
"Cucu Nenek cantik dan ganteng banget," puji Mitha pada kedua cucunya yang ada di tempat tidurnya. Mereka menempati tempat tidurnya masing-masing di mana kini Mitha, Lily, dan ketiga anaknya mengelilingi mereka berdua dan ingin sekali menggendongnya. Sementara itu kedua kakek mereka menunggu giliran untuk bisa dekat dengan kedua cucunya ini.
"Giliran kita kapan?" tanya Arya kepada Bima.
"Sabar. Para singa betina bisa ngamuk kalau kita potong jatahnya," ujar Bima melirik sebal pada kedua nenek baru itu. Arya hanya bisa menghela napasnya dengan berat, pasrah daripada diusir dari tempat ini.
Haidar yang melihat mereka juga tak kalah iri, dia ingin dekat dengan kedua anaknya, tapi tadi diusir oleh mama dan mertuanya, menyuruhnya untuk berada di dekat Yumna dan mengurusi saja Yumna yang mungkin saja butuh pijatan atau makanan lain.
"Kapan aku bisa gendong anakku?" tanya Haidar iri.
Yumna tersenyum iba, mengusap pipi sang suami dengan lembut.
"Sabar, Sayang. Mereka baru jadi nenek, jadi wajar kalau antusias kayak gitu. Nanti juga kalau mereka pulang kamu bebas mau gendong anak kita," ujar Yumna. Haidar kesal, tapi hanya bisa dia pendam saja di dalam hati. Memang lebih baik menunggu daripada mencari masalah dengan kedua ratu penguasa dua keluarga itu.
"Kamu udah mikirin nama buat anak-anak kita?" tanya Yumna. Haidar mengangguk.
__ADS_1
"Iya, aku sudah mikirin nama mana yang bisa kita pakai. Aidan dan Aura, gimana? Aidan itu dari nama Haidar, dan Aura dari nama Azura," tanya Haidar.
"Nama yang cantik."
"Kamu setuju?" tanya Haidar.
Yumna menganggukkan kepalanya. "Iya, aku suka nama itu. Cocok sekali buat nama anak-anak kita."
Malam semakin larut, barulah orang-orang yang tadi mengelilingi anak-anak Haidar dan Yumna menyingkir untuk tidur, kecuali dua orang kakek yang sekarang bergantian menjaga di samping kedua cucunya, mereka mengagumi wajah cucunya itu yang tampan dan cantik.
"Iya, Mas. Akhirnya kita bisa ada di sini juga."
Bima mengusap pipi cucu laki-lakinya, juga dengan cucu perempuannya. Air matanya menetes saat melihat Aidan yang tengah tidur, tapi tidak dengan Aura yang membuka matanya dan mulutnya terbuka dan memainkan bibirnya seakan anak bayi itu sedang kehausan.
"Lucu banget," ujar Bima. Arya setuju, jika saja diberi rezeki yang merupakan banyak anak, dia sangat ingin sekali menambah momongan, tapi apa daya jika dia hanya bisa memiliki satu anak saja yang susah diatur.
__ADS_1
"Haidar, kamu nggak mau ketemu anak kamu?" tanya Arya, Yumna mendorong tangan Haidar dan menyuruhnya untuk pergi, sedari dia masuk ke ruangan ini memang dia belum bisa dekat dengan anak-anaknya karena dikuasai oleh dua ratu penguasa rumah tangga.
"Siapa nama mereka? Sudah nemuin nama yang cocok?" tanya Arya.
"Aidan dan Aura," jawab Haidar. Baru kali ini dia melihat wajah kedua anaknya dengan sangat jelas setelah sedari tadi tersingkir dari mereka.
"Bagus. Papi suka. Gimana dengan kamu, Mas?" tanya Arya kepada Bima.
"Ya, aku juga suka."
Mereka terdiam menatap kedua anak itu yang kini tertidur kembali dengan tenang. Tak ada tangis, mereka tidur dengan sangat nyenyak setelah ikut berjuang mencari jalan untuk bisa keluar dan terlahir ke bumi ini.
Bima menepuk pundak menantunya dan tersenyum. "Jadilah ayah dan suami yang hebat untuk mereka," ucap Bima singkat kemudian pergi ke dekat istrinya untuk duduk di samping Lily.
Haidar terpaku mendengar ucapan ayah mertuanya tadi. Tidak menyangka jika Bima akan mengatakan sesuatu yang sederhana, tapi sangat berarti baginya.
__ADS_1
"Kamu sudah diterima kembali di keluarga mereka," ujar Arya.