
Lily berjalan mondar mandir di teras depan rumahnya. Dia merasa khawatir karena sampai jam segini Syifa belum juga pulang. Anak itu sedari tadi juga tidak bisa di hubungi, hpnya tidak aktif dan Lily tidak bisa menghubungi anak gadisnya itu.
"Pa!" teriak Lily dengan keras. Bima yang masih duduk dengan laptop di pangkuannya kini menolehkan kepala.
"Ada apa?" tanya Bima tak menolehkan kepalanya dari layar laptop.
"Cari Syifa, Pa! Syifa belum pulang juga jam segini. Kemana dia?!" ujar Lily dengan semakin khawatir.
"Ma, tenang saja. Ini juga masih jam sepuluh kurang. Sebentar lagi Syifa juga pasti sudah akan sampai di rumah," ujar Bima. Lily yang mendengar hal itu kini melirik ke arah suaminya dengan kesal. Dia segera mendekat ke arah sang suami dan merebut laptop itu dengan kasar. Bima menatap istrinya dengan tatapan protes, tapi kemudian kembali menundukkan kepalanya saat melihat mata istrinya yang semakin membulat.
"Cari anakmu!" Lily menggeram kesal pada sang suami.
"Iya!" ujar Bima dengan pasrah. bima kini beranjak bangun dan mengambil hpnya. Dia mencoba menghubungi Syifa, tapi nomor putrinya itu kini tidak aktif sama sekali.
"Nomornya gak aktif," ujar Bima. Dia menatap pada istrinya.
Lily menatap kesal pada suaminya. Rasanya ingin sekali mencubit perut suaminya dengan keras.
"Kalau nomornya aktif, sedari tadi aku juga gak akan terlalu khawatir, Mas!" Lily berkata dengan ketus. Bima hanya tersenyum meringis mendengar kekesalan istrinya itu.
"Iya, aku akan cari, tapi cari kemana?" tanya Bima pada istrinya.
"Ya mana aku tahu! cari lah, Mas!" seru Lili semakin kesal.
"Iya!" Bima kini berjalan ke arah luar.
"Mas!" panggil Lily, Bima berhenti dan berbalik arah menatap Lily.
"Ada apa?"
"kamu mau mencari Syifa dengan memakai kolor seperti itu?" tanya Lily lagi. Bima menunduk menatap ke arah kakinya. Dia tersenyum meringis melihat dirinya yang hanya memakai celana boxer pendek hingga memperlihatkan pahanya yang berbulu.
__ADS_1
"Aku ganti dulu," ucap Bima. Dia kemudian pergi ke kamarnya untuk mengganti dengan celana training.
Lily menepuk keningnya. "Ya ampun, Mas. Kamu ini gimana sih? Anak-anak sudah besar seperti ini kamu malah kelakuan kayak anak muda aja, pakai kolor pendek kayak si kembar!" cerca Lily sedikit keras hingga terdengar jelas oleh sang suami yang ada di dalam kamar.
"Kan jiwaku masih muda, Lily!" terdengar teriakan dari dalam kamar itu membuat Lily kini memutar bola matanya dengan malas.
Lily tak peduli, kini dia menyimpan laptopnya di atas kursi dan pergi ke luar rumah kembali.
Lily menatap ke arah gerbang yang masih saja tertutup, berharap gerbang itu terbuka dan melihat sang putri pulang ke rumah.
Juan kini menghentikan mobilnya di depan rumah yang besar. Dia melihat dari dalam mobilnya jika ada seseorang yang sedang berjalan mondar mandir di teras rumah.
Perlahan tangan Juan terulur. Dia membangunkan Syifa yang sedari tadi tertidur dengan pulas hampir di setengah perjalanan mereka.
"Syifa! bangun." Juan menggoyangkan bahu Syifa dengan pelan. Gadis itu hanya menggeliat pelan saja, tapi tak sampai membuka matanya.
"Syifa, Bangun. Ini sudah sampai di rumah." Juan lagi-lagi menggoyangkan bahu Syifa, tapi kini tangannya malah di tarik oleh Syifa dan dipeluknya dengan erat.
"Temenin aku tidur, Ma!" ujar Syifa di antara tidurnya. Juan sampai menghela napasnya karena dia sangat dekat dengan gadis itu. Aroma wangi tubuh Syifa kini menguar di bawah hidungnya. Dada Juan berdebar tatkala menatap mata Syifa yang tertutup rapat, alis tebal gadis ini, hidung mancung dan bibir yang tipis membuat Juan tiba-tiba menjadi gemas.
Juan berusaha menjauhkan dirinya dari Syifa. Dia menarik tangannya dari pelukan gadis ini.
"Syifa, bangun. Kita sudah sampai di rumah kamu," ucap Juan sekali lagi.
Kali ini Syifa mengerjapkan matanya dan menatap Juan di dekatnya.
"Eh, apa Kak Juan? Kok berhenti mobilnya?" tanya Syifa yang kini mengedarkan tatapannya ke luar mobil.
"Kita sudah sampai, apa kamu mau melanjutkan tidur kamu di mobil atau turun?" tanya Juan dengan terkekeh. Juan merasa lucu dengan wajah khas bangun tidur Syifa. Imut.
"Eh, sudah sampai di rumah? Sejak kapan?" tanya Syifa bingung.
__ADS_1
"Sejak tadi. Agak lama sampai aku lihat kamu mengigau menyebut mama," ucap Juan.
Syifa terdiam saat Juan mengatakan hal itu, malu dirinya sampai ketiduran dan ketahuan mengigau oleh seseorang, apalagi seorang pria.
"Eh, maaf. Maafkan aku. Kalau begitu, aku akan turun. Terima kasih karena sudah mengantarkan aku pulang," ucap Syifa pada pria di sampingnya.
Juan hanya mengangguk lalu melihat Syifa kini turun dari mobilnya.
"Terima kasih tumpangannya. Bye!" seru Syifa pada pria itu. Juan hanya menatap kepergian Syifa yang kini setengah berlari masuk ke dalam gerbang.
Juan masih ada di sana, melihat punggung Syifa yang kini berlari menuju wanita yang telah melahirkannya.
"Aneh!" gumam Juan. Akan tetapi, Juan sendiri tidak tahu maksud apa yang dia gumamkan barusan. Juan menggelengkan kepalanya. Dia kemudian melajukan mobilnya kembali meninggalkan rumah itu.
Lily menatap Syifa yang kini berlari ke arahnya. rasa khawatir yang tadi sempat ia rasakan kini berubah menjadi lega.
"Mama!" teriak Syifa seraya memeluk sang mama dengan erat.
"Syifa! Kamu ini kemana saja? Mama khawatir kamu gak pulang sedari tadi. Mama sudah banyak telepon kamu, tapi kamu gak angkat, kenapa buat Mama khawatir, hah?!" Lily berbicara panjang lebar, kini melepas pelukannya dari sang putri dan menarik telinga Syifa, membuat anak gadisnya itu kesakitan. Lily terlanjur kesal karena sudah di buat khawatir oleh anak gadis yang satu ini.
"Aww, Ma! Sakit!" teriak Syifa, kedua tangannya menahan tangan sang mama yang menarik telinganya. Tubuhnya sedikit membungkuk karena tarikan tangan sang Ibu di telinganya.
"Kamu ini sudah buat Mama khawatir! Dari mana saja kamu? Mama kan sudah bilang kalau kamu harus pulang sebelum jam setengah sepuluh! Ini sudah terlambat satu jam, Syifa!" geram Lily kini marah.
"Eh, iya. Syifa minta maaf, tadi Syifa sama Rani, Ma. Dia curhat gitu. terus kemalaman karena menunggu ojek gak datang-datang," kilah Syifa, Lily kini melepaskan tangannya dari telinga Syifa, menatap anak itu yang sedang mengusap salah satu sisi kepalanya. Bibir Syifa mengerucut kesal karena sang mama sembarangan saja menarik telinganya. Bagaimana kalau nanti terlepas?
"Mama sudah menelepon kamu banyak sekali, kenapa kamu gak angkat telepon dari Mama?!" seru Lily.
"Eh, iya kah? Perasaan gak ada telepon," ujar Syifa. Syifa mencari hpnya di dalam tas, tapi apa yang dia cari tidak ada di sana padahal dia yakin jika tadi hpnya masih ada sampai dia membatalkan pesanan ojek online-nya.
Hah? Apa terjatuh di sana?
__ADS_1