
"A-apa ... maksudnya ini?"
Haidar hanya terdiam. Dia lupa mengambil kertas itu dan tak menyangka kalau mami akan datang dan menemukan kertas itu di lantai.
"Haidar!" jerit mami.
Haidar bangkit dan merebut kertas itu, tapi mami Mitha sigap menarik tangannya dan menyembunyikan di belakang punggungnya.
"Bilang sama mami, Haidar. Apa ini yang dimaksud oleh Yumna? Salah pada awalnya?" tanya Mitha dengan mata menatap tajam putranya. Matanya terasa panas. Apa sebenarnya yang telah terjadi pada Haidar dan Yumna?
Haidar maju untuk merebut lagi kertas itu. Kertas yang nyatanya sekarang sudah tidak lagi penting di dalam kehidupannya.
"Bilang sama Mami, Haidar! Apa ini yang Yumna maksud?" tanya Mitha lagi sambil mengangkat kertas itu di depan wajah Haidar. Dia geram karena Haidar tetap tidak menjawabnya.
"Apa-apaan kalian ini. Mempermainkan pernikahan? Apa yang kalian fikirkan? Mami gak nyangka kalau ...."
"Itu semua karena Mami!" bentak Haidar.
Mitha terdiam menatap anak semata wayangnya tak mengerti.
__ADS_1
"Mami terus menjodohkan aku dengan yang lain. Mami gak pernah tahu perasaan aku yang sebenarnya! Yang aku suka itu Vio, Mi. Dari dulu aku yang aku suka itu Vio! Bukan Sandra, Lala atau gadis lain yang Mami bawa buat di jodohin sama aku!" teriak Haidar tepat di depan wajah Mitha.
"Mami tahu perasaan aku sama Vio dari dulu, tapi Mami gak pernah mau tahu, kan?! Karena yang mami lihat itu Vio selalu jelek di mata Mami. Kapan mami akan lihat dia sebagai wanita yang dicintai anak mami ini?" tanya Haidar seraya menunjuk dadanya sendiri. Matanya merah kerena terlanjur emosi.
"Vio itu gak baik, Haidar! Dia itu gak baik buat kamu! Kamu gak tahu kan apa yang dia perbuat di belakang kamu!"
"Lalu bagaimana dengan Yumna?! Dia juga tidak baik karena jalan dengan laki-laki lain bahkan dia juga mungkin sudah tidur dengan...."
Plakk!!
Tangan Mitha terangkat begitu saja tanpa bisa di kontrol lagi. Pipi Haidar merah seketika.
Ini kedua kalinya.... Ya. Ini kedua kalinya Mitha menampar putranya, tanpa ia sadari.
"Haidar!" panggil Mitha, dia berlari mengikuti langkah kaki Haidar yang dengan cepat menuruni tangga. Namun, tak terkejar karena Haidar kini sudah sampai di ambang pintu. Beberapa maid menatap Haidar bingung. Tadi dia marah dengan Yumna, sekarang dengan Mitha. Ada apa gerangan?
"Haidar!" Teriak Mitha. Haidar sudah masuk ke dalam mobilnya. Dia menatap maminya kesal dari belakang kemudi dan kemudian melajukan mobilnya keluar dari garasi dan menginjak gas dalam-dalam.
"Haidar!!" teriak Mitha lagi dia mengejar mobil Haidar hingga ke pagar. Menangis tersedu, menyesali perbuatannya.
__ADS_1
"Maafin, Mami!" tapi percuma saja waita itu menangis tersedu. Haidar sudah terlanjur kecewa dengan sikap mami.
Dan Mitha, meskipun dia kecewa dengan sikap Haidar tapi anak itu tetaplah anaknya. Tentu salah dia main fisik meski Haidar adalah laki-laki dewasa.
Mitha kembali ke dalam rumah. Dia bingung kenapa dia bisa menampar Haidar seperti itu. Rasa kecewa, rasa tak percaya, dan juga mendengar Haidar mengatakan Yumna tidak baik. Rasanya dia semakin marah.
...*...
Haidar melajukan mobilnya dengan kencang di jalan. Dia tahu dia salah, tapi mami juga salah. Sudah jelas dari dulu dia menolak di jodohkan dan ingin menikah dengan Vio, tapi mami tidak pernah setuju. Apa yang tidak baik? Hanya seorang model tidak baik kah? Begitu hina kah seorang model hanya karena dia memakai baju minim?
Haidar tertawa miris. Dua kali dirinya di tampar oleh mami, sakit hatinya. Padahal di sering kali dia tawuran dengan orang lain dan me.dapatkan memar lebih parah di wajahnya, tapi tetap saja tamparan seorang ibu bagai belati yang menyayat hatinya.
.
.
.
.
__ADS_1
maafin othor yang ingkar janji.
janji malm up, tapi ternyata ada gangguan dan baru bisa up pagi ini sedikit pula 😓