mencium kening Yumna dengan sayang. Putrinya ini sudah besar, dia tidak mungkin akan menahannya terlalu lama.


Saat Yumna menikah dulu dan tinggal bersama dengan Haidar, Bima merasa kesepian, serasa ada yang kurang saat dia tidak melihat seluruh putra dan putrinya ada di depannya. Ada rasa suka dan juga tidak suka saat Yumna kembali ke rumah masa itu. Dia senang karena bisa melihat Yumna kembali di rumah, tapi dia juga sedih atas apa yang terjadi pada putrinya.


Kini, Bima tidak bisa lagi menahan Yumna terlalu lama. Putrinya juga butuh kasih sayang, bukan hanya dari orang tua dan saudaranya saja, tapi juga dari pasangan yang menyayangi dia.

__ADS_1


__ADS_2