YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
259. Lamaran Kedua Kali


__ADS_3

"Haidar!" teriak Mitha dari luar kamar Haidar, sudah lebih dari lima belas menit yang lalu Mitha dan yang lainnya menunggu, tapi Haidar belum juga keluar dari dalam kamarnya.


Kesal menunggu, lantas Mitha menggedor pintu kamar Haidar dengan cukup keras masih meneriakkan nama anaknya dengan kesal.


"Mana Haidar? Di bawah yang lain sudah menunggu." Arya yang baru saja menyusul istrinya ke lantai atas. Terlihat sekali wajah Mitha yang kesal.


"Tau, nih Haidar kemana. Pingsan kali! Dari tadi Mami gedor pintunya gak dia bukain!" ujar Mitha geram sambil menendang pintu dengan cukup keras. Arya menggelengkan kepalanya melihat tabiat sang istri yang berubah menjadi T-Rex jika dia sedang marah.


"Ya sudah, Mami ke bawah saja. Yang lain nunggu tuh. Haidar biar Papi yang panggil," ucap Arya pada sang istri. Tanpa menjawab ucapan suami, Mitha pergi begitu saja dari hadapan Arya.


Sementara itu di dalam kamar, Haidar tengah bingung dengan apa yang dia pakai, padahal jelas sekali baju batik yang sudah dipersiapkan oleh Mitha hanya tinggal dia kenakan saja. Untuk kali ini dia merasa kurang pede dengan penampilannya. Jika dulu, saat pertama kali melamar Yumna dia merasa baik dan biasa saja, tapi tidak dengan kali ini. Gugup sehingga dia merasa dirinya kurang baik.


"Haidar!" teriak Arya, terdengar laki-laki itu sedikit kesal kali ini karena sudah beberapa kali memanggil tidak ada respon dari anaknya. "Kalau gak jadi berangkatnya Papi akan suruh yang lain pulang aja," ucap Arya dari luar, mendengar ucapan ayahnya itu Haidar lantas membuka pintu yang dia kunci.


"Astaga! Belum di baju juga?" Arya semakin kesal lantaran Haidar hanya memakai celana panjang dan kaos singlet di tubuhnya.


Haidar tersenyum malu, menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Gugup, Pi." Haidar berkata dengan singkat.


"Ya ampun, padahal bukan sekali ini juga kamu melakukan lamaran. Kan dulu pernah juga," ujar Arya sambil masuk ke dalam kamar Haidar, melihat di atas kasur sangat berantakan membuat Arya menggelengkan kepalanya, selalu saja kamar ini tidak bisa rapi.


"Ya itu kan dulu tanpa perasaan, Pi. Kalau sekarang kan pake perasaan, jadi kalau gak sempurna gimana ya?" ujar Haidar dengan bingung. "Ah, kayak Papi gak pernah muda aja, jadi ragu dulu pas Papi lamaran kayak gimana sih? Gak gugup juga, kah?" tanya Haidar. Arya memberikan baju batik senada seperti yang dia pakai untuk Haidar, segera haidar memakai pakaian tersebut.

__ADS_1


"Ya gugup, lah. Tapi gak lebay juga gini kayak kamu," ujar Arya. Haidar menatap ayahnya dengan malas.


"Lebay dari apanya, ini mah kan cuma kecemasan aja, Pi. Yang namanya gugup mau di gimanain lagi," ujar Haidar. Baju yang dia kenakan sudah dikancing, dia juga meraih sisir dan merapikan rambutnya.


"Ya, sudah. Cepat kamu turun, nanti kalau nenek dan kakek sama yang lainnya kesel bisa-bisa kamu yang pergi lamaran sendiri aja ke sana, biar di makan tuh sekalian sama Mas Bima!" ujar Arya kesal, lalu meninggalkan putranya di kamar. Haidar hanya berdecak dengan kesal.


"Dasar orangtua! kenapa juga gak ngertiin anaknya? Apa gak tau kalau gue lagi gugup? Kayak gak pernah muda aja. Ingat, Pi. Dulu gimana gugupnya waktu lamar Mami?" gumam Haidar, yang ternyata terdengar oleh Arya yang balum sepenuhnya keluar dari kamar tersebut.


"Hei, Papi masih bisa denger loh! Kamu pergi sendiri sana!" bentak Arya dari ambang pintu tanpa menoleh kepada anaknya.


"Iya, maaf. Kan cuma ngomong aja!" teriak Haidar tak kalah seru. Arya kini benar-benar meninggalkan anaknya di dalam kamar.


"Astaga! Makin tua makin galak aja papi gue, perasaan dulu gak galak deh, masih kalem. Emang ya, pengaruh mami itu sangat besar sampai bikin sekelas Arya Danu Rahadian yang kalem berubah sifat jadi kayak ular, tenang tapi ternyata bisa galak!" gumam Haidar lagi setelah memastikan jika ayahnya telah benar-benar pergi dari sana. Haidar segera menyelesaikan ritualnya meski rasanya penampilan kali ini masih dirasa kurang keren.


Beberapa anggota keluarga yang menunggunya kini menatap Haidar dengan kesal, setengah jam menunggu hingga hampir menghabiskan makanan ringan yang ada di dalam toples.


"Kirain gak jadi mau lamarannya?" tanya sepupu Haidar dengan sarkas, matanya menyipit tanda jika dia sedang kesal.


"Jadi lah, siapa yang gak mau meminang calon istri idaman?" tanya Haidar tak peduli.


"Dih, calon istri idaman, dulu aja di sia-siakan? Sadar lo? Ruqyah di mana bisa sampai sadar gitu?" tanyanya lagi, kini membuat Haidar kesal dan rasanya ingin melempar sepatu hitam mengkilatnya ke kepala sepupu bawelnya itu.

__ADS_1


"Sudah eh, jangan bertengkar, Kalian ini saudara kenapa juga harus debat?" Nenek yang sedari tadi memperhatikan kini ambil suara, membuat kedua pemuda itu diam. Tak ada yang bisa menyangkal ucapan dan putusan nenek, bahkan kakek pun masih kalah dengan nenek yang cantiknya masih terpancar hingga usianya yang tak lagi muda.


"Siap berangkat, gak enak kalau sampai terlambat." Nenek kini bangkit, diikuti kakek dan juga saudara yang lainnya. Meski Arya dan Mitha sama-sama anak tunggal tapi masih ada sepupu dekat yang bisa ikut meramaikan acara lamaran kali ini. Lebih ramai daripada dulu saat pertama kali melamar Yumna. Sayang, Agnes dan Ben tidak bisa ikut dengan mereka karena sedang berlibur di luar kota.


"Ih, memang Nenek hebat ya. Kakek juga gak bisa berkutik, nurut sama nenek," bisik sepupu Haidar dengan sangat pelan sekali.


"Hooh, kayaknya emang di keluarga ini wanita paling dominan daripada laki-laki. Bokap lo juga gitu, kan? Suami takut istri?" bisik Haidar pelan.


"Bukan suami takut istri, tapi sayang sama istri. Papi lo juga sama," bisik pemuda itu tak mau kalah.


"Heh, papi gue membebaskan istrinya untuk berdiri di depan. Sosok laki-laki yang lebih mengedepankan istri daripada dirinya sendiri," ujar Haidar.


"Ngeles aja lu, Bambang!" decak kesal sepupunya itu.


Semua orang masuk ke dalam mobil, dengan empat mobil yang berbeda mereka beriringan pergi menuju ke rumah Yumna.


Empat mobil itu kini beriringan masuk ke dalam halaman rumah Yumna, satu persatu berhenti dan orang-orang yang ada di dalamnya keluar.


"Mi, Haidar gugup banget nih," ujar Haidar memegang tangan Mitha, terasa dingin tangan itu di membuat Mitha ingin tertawa.


"Kamu ini, bukan pertama kali loh datang ke sini, ini kali kedua." Mitha menahan tawa, anak berandalan susah diatur ternyata bisa manis juga saat gugup seperti ini.

__ADS_1


"Beda katanya, Mi? Dulu kan gak ada perasaan, sekarang kan dia sudah cinta. Sudah sadar dari khilafnya," ujar Arya yang benar adanya. Haidar berdecak kesal saat Mitha kini tertawa, membuat yang lain heran dengan tawa Mitha.


__ADS_2