
Pagi menjelang, Yumna dan Haidar baru saja keluar dari hotel dengan tergesa. Sudah terlalu siang menurut mereka, karena Haidar yang meminta main dokter-dokteran lagi tadi pagi saat mereka akan melakukan cek out. Ya, semalam mereka telah melakukan permainan dokter dan asisten, kadang Haidar menjadi dokter, dan selanjutnya Yumna yang menjadi asisten dokter yang melakukan praktek nyata.
Mobil melaju di tengah kemacetan kota besar. Di depan sana lampu terlihat merah, Haidar hanya mengetuk-ketukkan jarinya pada kemudi dengan tak sabar. Pasalnya, jam sudah beranjak siang dan bisa saja jika Yumna terlambat bekerja. Pasti wanita ini akan mengomel jika terlambat masuk ke kantor.
"Kamu sih, pake nambah segala. Kan jadinya kesiangan," ucap Yumna dengan cemberut.
Haidar terkekeh mendengar gerutuan istrinya itu.
"Habisnya kamu tuh menggoda banget sih, enak banget, rasanya pengen lagi dan lagi," kata Haidar. Yumna menjadi kesal karenanya. Meskipun begitu Haidar tetap berhati-hati dalam melakukan gerakannya, lebih pelan karena tidak mau melukai istri dan juga anaknya.
Di seberang jalan, Yumna melihat ada penjual bubur kacang ijo. Melihat beberapa orang yang duduk dan makan di sana membuat Yumna inginkan juga.
"Sayang, aku mau itu dong!" tunjuk Yumna ke arah roda penjual tersebut.
"Apa?" Haidar mengalihkan tatapannya ke arah seberang jalan.
"Mau bubur kacang ijo. Belikan ya," pinta Yumna. Haidar melihat jalanan di depannya, sepertinya tidak bisa jika harus putar balik karena keadaan di sana terlalu macet.
"Oke, aku bawa ke depan dulu, nanti aku nyeberang jalan," ucap laki-laki itu. Yumna hanya mengangguk dan menunggu. Jika mungkin di kehamilan orang lain bisa saja ada ibu hamil yang tidak sabaran, tapi Yumna masih bisa menunggu untuk itu.
Lampu lalu lintas akhirnya berganti berwarna hijau, Haidar segera melaju bersama dengan kendaraan lainnya dan kemudian berhenti di bahu jalanan.
"Kamu tunggu di sini. Aku pergi dulu. Beli apa lagi selain itu?" tanya Haidar. yumna menggelengkan kepalanya.
"Itu aja, sudah."
"Oke." Haidar kemudian membuka pintu dengan hati-hati. Jangan sampai ada seseorang yang terluka karena dia membuka pintu dengan sembarangan.
Tak lama, Haidar kembali dengan sebungkus makanan yang Yumna inginkan dan memberikannya pada sang istri. "Awas panas."
Senang sekali rasanya mendapatkan apa yang dia mau, Yumna tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Setelah meniup makanan tersebut Yumna akhirnya bisa menikmatinya juga. Beruntung untuk Yumna dan ketiga adiknya, dia tidak seperti ibu mereka yang alergi terhadap kacang, Yumna bisa menikmati semua makanan yang dia mau.
"Enak?" tanya Haidar. Yumna menganggukkan kepalanya.
"Kamu nggak beli ini?" tanya Yumna.
"Nggak, aku sarapan nanti saja di kantor."
Mobil kembali melaju bersama dengan kendaraan lainnya di jalanan yang padat itu. Haidar melirik Yumna yang sangat menikmati makanannya.
"Sayang," panggil Haidar.
"Hem?"
"Kamu nggak ada ngidam pengen apa gitu?" tanya Haidar.
"Ngidam? Apa, ya?" Yumna mencoba untuk berpikir, tapi dia tidak tahu ingin apa. Rasanya memang tidak atau belum inginkan apa-apa. "Kayaknya nggak, deh. Kenapa?" tanya Yumna balik.
"Nggak. Aneh aja, kamu nggak ngidam kayak yang lainnya. Karyawan aku aja di kantor suka ngidam katanya," ucap Haidar. Yumna tertawa mendengar ucapan sang suami.
__ADS_1
"Nggak semua ibu hamil itu ngidam, Sayang. Ada kok yang suaminya yang ngidam," ucap Yumna.
"Ya, kan kali aja kamu ngidam sesuatu, tapi kamu nggak bilang sama aku." Haidar ingin melanjutkan ucapannya, tapi dia mengurungkan niatnya.
'Kamu terlalu mandiri sampai aku takut kamu ingin sesuatu, tapi nggak berani bilang,' batin Haidar. Ya, rasanya Yumna terlalu mandiri sampai-sampai semua hal bisa dia lakukan sendiri, padahal sesekali dia ingin Yumna seperti orang lain yang manja terhadap suaminya.
"Nggak lah, Sayang. Kalau emang aku ngidam aku juga bakalan bilang. Masa iya aku bakalan repotin orang lain sedangkan ayahnya dari anakku yang seharusnya bertanggung jawab malah diam aja." Yumna tertawa geli. Haidar tersenyum puas atas apa yang istrinya katakan barusan.
"Iya, emang harus seperti itu. Aku suami kamu, dan ayah dari anak kita. Sudah seharusnya aku mengurusi apa yang kamu mau," ucap Haidar senang.
"Nanti. Kalau aku pengen aku juga bakalan bilang."
Mobil telah sampai di halaman rumah, segera dua orang itu masuk untuk mengganti pakaiannya dengan cepat dan kembali ke dalam mobil untuk pergi lagi.
"Loh, Mbak Yumna dan Mas Haidar mau kemana lagi?" tanya Pak Dani heran saat melihat keduanya akan pergi lagi.
"Kerja lah, Pak Dan," jawab Haidar. Pak Dani membukakan pintu untuk dua orang itu dan kemudian kembali ke posnya untuk membuat kopi.
Perusahaan.
Yumna baru saja masuk ke dalam ruangannya, suara-suara riuh yang tadi dia dengar saat di luar ruangan kini tidak terdengar lagi. Heran rasanya, tapi Yumna tidak ambil pusing dengan hal itu dan kembali berjalan menuju ke mejanya. Beberapa orang tersenyum dan menganggukkan kepalanya saat Yumna lewat di depannya, membuat Yumna menjadi heran.
"Pagi, Yumna!" sapa seseorang dengan senyuman manisnya.
"Pagi."
Mira mengangkat kedua bahunya. "Nggak tau, tapi emang mereka aneh tuh," tunjuk Mira ke arah beberapa orang yang menatap mereka, tapi kemudian mengalihkan tatapannya saat Yumna balik menatapnya.
"Mereka takut kena skakmat kali," ucap Mira lagi.
"He? Skakmat apaan?" tanya Yumna bingung.
"Itu, yang kemarin itu. Kayaknya mereka tadi ngomongin kamu karena kemarin itu yang pas kita akan pulang," ucap Mira. Yumna tersenyum malu.
"Ah, iya. Harusnya kemarin tuh Papa nggak usah bilang kalau aku anaknya," ucap Yumna pelan.
"Lah, bagus lah kalau mereka tau kamu siapa. Biar nggak semena-mena tuh orang ganggu kamu," ujar Mira.
Memang benar, apa yang Mira katakan. Akan tetapi, jujur saja jika Yumna lebih ingin dianggap sebagai orang biasa dan disukai banyak orang karena tulus, bukan karena dia adalah keturunan Mahendra.
Jam istirahat kerja, Yumna dan Mira telah selesai dengan makan siangnya. Yumna kembali ke ruangan sementara Mira ke toilet karena perutnya yang mulas, makan terlalu banyak sambal tadi.
"Nggak nyangka kalau dia tuh anak dari Bima Satria yang terkenal itu. Duh, nggak bisa sembarangan lagi deh," ucap seseorang terdengar kesal. Mira yang sedang duduk di toilet hanya diam mendengar ucapan para wanita julid di luaran sana. Jelas dia tahu siapa mereka itu.
"Iya. Duh, kira-kira dia ngadu nggak ya sama bapaknya? Takut kalau ngadu terus suamiku kemudian dapat masalah di sana."
"Ya, usahakan jangan ketahuan. Kalau ketahuan bisa dipersulit, gimana?"
"Iya, sih. Semoga aja deh. Lagian ngapain juga anak pengusaha kayak dia malah masuk di sini dan jadi karyawan biasa. Apa mungkin dia itu mata-mata ayahnya?"
__ADS_1
"Eh, bisa jadi ini. Lagian kalau emang bener dia itu anak pengusaha besar kok mau jadi karyawan biasa? Pasti ada apa-apanya ini. Apa mungkin di itu mata-mata?"
"Bisa jadi," ucap wanita yang satu membenarkan.
Mira merasa kesal mendengar obrolan barusan. Meski dia tidak tahu apa alasan Yumna menjadi karyawan di perusahaan ini, tapi dia yakin jika Yumna bukan orang yang seperti itu.
"Jangan sampai ucapan kalian ini jadi fitnah dan balik ke kalian sendiri," ucap Mira yang baru saja keluar dari dalam bilik merenungnya. Perutnya masih mulas, tapi dia tidak tahan jika sahabatnya dikatakan sebagai mata-mata. Toh, selama ini juga Yumna tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh.
Tiga orang yang ada di sana terkejut dengan suara yang mereka dengar dari belakang. "Fitnah apanya? Coba kamu pikir sendiri, emang ada gitu anak seorang pengusaha besar malah jadi karyawan biasa yang gajinya nggak seberapa?"
"Ya kan bukan berarti kalian itu bisa nuduh seenak kalian," lawan Mira.
Satu dari wanita itu mendekat dan menatap curiga Mira. "Jangan-jangan kamu juga temannya dia, ya? Mata-mata juga? Kamu mau menjual data perusahaan ini kepada orang lain?" tuduh wanita berbaju biru itu dengan kejam. Mira terperanjat mendengar ucapan wanita itu yang tanpa perasaan sama sekali.
"Kita tau kok, kamu lagi butuh uang banyak. Makanya kamu juga satu komplotan kan sama dia?"
Mendengar dituduh seperti itu Mira tentu saja tidak terima. "Hati-hati dengan ucapan kalian. Kalian bisa masuk penjara atas tuduhan fitnah!" seru Mira kesal.
"Hah, coba saja! Kalau kamu terbukti bersalah justru kamu yang akan rugi. Udah deh, jangan karena kamu udah berteman dengan anak pengusaha kamu jadi berani sama kita. Kamu tuh ada jauh di bawah kita, nggak level dengan kami yang istri manager," ucapnya yang mengandung hinaan.
Mira tiba-tiba tertawa kecil. "Manager juga bawahan. Gimana kalau aku bilang sama Yumna kalau suami Mbak kerja di sana, dan minta dia buat nurunin pangkatnya? Buat Yumna kayaknya nggak akan susah kalau minta itu sama ayahnya," ucap Mira santai. Tak ada lagi ketakutan saat dia melihat bulat mata wanita itu yang terarah ke padanya.
"Awas aja kalau kamu berani. Lihat deh apa yang akan kami lakukan sama kamu dan dia nanti!" ancam wanita itu. "Ingat sebelum ini, Mira. Kalau bukan karena Jeni kamu nggak akan ada di sini dan menikmati gaji dari perusahaan ini. Aku bisa ajukan keluhan sama atasan buat pecat kamu dari perusahaan ini, dan kamu akan balik lagi ke kehidupan kamu yang banyak utang itu. Ingat aja, Mira. Aku bisa bikin malu kamu di depan yang lainnya," ucap wanita itu dengan pelototannya yang tajam.
"Kamu itu cuma remahan dari potongan kertas. Seharusnya kamu nggak ada di sini. Di sini tuh buat orang-orang yang terpelajar dan elit kayak kita. Bukan buat gembel dan tukang maling kayak kamu!" ucapnya lagi kemudian pergi dari hadapan Mira dan dengan sengaja menyenggol bahu wanita itu kasar.
Mira hanya diam, rasanya sakit jika mendengar hinaan itu lagi, padahal dia sudah berjanji untuk tidak sakit hati atas apa yang mereka ucapkan sedari dulu. Dekat dengan Yumna membuatnya sedikit kuat. Dia salut dengan wanita itu yang sabar dan juga berani melawan mereka. Akan tetapi, rupanya dia juga tidak sekuat itu, nyatanya sekarang ini dia merasa sakit hati dihina lagi. Dia sudah berubah, kesalahan yang dia lakukan di masa lalu karena dia terpaksa melakukannya.
"Mir, masih di sini? Aku kira kamu sudah balik ke ruangan," ucap seseorang yang membuat Mira terkejut dan menghapus sesuatu yang basah di wajahnya.
"Eh, iya. Aku masih sakit perut," ucap Mira beralasan, lalu dengan cepat pergi ke wastafel untuk mencuci muka guna menyamarkan wajahnya yang telah berubah memerah.
Yumna melihat perubahan wajah itu di cermin, terlihat aneh menurutnya karena hidung dan mata Mira terlihat merah.
"Eh, kamu nangis?" tanya Yumna khawatir, mendekat pada sahabatnya itu.
"Enggak, kenapa juga aku harus nangis?" tanya Mira mencoba mengelak.
"Wajah kamu merah," ucap Yumna tak mau kalah. "Apa karena orang-orang tadi? Mereka bilang apa?" tanya Yumna lagi.
Mira menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan, aku cuma kelilipan aja kok."
Yumna tetap tidak percaya dengan apa yang Mira katakan, tapi Mira memilih untuk diam saja. Tak ingin jika berulah dan mendapatkan masalah lagi dengan ketiga wanita julid itu.
...***...
Yuk mampir ke sini, kepoin ceritanya juga ya.
__ADS_1