YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
314


__ADS_3

Pagi ini Haidar mengantarkan Yumna pergi ke kantornya, dia tidak ingin Yumna pergi dengan mengendarai mobilnya sendiri, takut jika akan terjadi sesuatu terhadap Yumna.


"Sayang, apa baiknya kita ambil sopir?" tanya Haidar.


"Buat apa?"


"Untuk antar jemput kamu ke kantor lah."


"Nggak perlu, kan aku cuma sampai minggu depan aja kerjanya, lagian juga buat apa sopir? Tapi kalau kamu mau ambil buat kamu ke kantor nggak apa-apa sih," jawab Yumna.


"Aku inginnya buat kamu aja. Kalau buat aku sendiri sih, aku bisa. Lagian kesibukkan aku juga belum kayak papi atau Papa Bima yang harus sering ke luar kota," ujar Haidar.


"Aku nggak perlu, lagian cuma sebentar lagi, aku bisa pakai taksi," jawab Yumna.


Mobil sudah sampai di depan perusahaan Yumna, wanita itu bersiap untuk turun.


"Yumna, kamu akan baik aja kan?" tanya Haidar sedikit khawatir. Yumna mengerutkan keningnya dan tersenyum kecil.


"Kamu ini, aku cuma kerja. Nggak apa-apa," jawab Yumna lalu bersiap untuk membuka pintu. Dia kemudian terdiam dan mengingat sesuatu, mendekat ke arah sang suami dan menangkupkan telapak tangannya ke pipi Haidar, mencium suaminya singkat.


"Aku akan baik-baik aja Haidar. Aku janji akan jadi ibu yang baik dan menjaga kedua anak kita dengan sangat baik sekali," ucap Yumna berusaha meyakinkan Haidar.


Haidar hanya menganggukkan kepalanya, dia harus yakin dengan Yumna, bagaimana pun juga tidak mungkin jika Yumna tidak akan menjaga kedua anaknya dengan baik.


"Oke, nanti siang aku nggak bisa ajak kamu makan siang. Tapi aku akan suruh asisten aku buat antarkan makanan. Kamu nanti makan ya?" titah Haidar. Yumna mengangguk dan tersenyum lagi.


"Aku masuk dulu, kamu hati-hati di jalan," ujar Yumna sambil melambaikan tangannya ke arah Haidar. Haidar sedikit menundukkan kepalanya dan mencium perut rata istrinya dengan lembut, mengusapnya dengan penuh cinta.


"Papa kerja juga, ya. Kalian baik-baik di dalam perut Mama, jangan nakal dan jangan bikin ulah," ucap Haidar seakan memberi peringatan kepada kedua calon anaknya itu. Yumna tersenyum sambil mengusap kepala sang suami. Tampak wajah Haidar sangat bahagia setelah mendapati kabar berita ini.


"Iya, Papa. Kami akan jadi anak yang baik," ucap Yumna dengan nada khas anak kecil.


Haidar terpaksa melepaskan kepergian Yumna, dia membalas lambaian tangan sang istri yang ada di luar mobilnya.


Yumna segera masuk ke dalam perusahaan sementara Haidar menunggu sang istri dari mobilnya. Hingga wanita itu menghilang dari pandangan, baru lah dia akan pergi dari sana.


Haidar mengambil sesuatu yang ada di dalam tas, sebotol kayu putih dia bubuhkan sedikit banyak di tangan lalu mengusapkannya ke pinggangnya yang terasa pegal.


"Aww." Haidar mend*sis, mengusap pinggangnya yang lumayan sakit, rasanya pegal setelah semalam Yumna bergerak lama di atasnya.


"Ya ampun, apa ini hormon ibu hamil ya? Enak sih enak, aku tinggal pasrah, tapi ... rontok juga kalau lama-lama," ucap Haidar, setelah selesai mengurut sedikit pinggangnya dia kemudian menjalankan kendaraannya menjauh dari perusahaan tersebut sambil menahan pegal.


Pagi ini Yumna masuk ke kantornya dengan wajah yang berseri, tampak senyuman di bibirnya tidak pudar dari semalam. Dia sempat tidak menyangka jika dia bisa melakukan hal yang seperti itu kepada suaminya sendiri. Entah kenapa, tapi rasanya tidak tahu malu saja main naik tanpa permisi.


'Masa aku sampai naik dua kali,' gumam Yumna merasa malu. Haidar sampai kewalahan karena dia yang sudah tertidur mendapati dirinya naik kembali dan membuat suaminya itu terbangun karena ulahnya.


Lift yang menuju ke lantai atas terbuka, di depannya ada beberapa karyawan yang hendak naik ke atas sana. Yumna segera melangkahkan kakinya sedikit lebih cepat, tapi kemudian dia sadar dan ingat jika dia tidak boleh terlalu terburu-buru. Ada anak yang harus dia jaga. Katakan saja jika mungkin dirinya lebai, tapi apa salahnya jika semua harus dilakukan secara hati-hati untuk menjaga semua kemungkinan yang tidak diinginkan.


Akhirnya setelah berjalan sedikit cepat dia bisa masuk ke lift itu dan menghantarkan mereka ke lantai atas. Sedikit sesak sebenarnya yang membuat Yumna menyesal, lift hampir penuh oleh wanita dan juga pria. Aroma dari parfum yang bercampur baur membuat dia sedikit tidak nyaman dan memilih untuk bernapas melalui mulut.


Setelah sampai di lantai yang dituju, pintu lift terbuka dan segera Yumna keluar dari sana. Dia menarik napas sebanyak-banyaknya.


"Untung aja aku nggak muntah," gumam Yumna lega.

__ADS_1


Derap suara langkah kaki terdengar mendekat. "Yumna," panggil seseorang. Mira berjalan mendekat ke arah temannya itu. "Baru datang? Tumben agak siangan?"


"Iya, tadi agak macet," ucap Yumna beralasan, padahal tadi hampir terlambat karena ... ya, begitu lah. Hehe. Hampir melakukannya lagi jika saja Pak Dani tidak melihat dan berteriak terkejut, mungkin saja mereka berdua akan lanjut di meja makan tadi dan sarapan selain nasi.


"Ooh, yuk ke ruangan," ajak Mira. Yumna sudah tahu dari mana Mira, karena biasanya setelah datang wanita ini selalu saja ke kamar mandi.


Desas desus terdengar saat Yumna dan Mira baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Pandangan yang lainnya tertuju pada dirinya sehingga membuat Yumna merasa aneh.


Yumna dan Mira baru saja duduk di kursinya, berusaha untuk abai dengan tatapan yang lain.


"Eh, Yumna," panggil seseorang dari samping. "Kita tau kok kamu tuh cantik, kamu tuh jadi idola di perusahaan ini. Tapi ... bisa nggak sih kamu sadar. Kasihan suami kamu, punya istri yang gaya hidupnya selangit. Nggak sadar suami kerjanya apa," ucap wanita itu dengan nada dan tatapan yang sinis.


Yumna tidak mengerti dengan apa yang wanita itu katakan. "Maksud Mbak apa ya?" tanya Yumna bingung, begitu juga dengan Mira yang tidak tahu asal muasal temannya itu berbicara kepada Yumna. Padahal sudah berbulan-bulan Yumna bekerja di sini, tapi masih tetap saja senioritas terjadi di ruangan ini.


"Masa kamu nggak ngerti juga? Kamu kan suka bawa mobil ke kantor, itu mobil majikan kamu kan? Duh, ya ampun kasihan banget sih suaminya. Emang ya kamu tuh cantik, kamu tuh beruntung bisa masuk ke perusahaan ini. Yaa ... Walaupun nggak yakin sih itu karena pendidikan atau ...." Wanita itu terdiam sejenak, menatap Yumna dengan tatapan jijik.


"Kamu tuh harusnya sadar dong dengan keadaan kamu. Masih kerja ikut orang aja gaya nya pengen selangit. Kita aja yang udah lama di sini nggak segitunya," ujar wanita itu lagi.


Mira yang mendengar itu menjadi geram, kini mereka mengerti apa maksud dari wanita ini.


"Eh, Mbak Yani, maksudnya apa coba bicara gitu? Maksud Mbak Yani Yumna itu istri pembantu gitu? Istri sopir?" tanya Mira meradang.


"Eh, kamu nggak tau kan? Katanya teman, tapi kena tipu. Buka mata kamu lebar-lebar biar kamu tau siapa teman kamu itu," ucap wanita itu lagi sambil menunjuk ke arah Yumna.


Mira tidak terima dengan ucapan wanita tersebut, dia yakin jika Yumna tidak menipu dirinya. Apa yang dia lihat dan dia dapatkan malam itu menjadi bukti jika Yumna bukan istri seorang pembantu atau sopir.


"Mbak tuh kalau bicara hati-hati, nanti jatuhnya bisa fitnah, Mbak." Peringat Mira.


Yumna menarik tangan Mira, mencoba untuk membuat temannya itu tenang. "Mir, sudah."


"Nggak apa-apa, mereka memang belum tau kenyataannya. Nggak apa-apa," ujar Yumna lagi, dia mencoba untuk tersenyum kepada temannya itu.


Wanita yang ada di samping Yumna tersenyum senang. Ini berarti Yumna tengah mengakui fakta yang terjadi.


"Mbak Yani, tau dari mana kalau saya istri pembantu?" tanya Yumna dengan santainya.


"Ada kok yang bilang sama saya," jawab wanita itu lagi.


Yumna kini tengah berpikir, siapa gerangan orang yang telah membuat berita tidak benar ini. Kemudian dia mengingat hari kemarin saat dia bertemu dengan Lia. Entahlah, jika mungkin bukan dia, tapi Yumna yakin jika wanita itu yang menyebar berita tidak benar apalagi saat pandangannya kemarin menelisik motor yang dia pakai.


"Oh, saya tau. Mbak Lia kan?" tanya Yumna. Yani mengalihkan pandangannya ke arah lain yang membuatnya kini merasa yakin. Yani dan Lia salah satu orang yang suka bergosip di ruangan ini.


"Nggak penting siapa yang bilang, tapi kamu tuh nggak banget deh, ngakuin mobil orang lain sebagai mobil kamu. Gengsi dong ah, ngakunya mobil sendiri taunya mobil majikan. Kalau suami kamu tukang kebun ya ngaku aja, jangan sok bilang kalau suami kamu bos perusahaan," ujar wanita itu lagi lalu pergi dari hadapan Yumna. Beberapa orang saling berbisik membuat telinga menjadi berdengung bak adanya lebah di sekitar.


Mira merasa geram mendengar ucapan wanita tersebut, dia hendak menyusulnya untuk melakukan protes dan pembelaan, tapi lagi-lagi Yumna menahan tangan Mira dan menyuruhnya untuk diam saja.


"Yumna, kamu ini. Kamu terima dan diam aja difitnah kayak gini sama dia?" tanya Mira geram, padahal bukan dirinya yang dituduh seperti itu, tapi rasanya ingin marah mendengarnya.


"Aku malas debat, Mira. Kalau memang pemikiran mereka kayak gitu ya udah biarin aja lah."


Mira merasa sebal dengan ucapan Yumna yang hanya pasrah, tidak pantas rasanya jika dia menerima perkataan wanita itu begitu saja.


"Heran deh sama kamu. Memang kamu nggak ada kesel-keselnya gitu sama dia? Itu kamu udah diomongin yang nggak baik loh. Lihat sampai orang lain aja lihat ke sini," ucap Mira geram.

__ADS_1


Yumna pun merasakan hal seperti itu, bagaimana tatapan banyak orang tertuju kepadanya. Akan tetapi, entahlah. Rasanya hal yang seperti itu tidak lantas bisa membuatnya marah.


Yumna hanya tersenyum kecil, lalu menggerakkan tangannya agar Mira mendekat.


"Apa?" tanya Mira masih kesal.


Yumna mendekatkan diri dan berbisik kepada temannya. Satu detik kemudian terdengar seruan Mira yang membuat beberapa orang kembali menatap mereka berdua.


"Se-serius?" tanya Mira yang tersenyum dengan lebar. Yumna menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba saja Mira berdiri dan melompat senang.


"Akh! Aku senang, Yumna!" teriak Mira yang lalu ditarik tangannya oleh Yumna.


"Shuutttt!" Yumna menempelkan jari telunjuknya di depan mulut, meminta Mira untuk tidak berteriak. "Kamu ini, jangan lompat kayak gitu. Jangan kasih tahu orang lain dulu," ucap Yumna. Mira duduk dan menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Iya, aku nggak akan bilang. Sejak kapan?" tanya Mira.


"Aku baru tahu kemarin," jawab Yumna. Mira memegang tangan Yumna dengan erat, ikut bahagia dengan berita yang dia dengar barusan.


"Ya ampun, aku akan dapat keponakan!" seru Mira ingin berteriak sebenarnya.


Seharian ini pendengaran Yumna diisi dengan berita yang tidak menyenangkan soal yang tadi pagi. Masalah suaminya yang bekerja jadi tukang kebun, sopir, dan pembantu di rumah seorang kaya. Yumna hanya tersenyum geli, di mana dia mengingat saat hari itu mungkin si penguntit melihat saat dirinya dan Haidar membersihkan taman.


"Kamu kenapa sih? Senyum nggak jelas gitu?" tanya Mira bingung saat sedari siang tadi Yumna hanya tersenyum saja. Mereka kini tengah menunggu jemputan masing-masing hanya berdua saja, sedangkan yang lain sudah lebih dulu pulang.


"Nggak apa-apa, aku cuma lagi mikir aja, kayaknya yang dilihat sama yang lain tuh pas waktu di rumah aku lagi bersihin taman kali ya," ucap Yumna dan membuat Mira tertawa lalu beberapa detik kemudian dia terdiam.


"Setelah ini kamu bakalan resign dong?" tanya Mira. Yumna tersenyum dan mengangguk pelan.


"Iya, aku bakalan resign minggu depan, setelah gajian," ucap Yumna. Tampak wajah Mira yang tadinya ceria kini berubah sedih.


"Aku bakalan sendiri, dong. Nggak rela rasanya, tapi ...." Mira terdiam lagi, menyusut sesuatu yang tiba-tiba saja keluar dari sudut matanya. Hal itu membuat Yumna menjadi sedih juga. Mira adalah teman yang baik, yang selalu menemaninya di kala sedih dan senangnya. Wanita itu memeluk Mira dengan erat.


"Sudah, jangan nangis dong. Kan aku jadi sedih," ucap Yumna, tidak tega dan tidak tahan melihat Mira menangis seperti itu.


"Aku sedih aja bakalan kehilangan kamu," ucap Mira.


"Kamu boleh kok, nanti kalau hari libur main ke rumahku ya. Kita makan-makan di rumah." Yumna mencoba untuk menghibur temannya ini yang hanya dijawab anggukkan kepala oleh sang sahabat.


Tak lama jemputan Yumna sudah sampai bersamaan dengan jemputan Mira dengan motornya.


"Suami kamu sudah datang," ucap Mira sambil mengusap pipinya yang basah.


"Iya, jemputan kamu juga sudah datang," balas Yumna.


Dua laki-laki itu turun hampir bersamaan pula dari kendaraannya masing-masing, kekasih Mira memberikan helm sedangkan Haidar membukakan pintu untuk Yumna.


"Hati-hati kalian!" teriak Yumna sambil melambaikan tangannya, begitu juga dengan Mira yang melakukan hal yang sama dari atas motor itu.


"Kamu juga. Mas Haidar, makasih makan siangnya. Enak," teriak Mira dari atas motor. Haidar mengangkat tangannya ke udara sebagai jawaban. Kemudian setelah menyalakan klakson, dua sejoli bermotor itu pergi dari sana.


Haidar tersenyum dan menyambut kedatangan sang istri, mencium kening wanita itu dengan sayang.


"Apa kamu makan siang dengan baik tadi?" tanya Haidar dan mendapatkan anggukkan kepala dari Yumna.

__ADS_1


"Iya, makanannya enak," jawab Yumna.


__ADS_2