
Setelah pembahasan itu Haidar merasa kasihan dengan Ben dan Agnes. Dia tidak menyangka jika ternyata ada hal yang lebih menyedihkan lagi yang terjadi dengan saudaranya itu. Tidak memiliki anak rasanya lebih sakit dari pada hanya menunggu saja.
Haidar mengendarai mobilnya kembali ke kantor dengan perasaan yang campur aduk. Dia dan Darren memberikan solusi dengan bayi tabung saja, tapi Ben hanya menggelengkan kepala, dia dan Agnes juga sudah mencobanya dua kali, tapi keduanya gagal dan Agnes masih belum mau mencoba lagi karena takut jika akan gagal lagi. Berbagai cara untuk memiliki momongan sudah mereka lakukan, bahkan berobat ke luar negeri pun sudah, tapi Ben juga tidak ingin memaksakan dengan sesuatu yang akan membuat Agnes tersakiti.
...***...
Apa yang menjadi pembicaraan Haidar dan Ben siang itu membuat Haidar menjadi kepikiran, dia menjadi sering melamun mengingat hal tersebut.
Yumna yang melihat Haidar hanya diam menonton tv hanya mengerutkan keningnya, jelas jika suaminya itu tidak berfokus pada layar yang ada di depan mereka, bahkan panggilan Yumna pun tidak direspon sama sekali.
"Sayang!" panggil Yumna seraya menyentuh tangan Haidar, yang mana hal itu membuat Haidar terkejut dan segera menekan tombol pada remot tv.
"Eh, kamu nggak suka acara ini ya?" tanya Haidar, acara yang sedari tadi Yumna lihat kini beralih menjadi acara menyanyi dan menari.
__ADS_1
"Eh, malah dipindah. Aku tuh mau tanya, kenapa kamu kaya bingung begitu?" tanya Yumna.
Haidar menjadi gelagapan karena pertanyaan istrinya yang ternyata dia salah mengira tadi.
"Eh, bukan acara tv nya ya?" tanya Haidar lagi, tersenyum malu.
"Bukan, kamu itu dari tadi ngapain juga sih? Ngelamun. Ada masalah apa?" tanya Yumna sekali lagi.
Akhirnya, Haidar pun bercerita tentang apa yang terjadi dengan Agnes. Bukan ingin menyebar aib saudara sepupunya, tapi Haidar ingin pergi ke rumah Agnes untuk menunjukkan rasa simpatinya pada wanita itu.
"Aku mau ke sana kapan-kapan. Kalau kamu izinkan," ucap suaminya itu.
"Iya, tentu aja. Kalau kamu mau ke sana nggak apa-apa. Aku juga ikut kalau boleh," ujar Yumna yang mendapatkan anggukkan kepala dari Haidar.
__ADS_1
Akhirnya saat hari libur tiba, Yumna dan Haidar pergi ke rumah Ben dan Agnes. Mereka hanya bertemu dan tidak membahas soal anak di sana, hanya bertemu dan mengobrol biasa saja. Tampak sepupu dari Haidar tersebut merasa senang karena ada orang lain yang datang ke rumah ini. Jarang sekali ada yang datang karena kebanyakan temannya sibuk dan tidak bisa berkunjung.
"Maaf ya kami merepotkan," ucap Yumna saat mereka akan kembali pulang ke rumahnya.
"Merepotkan apa? Justru aku senang kalian datang ke sini, aku jadi ada temannya," ucap Agnes, sedih dengan Haidar dan Yumna yang akan kembali ke rumahnya.
Mobil yang Haidar kendarai kini melaju di jalanan yang lumayan ramai.
"Haidar, boleh aku tanya?" tanya Yumna pada sang suami.
"Iya, apa?" tanya Haidar tanpa mengalihkan tatapannya dari jalanan yang ada di depannya.
"Kalau aku kayak Agnes, kamu bakalan tetap sama aku nggak sih?" tanya Yumna ingin tahu.
__ADS_1
"Apa sih yang kamu bilang, Yumna. Tentu aja kita akan sama2 terus," ucap laki-laki itu lagi.
...***...