
Di sebuah tempat, sedang ramai dengan kesibukan banyak orang. Beberapa di antaranya tengah membawa barang ke sebuah ruangan besar yang ada di sana. Sesekali, riuh suara saling mengejek satu sama lain, membuat Haidar yang mendengar tertawa geli.
Bukannya Haidar ingin mangkir dari pekerjaannya, lumayan menumpuk, tapi untuk hari ini dia ingin fokus dengan kejutan yang dia buat untuk Yumna nanti sore.
"Pak Haidar, apa ada yang lain yang bisa kami lakukan lagi?" tanya seorang wanita berjilbab lebar setelah berhenti di dekat Haidar.
"Oh, itu ... Saya serahkan saja kepada Anda untuk melanjutkan ini. Apa saja yang Anda butuhkan akan saya carikan kekurangannya," ucap Haidar yang masih bingung dengan segala sesuatunya di sini.
"Baik, Pak. Kami akan lakukan yang terbaik yang kami bisa untuk pesta kejutan hari ini."
Haidar tersenyum senang, karena seseorang telah bersedia membantunya untuk menyiapkan ini semua. Dia juga sudah menghubungi keluarga Mahendra hari kemarin untuk datang ke tempat ini sore nanti setelah semuanya selesai.
Tak lama, sebuah mobil berwarna hitam datang dan berhenti di parkiran, seorang wanita keluar dari dalam sana dengan membawa kotak berukuran besar di tangannya.
"Apa semua sudah siap?" tanya Mitha dengan senyuman lebar di bibirnya.
__ADS_1
"Iya, kami masih berusaha buat selesaikan ini, Ma," ucap Haidar.
"Oh, syukur lah. Lily juga sedang dalam perjalanan kemari, mungkin sebentar lagi dia akan sampai dengan adik-adik Yumna," ucap Mitha lagi.
"Loh, aku nggak suruh mereka ke sini sekarang ini, Ma." Haidar berkata dengan sedikit bingung. Mitha yang kesulitan membawa kotak tersebut lantas dia bantu membawakannya ke dalam ruangan.
"Mereka kan sudah kamu telepon untuk datang ke sini, kan kemarin itu? Sebenarnya di rumah sana juga katanya mau adakan pesta kecil kejutan untuk Yumna, tapi dengar kabar hari ini kamu mau bikin kejutan di sini, nggak jadi buat di sana deh." Mitha berbicara, lalu duduk di atas kursi yang sedikit usang.
"Ah, kamu ini, bikin pesta kejutan tapi dadakan, coba kalau kamu bilang dari tiga hari yang lalu, Mami akan siapkan sendiri pestanya," ujar Mitha kesal.
"Mami sibuk urusin kue ini, sampai Mami batalin janji sama teman buat ke salon," ucap Mitha kesal. Perawatan rutin harus dia batalkan demi menantu tersayang.
"Yaa, ke salon doang. Mami ini kayak nggak suka bantuin Haidar bikin pesta buat menantu sendiri," ucap Haidar kesal.
"Bukan nggak suka, tapi dadakan banget loh ini. Coba kamu pikir, chef terkenal mana yang bisa bikin kue seenak ini tanpa adanya janji? Untung aja semalam dia mau lembur dan bikinin kita kue. Kalau enggak? Coba kamu pikir!" ujar Mitha kesal. Haidar terkekeh malu mendengar kekesalan ibunya itu, dia mendekat dan mencolek dagu sang ibu dengan genitnya.
__ADS_1
"Mami emang terbaik. I love you, Mom!" ucap Haidar sambil memberikan cium jauh kepada sang ibu.
"Love dan cium hanya untuk papi kamu, kamu sudah ada Yumna," ujar Mitha.
Haidar mendelik kesal, sekarang sikap Mitha sedikit berubah, rasanya tak butuh lagi anak di sisinya. "Dulu aja love-lovean sama aku, kenapa sekarang nggak mau? Nggak butuh anak?" tanya Haidar kesal, sontak Mitha mendelik dan menatap sang anak dengan marah. Tas yang ada di sampingnya dia gunakan untuk menimpuk kepala sang anak.
"Aduh!" rintih Haidar, memegangi kepalanya atas perlakuan sang ibu kepadanya.
"Sekarang love nya kamu itu harus diberikan untuk menantu Mami. Jangan sampai dia kabur lagi kayak dulu. Awas kamu!" ancam Mitha
...*****************...
Maafin Othor nulis dikit ya. Tadi habis muter-muter cari rumah kontrakan dan terlalu capek. Cerita Yumna kita kawal sampai mana nih? Bab udah kebanyakan ðŸ¤
Mampir juga ke cerita kak Lycha Lika.
__ADS_1