
Pagi ini Haidar telah bersiap-siap untuk pergi ke kantor, dia membereskan segala sesuatunya yang akan dia bawa untuk pergi bekerja. Tidak lupa Yumna juga membantunya memasangkan dasi di leher Haidar. Pria itu tersenyum senang karena ada sang istri yang tengah mengurusnya.
"Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" tanya Yumna merasa heran kepada suaminya.
"Memangnya kenapa? Apa aku nggak boleh senyum?" tanya laki-laki itu dan mencium bibir Yumna dan kemudian menggoda leher sang istri dengan bibirnya.
"Boleh aja, tapi kamu harus diam jangan banyak bergerak. Gimana aku mau ikat dasinya dengan rapi kalau kamu gerak-gerak terus seperti itu?" ujar Yumna sedikit kesal. Akan tetapi, Haidar tidak berhenti juga dengan apa yang dia lakukan. Kulit tubuh Yumna yang wangi telah menjadi candu baginya. membuatnya tidak ingin melepaskan sang istri.
Yumna menggeliat di dalam pelukan Haidar, merasakan geli dan juga panas yang tiba-tiba saja muncul akibat ulah Haidar.
"Haidar!" seru Yumna mendorong tubuh sang suami menjauh. Haidar hanya menatap Yumna dengan tatapan yang sendu. "Jangan. Nanti kamu bisa-bisa nggak akan bisa pergi," ujar Yumna.
Haidar terkekeh mendengarnya. "Andai kamu minta aku tinggal di rumah, aku akan tinggal. Aku akan dengan senang hati akan tinggal di rumah seharian nemenin kamu," ujar pria itu sambil tertawa. Yumna mengerucutkan bibirnya sebal.
Ya, dia juga ingin seperti itu, tapi Haidar memiliki tugas yang sangat penting sekali dan tidak bisa diabaikan oleh suaminya.
"Nggak ah, kamu pergi kerja aja dulu. Nanti sore kan kita masih bisa."
"Bisa apa?" tanya Haidar menggoda sang istri. Yumna yang ditanya seperti itu menjadi malu, wajahnya memerah bak tomat yang telah matang.
"Sudah, ah. Kamu cepetan pergi. Nanti terlambat. Jalanan macet kan?" ucap Yumna yang tak ingin menjawab pertanyaan haidar, sudah tentu laki-laki itu juga tahu apa yang dia maksudkan.
Haidar tertawa kecil mendengar usiran halus dari istrinya. Sekali lagi memeluk Yumna dengan erat.
"Sebenarnya aku nggak mau berangkat, tapi kalau nggak berangkat nanti Papa Bima bisa marah," ujar pria tersebut.
"Iya, kamu memang harus berangkat." Akan tetapi, Yumna balas memeluk Haidar dengan erat. "Papa bisa marah kalau kamu nggak ketemu sama orang itu," ujar Yumna menyayangkan.
__ADS_1
Akhirnya setelah kangen-kangenan yang tidak ada ujungnya, Yumna melepaskan sang suami dengan terpaksa. Dari pada sang papa nanti mengomel tidak jelas karena hari ini Haidar akan bertemu dengan orang yang juga teman bisnis sang ayah.
"Siapa yang akan ke sini nanti?" tanya Haidar saat sebelum masuk ke dalam mobil.
"Hari ini seharusnya Arkhan, tapi dia lagi nggak bisa, mungkin Syifa atau Azkhan," ujar Yumna. Haidar hanya menganggukkan kepalanya dan menyimpan tas di kursi sebelahnya.
"Doakan aku biar pertemuan ini lancar dan aku bisa mendapatkan hati Papa Bima juga," pinta sang suami.
"Iya, pasti aku akan doakan."
Haidar kini menunduk untuk mensejajarkan kepalanya dengan perut buncit sang istri yang sangat besar. Tentu saja karena di sana ada dua anaknya yang sangat aktif sekali bergerak sehingga sering membuat Yumna meringis kesakitan.
"Anak-anak Papa. Kalian harus baik di dalam sana, jangan nakal dan jangan membuat Mama kesakitan, ya?" ujar Haidar. Tendangan halus terasa di telapak tangannya, Haidar senang akan gerakan itu dan mencium perut Yumna dengan sayang. Pun tak lupa dia juga pamit dengan Yumna dan mencium bibirnya yang tipis.
"Aku pergi. Kalau ada apa-apa, segera kamu hubungi aku, ya!" perintah Haidar.
Haidar akhirnya pergi. Berat sebenarnya meninggalkan sang istri, tapi pekerjaan sangat banyak di kantor dan dia harus menyelesaikannya. Satu tujuan Haidar untuk sekarang ini adalah mengambil hati Papa Bima dan juga Arkhan. Meskipun mereka sudah bisa menerimanya kembali sebagai suami Yumna, tapi terkadang Haidar melihat tatapan tak suka dari papa mertuanya dan juga adik iparnya itu. Dia hanya bertekad untuk menjadi layak dan menjadi menantu yang bisa dibanggakan oleh kedua mertuanya.
Yumna melambaikan tangannya mengiringi kepergian mobil sang suami yang meninggalkan rumah. Pak Dani segera membukakan pintu gerbang dan menutupnya saat mobil itu kembali melaju pergi.
"Mbak Yumna, mau sarapan sekarang?" tanya sang asisten saat Yumna kembali ke dalam.
"Nanti saja, sebentar lagi. Ada sereal, kan?" tanya Yumna. Asisten itu membawakan sereal coklat beserta susu dan mangkok, tapi Yumna hanya membawa sereal saja ke depan tv dan memakannya tanpa susu.
Tak lama, seorang adiknya muncul, Arkhan langsung berbaring di samping Yumna setelah melempar tasnya di sofa. Bantal sofa dia gunakan sebagai alas kepalanya.
"Hei, datang kok langsung tidur?" tanya Yumna mengelus kepala sang adik dengan sayang. "Udah makan?"
__ADS_1
"Belum. Nanti aja lah. Aku ngantuk, tidur sebentar ya," pinta sang adik.
"Begadang?"
"He-em." Mata Arkhan tertutup, tapi telinganya masih bisa mendengarkan suara kakaknya.
"Ngapain begadang, sudah kurus gini masih juga begadang. Kamu itu harus jaga kesehatan. Jangan begadang mulu!" serocos Yumna. Tidak tahu apa yang dikerjakan adiknya semalam sehingga dia tidak tidur dengan baik.
"Di kamar sana." Titah Yumna.
"Malas naik, di sini aja."
Yumna tidak mau mengganggu, suara tv dia pelankan. Dia hanya tertarik dengan gambarnya daripada suara. Tenang memakan sereal itu sambil menikmati acara memasak di sana.
"Aduh!" rintih Yumna saat dia merasakan lonjakan keras di perutnya. Arkhan baru saja masuk ke alam mimpinya sehingga dia tidak mendengarkan rintihan sang kakak.
Rasa nyeri mulai terasa di perut Yumna, tapi dia mengabaikannya. Memang sedari pagi tadi dia merasakan itu, tapi dia tidak mau membuat Haidar khawatir yang mana bisa membuat suaminya tidak berangkat bekerja. Seperti waktu itu, Yumna mengira jika dia akan bisa bertahan setidaknya sampai tengah hari di mana Haidar telah selesai dengan meeting yang akan dilakukannya di jam sepuluh pagi.
Yumna menarik napasnya, mencondongkan tubuhnya sedikit ke belakang sehingga dia bersandar pada sofa. Diusapnya perut yang pergerakannya cukup keras.
"Hei, apa kalian mau keluar hari ini ya?" tanya Yumna pada kedua anaknya. Jadwal operasi akan dilakukan minggu depan, tapi rasa sakitnya sudah mulai terasa seperti saat kontraksi palsu dulu.
"Kalian bisa tunggu sebentar nggak? Setidaknya sampai siang nanti? Biar Papa bisa temani Mama lahiran," pinta Yumna sambil tersenyum.
Rasa sakit itu sudah tidak ada lagi, menghilang setelah Yumna berhenti berbicara. Yumna menatap sang adik, tampak wajahnya yang lelah tersirat di sana. Melihat ke arah lain, seluruh ruangan yang bisa dia jangkau dengan pandangannya.
"Apa aku bisa selamat?" gumam Yumna, ada sedikit ketakutan dari dirinya untuk menghadapi persalinan ini.
__ADS_1