
"Udah nggak sakit? Kok bisa?" tanya Haidar heran.
Yumna menggelengkan kepalanya. "Nggak tau, udah nggak sakit aja sih," ujar Yumna merasa bersalah karena sudah membuat Haidar kelabakan juga.
"Pulang yuk," ucap Yumna. Akan tetapi, Haidar mengelengkan kepala dan tetap membawa Yumna untuk pergi ke ruangan dokter.
"Nggak, kamu tetep harus diperiksa. Ya kali aja kan kamu mau lahiran, Yumna," ujar Haidar. Sudah terlanjur juga datang ke sini.
"Tapi aku nggak apa-apa, Haidar. Beneran udah nggak sakit lagi," ucap Yumna.
Haidar tetap membawa Yumna untuk mengantri di ruang tunggu. Dia tidak mau perjalannya sia-sia, apa lagi tadi Yumna mengatakan jika perutnya sakit.
Hampir satu jam lamanya mereka menunggu, akhirnya Yumna masuk ke dalam ruangan dokter dan mendapatkan pemeriksaan. Dokter yang melihat Yumna merasa senang karena sudah beberapa saat lamanya Yumna tidak kelihatan sedari kemarin.
"Ibu Yumna. Sudah kembali dari liburannya? Bagaimana di sana? Apakah menyenangkan?" tanya dokter yang membuat Yumna terheran.
__ADS_1
Eh, siapa yang liburan? batin Yumna. Rupanya dokter tersebut pernah menghubungi nomor Haidar dan menanyakan karena Yumna tidak kunjung juga diperiksa
"Iya, Dokter. Istri saya sangat senang sekali di sana. Kan, Sayang?" Haidar melirik pada Yumna yang kemudian mendapatkan anggukkan kepala dari sang istri.
"Iya, saya liburan kemarin, sangat suka, Dokter." Yumna menjawab terbata.
"Syukurlah. Saya ikut senang dengernya.
"Oh, ya. Di sana juga rutin diperiksa kan?" tanya dokter. Yumna menganggukkan kepala. Meskipun dia hanya sendiri di sana, tapi dia juga memperhatikan kesehatannya dan juga bayinya.
"Anu, Dokter. Yumna ngerasa sakit di daerah perut bawah. Itu kenapa ya? Apa mungkin Yumna mau lahiran sekarang?" tanya Haidar cepat. Terlalu banyak basa basi dari dokter ini, sehingga Haidar tidak sabar mendengarnya.
"Loh, ini kan baru delapan bulan dua minggu," ucap dokter bingung.
"Saya nggak tau, Dokter. Tadi saya kerasa sakit aja perut bawahnya."
__ADS_1
Yumna menyampaikan keluhan yang dia rasakan dari tadi.
Sementara itu di tempat lain, Mitha memilih pakaian bayi di dalam toko. Dia sangat antusias sekali dengan kabar yang dia dapatkan dari Haidar. Beberapa baju telah mengisi keranjangnya, untuk warnanya dia mencari yang sekiranya cocok untuk anak perempuan dan laki-laki. Dia tidak tahu apakah jenis kelamin kedua cucunya, Yumna dan Haidar tidak mengatakannya.
Pelayan mengikuti langkah kaki Mitha mencari pakaian bayi. Mitha selalu risih jika ada yang mengikuti. Maka dari itu dia menyuruh pelayan itu untuk meninggalkannya.
"Hiss, risih kalau diikuti kayak begitu," ucap Mitha seraya memilih pakaian kembali. Dia baru terpikir sesuatu, apakah Lily sudah tau jika Yumna akan melahirkan? Segera dia menghubungi Lily, dan benar saja jika Lily ternyata belum tahu hal ini.
"Aku tunggu nanti di sini ya," ucapnya, Lily mengiyakan dan segera pergi ke arah kamarnya untuk mengambil tas dan mengganti pakaian. Tidak membutuhkan waktu yang lama, dia segera keluar dan pergi ke mobilnya.
"Ma, mau ke mana?" tanya si bungsu, siapa lagi kalau bukan Azkhan, saat melihat Lily berjalan dengan cepat.
Lily tersenyum senang.
"Ke rumah sakit. Kayanya kak Yumna mau lahiran," jawab Lily. Azkhan tersenyum senang mendapat kabar seperti itu. Dia mengajukan dirinya untuk menjadi sopir ibunya hari ini.
__ADS_1