YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
290. Perjalanan Pulang


__ADS_3

Jujur saja Yumna masih mengantuk karena bangun sepagi ini, meski baru saja selesai mandi, tapi tubuhnya sangat lelah sekali akibat permainan Haidar yang seakan tidak cukup hanya sekali saja malam tadi.


Kedua orang itu keluar dari dalam hotel saat pagi sekitar jam setengah lima. Masih terlalu gelap dan juga dingin karena angin dari laut yang berembus cukup kencang menerpa wajah keduanya. Hujan sudah reda dari tengah malam tadi, menyisakan jejak basah di jalanan.


Yumna melihat mobil Haidar yang sudah terparkir di depan hotel tersebut. Dia bingung dengan kendaraan tersebut yang sejak entah kapan ada disana.


"Loh, Haidar. Ini mobil kamu ada di sini?" tanya Yumna dengan bingung sambil menunjuk mobil berwarna hitam yang ada di depannya.


"Iya, tadi aku ambil waktu kamu masih tidur," ucap Haidar lalu membukakan pintu mobil tersebut untuk Yumna.


"Ya ampun, sepagi itu?" tanya Yumna dengan tidak percaya.


"Iya, biar kamu gak perlu jalan kaki jauh buat ikut ambil mobil ini," ujar Haidar lagi. Haidar menutup pintu mobil setelah memastikan Yumna memakai sabuk pengamannya, dia kemudian pergi ke sisi mobil yang lain dan duduk di belakang kemudi. Haidar memang sengaja bangun pagi sekali untuk mengambil mobil dengan jarak hampir setengah jam dari hotel tempat mereka menginap. Dia tidak ingin melibatkan Yumna untuk mengambilnya, kasihan sekali Yumna nampak kelelahan akibat ulahnya semalam.


"Pake jaket, sekarang ini dingin banget. Kamu pasti kedinginan nanti," ujar Haidar sambil menyerahkan jaket yang tadi ada di kursinya.


"Makasih," ucap Yumna lalu menerima jaket tersebut dan memakainya. "Kamu gak pake jaket?" tanya Yumna lagi.


"Gak perlu, gak dingin kok. Yang penting kamu aja jangan sampai kedinginan dan demam," ucap Haidar dengan penuh perhatian. Yumna tersenyum senang dengan perhatian yang diberikan oleh Haidar. Mobil itu kemudian pergi meninggalkan area hotel.


"Kamu kok gak bangunin aku sih? Pasti jauh ya tadi ambil mobil ini?" tanya Yumna.


"Aku kasihan kalau sampai bangunin kamu, kelihatannya capek banget. Aku gak tega banguninnya," jawab Haidar.


"Duh, kasihan banget deh. Pasti capek ya?"

__ADS_1


"Gak juga kok, kan sambil lari kecil juga tadi di pantai," ujar Haidar lagi.


Ombak di laut terlihat dengan sangat jelas oleh Yumna meski di kegelapan suasana pagi, matahari belum menampakkan sinarnya sehingga di sepanjang jalur pantai hanya terlihat ombak yang sesekali bersinar terkena cahaya dari bulan yang sebentar lagi menghilang dari langit. Sedikit menyesal Yumna rasakan kali ini, seharusnya hari kemarin berlangsung dengan indah dan juga berkesan. Akan tetapi, hujan membuat semuanya menjadi kacau.


Haidar sadar saat melirik ke arah Yumna, istrinya itu sangat pendiam setelah percakapan mereka tadi. "Kamu kenapa?" tanya Haidar lalu fokus pada jalanan sepi di depannya.


"Gak apa-apa, cuma sayang banget. Harusnya kita bisa menikmati suasana laut yang indah," ujar Yumna. Haidar tertawa kecil, mengulurkan tangannya dan mengambil tangan Yumna dari pangkuan.


"Semua gak seindah rencana ya? Hujan bikin semuanya kacau, tapi aku senang kok, karena bisa habiskan waktu sama kamu," ujar Haidar sambil mencium punggung tangan Yumna. "Lain kali kita pergi lagi, ya?"


"Ke gunung?" tanya Yumna. Haidar terkekeh kecil.


"Kamu serius pengen mendaki gunung?" tanya Haidar lagi. Yumna menganggukkan kepalanya.


"Oke, baik. Apa sih yang enggak buat kamu? Akan aku lakukan apa apun yang kamu mau," ujar Haidar lagi.


"Mau cari sarapan dulu gak?" tanya Haidar selanjutnya. Yumna melihat jam yang ada di hp.


"Masih pagi banget, belum juga jam enam. Apa bakalan ada sarapan jam segini?"


"Ya, cari aja. Biar nanti sampai di rumah kita bisa langsung pergi ke kantor," ucap Haidar lagi.


"Terserah kamu saja."


Yumna melihat beberapa pesan yang ada di hpnya, begitu juga ada beberapa panggilan yang tidak terjawab semalam. Haidar melihat Yumna yang melihat hpnya dengan wajah serius sampai dia bertanya dan tidak Yumna jawab.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Haidar.


"Ini, Syifa telepon dan kirim pesan." Tunjuk Yuman pada hpnya.


"Ada apa? Kapan?" tanya Haidar lagi.


"Dari kemarin sore. Aku gak ngecek hp dari sore kemarin," ucap Yumna.


"Syifa datang ke rumah?" tanya Haidar yang belum mendapatkan jawaban. Yumna menganggukkan kepalanya.


"Iya, ni sampai marah kita gak ada di rumah," ucap Yumna lagi. Haidar sampai tertawa mengingat jika Syifa datang karena bertengkar dengan kedua adiknya.


"Kenapa kamu ketawa?" tanya Yumna.


"Aku tebak, dia kabur dari rumah karena berantem sama si kembar ya?" tanya Haidar menebak. Yumna ikut tertawa dengan suaminya.


"Iya, bener banget. Gak tau deh, tuh anak bertiga kerjaannya berantem aja," ujar Yumna sambil menggelengkan kepalanya.


"Wajar sih, usia mereka kan gak terlalu jauh, cuma beda sekitar setahun, kan?" tanya Haidar. Yumna menganggukkan kepalanya lagi.


"Iya, mereka cuma beda setahun aja."


"Wajar, apa lagi dengan sifat Syifa yang kayak gitu, cuma kamu saudara perempuan satu-satunya yang bisa bela dia," ujar Haidar lagi.


Yumna setuju dengan ucapan Haidar barusan, memang benar karena si kembar sering kali mengganggu Syifa. Masih lebih baik dengan Azkhan, Arkhan terkadang terlalu cuek dan juga menyebalkan untuk Syifa.

__ADS_1


__ADS_2