
Hampir dua jam lamanya mereka di perjalanan, kini telah sampai di rumah. Dengan segera Pak Dani membukakan pintu gerbang dan membiarkan mobil majikannya masuk ke dalam pekarangan rumah tersebut. Yumna segera turun dan bertanya tentang Syifa.
"Kemarin sore sih datang, tapi pulang lagi karena di rumah gak ada orang," ucap Pak Dani.
"Oh, saya gak tau, Pak. Kemarin kayaknya gak pegang hp seharian," ucap Yumna.
"Oh, pantas aja Mbak Syifa sampai kelihatan kesel. Pulang lagi karena gak ada orang," ucap Pak Dani mengulangi perkataannya.
"Ya sudah, Pak. Makasih ya, nanti saya hubungi Syifa," ucap Yumna.
Pak Dani melihat Yumna hendak masuk. Akan tetapi, menghentikan laju langkah kaki Yumna dengan sebuah pertanyaan. "Apa Mbak Yumna butuh sarapan? Mau saya carikan?" tanya laki-laki itu lagi.
Yumna menggelengkan kepalanya. "Gak perlu, Pak. Sudah tadi sarapan di jalan. Makasih," ucap Yumna lalu pergi dari hadapan Pak Dani dengan segera.
Yumna masuk ke dalam kamarnya, bertemu dengan Haidar yang kini mengganti pakaian kerja.
"Syifa gak ada ya?" tanya Haidar saat Yumna mendekat.
"Iya, kemarin dia datang, tapi pulang lagi karena di rumah kan gak ada orang," ucap Yumna lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya. Yumna segera mengganti pakaian untuk bekerja. Mereka tadi sudah sarapan di dalam mobil. Yumna yang menyuapi Haidar sambil menyetir mobilnya.
"Kamu yakin gak capek? Mau kerja aja?" tanya Haidar saat mereka baru keluar dari dalam rumah dan bersiap untuk pergi bekerja.
"Kerja, aku gak mau kena SP lagi," ucap Yumna. "Aku berangkat sendiri aja, gak perlu diantar. Kamu juga capek kalau sampai antar aku ke kantor," ucap Yumna lagi.
"Aku gak apa-apa, kok. Gak capek juga." Tolak Haidar.
__ADS_1
"Gak apa-apa, aku bisa berangkat sendiri. Kamu dari pagi udah bawa mobil, bakalan capek kalau harus antar aku kerja. Aku berangkat dulu ya," pamit Yumna sambil memeluk singkat sang suami.
"Ya sudah. Kamu hati-hati bawa mobilnya. Jangan ngebut ya." Pinta Haidar. Tak lupa dengan kecupan mesra di kening Yumna dengan lembut.
"Iya, Sayang. Aku gak akan ngebut bawa mobilnya. Kamu juga jangan ngebut di jalan, nanti kalau sudah sampai chat aku ya," pinta Yumna lagi.
"Oke," jawab Haidar lalu dengan sedikit berat melepaskan Yumna pergi. Yumna menuju ke arah mobilnya berada. Haidar menunggu hingga Yumna masuk ke dalam kendaraannya kemudian dia juga masuk ke dalam mobilnya. Kedua mobil itu beriringan keluar dari rumah tersebut, Yumna ke arah kiri, sedangkan Haidar ke arah kanan.
...***...
"Akh, rasanya aku ngantuk," ucap Yumna di saat hampir jam makan siang, dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, mengusap wajahnya yang lelah. Tubuhnya lelah sekali dan ingin rasanya berbaring saat ini. Perjalanan tadi pagi membuat dirinya lelah sekali. Haidar memang menyuruhnya untuk kembali tidur selama di perjalanan, tapi rasanya Yumna tidak tega jika membiarkan Haidar menyetir sendirian saja.
"Tumben kamu gak semangat hari ini. Biasanya aja paling semangat kalau kerja," ucap Mira dari tempatnya duduk setelah memperhatikan Yumna sedari pagi tadi.
"Oooh, honeymoon kah?" tanya Mira sambil menutupi mulutnya yang tertawa kecil.
"Ya, bisa dibilang gitu lah," ujar Yumna malu.
"Asik banget sih, bisa liburan bareng suami. Seru dong ke pantai?"
"Lumayan, tapi sayang banget. Hujan, jadi gak bisa menikmati laut lama-lama," ujar Yumna lagi dengan nada yang pelan.
"Ekhem! Jam kerja, jangan ngobrol terus!" seru seseorang dari tempat yang sedikit jauh dari Yumna dan Mira berada, senior di tempat tersebut. Mira merasa kesal karena jam kerja hanya lima menit lagi.
"Ya elah, Mbak. Ini dah mau jam makan siang juga. Lagian kerjaan juga bentar lagi kelar," ujar Mira dengan kesal. Yumna menyenggol lengan Mira agar tidak melanjutkan debatnya. Memang jam kerja masih berlaku meski lima menit lagi sebelum jam makan siang.
__ADS_1
"Udah, jangan cari masalah," ucap Yumna sambil berbisik.
Mira mendelik kesal terhadap Yumna. "Gak cari masalah. Lihat tuh, sendirinya juga malah ngobrol sama yang lain, kenapa kita gak boleh?" Tunjuk Mira dengan menggunakan dagunya ke arah senior yang tadi menegurnya, kini tengah berada di tempat yang lain dan terlihat tersenyum sambil mengobrol. Yakin jika mereka bukan membahas soal pekerjaan jika dilihat dari senyum dan tawa kecilnya.
"Udah deh, nanti kalau ketahuan manajer bakalan kita juga yang ditegur. Tau sendiri dia pinter banget ngomongnya," ujar Yumna lagi. Mira kesal, tapi segera kembali pada pekerjaannya.
Jam makan siang telah tiba, Yumna dan Mira pergi ke kantin perusahaan hanya berdua saja. Senioritas yang terjadi di sana membuat Yumna dan Mira sedikit kesulitan untuk berbaur dengan orang yang lebih dulu bekerja di perusahaan tersebut.
Panggilan dari Syifa membuat Yumna menghentikan makannya, ternyata adiknya itu sudah sedari pagi menghubunginya.
"Kakak!" teriak Syifa yang membuat Yumna seketika menjauhkan hp tersebut dari telinganya.
"Ada apa sih? Gak usah teriak juga kali!" ujar Yumna dengan kesal merasakan kejutan suara di telinganya.
"Aku mau ke rumah Kak Yumna malam nanti. Gak boleh gak ada di rumah. Wajib ada pokoknya!" teriak Syifa lalu tanpa menunggu jawaban dari kakaknya menutup panggilan tersebut.
Yumna memanggil Syifa, tapi sudah tidak tersambung lagi panggilan tersebut.
"Suami?" tanya Mira sambil menatap Yumna.
"Adik."
"Oh, kirain suami kangen tuh," Mira menutup mulutnya yang tertawa kecil.
Ingat Mira menyebut suami membuat Yumna membuka hpnya dan mencari chat terbaru dari suaminya, tidak ada chat apa pun dari Haidar.
__ADS_1