YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
131. Mencintai Mudah, tapi Melupakan...


__ADS_3

Mobil sudah sampai di garasi rumah kediaman Kakek Hadi. Bian membuka payung dan menarik Yumna untuk mendekat, memayungi Yumna menghindarkan dia dari hujan yang masih saja deras. Entah kapan hujan ini akan berhenti. Pasti nanti malam jalanan akan semakin banjir. Semoga saja besok banjir sudah surut dan tak mengakibatkan macet parah.


"Aduh... Basah begini... Bian, kamu gak payungin Yuma dengan benar!" Nenek berseru pada Bian tapi tangan nenek tak henti mengusap rambut Yumna yang basah.


"Cuma basah sedikit, Nek. Aku gak apa-apa. Yuk masuk. Dingin!" Yumna menarik tangan nenek ke dalam rumah, menghindarkan pria itu dari omelan. Tahu pasti jika nenek sudah menatap Bian seperti itu, pastilah nenek akan membuat telinga semua orang panas.


Bian menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Semenjak kedatangan Yumna dirinya memang di cucu tirikan. Kasihan Bian. Wkwkwk. Satu lagi korban dari kekejaman author. Haha....


Bian mengikuti Ibu Suri dan Putri Mahkota masuk ke dalam rumah, dia bagaikan abdi yang setia menjaga keduanya. Tersenyum dengan senang melihat Yumna yang tertawa lepas dengan nenek. Langkah kaki mereka sudah ringan sekarang. Tak lagi berat seperti saat baru pertama kali datang.


Melihat keduanya senang dan bahagia membuat Bian ikut senang juga. Kini sudah ada nama lain selain ibunya, nenek, dan... Yumna, nama itu memaksa masuk, meski sebenarnya dia enggan. Ah entahlah sepertinya tanpa sadar dia sudah memasukkan nama itu ke dalam sana.


Bukan candaan. Kalau saja Yumna bukan anak papa Azka pasti dia akan melamar Yumna dan menjadikannya istri, tak peduli dengan status Yumna yang pernah bersuami.


Bian sudah tahu cerita tentang Yumna, memang sih bukan anak kandung papa Azka, tapi anak dari istrinya, Mama Lily. Hanya saja nenek selalu menyebutkan kalau nenek tak pernah menganggap Yumna sebagai cucu tiri. Bian dan Yumna mempunyai ukuran yang sama rata di mata nenek dan kakek. Apa jadinya kalau nenek tahu dia suka dengan Yumna?


"Yuma masuk ke kamar ya, Nek." pamit Yumna.


"Iya, segera turun. Kita makan malam ya!"


"Dih... Yuma... Yumaaa..." Abi mengejek nama panggilan Yumna. Terasa geli mendengar nama panggilan itu.


"Apa!" Yumna melotot.

__ADS_1


"Udah gede. Gak usah sok imut! Yuma..." bibir Bian mencebik masih dengan mengejek nama kecil Yumna.


"Ih dasar nyebelin, Lu!" Yumna mengangkat tasnya hingga ke atas lalu berlari ke arah Bian. Bian yang sadar dengan pergerakan Yumna segera berlari. Bukan main kalau terkena tas yang Yumna pakai. Gadis itu sadis juga kalau sedang marah. Bisa-bisa kepalanya benjol akibat ulah adis beringas ini.


Nenek Melati hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua cucunya ini.


"Ada apa mereka?" Kakek baru saja keluar dari dalam kamar, dan melihat tingkah dua orang dewasa yang seperti anak kecil itu.


"Biasa lah, Kek!" Kakek Hadi tertawa, saat Yumna berhasil mendaratkan satu pukulan pada lengan Bian, lalu di susul dengan beberapa pukulan lagi. Bian hanya bisa tertawa sambil melindungi wajahnya dari amukan Yumna.


"Hei... Hei... Kalian ini, Yumna, Bian. Hentikan, segera bersihkan diri kalian, dan lekas turun untuk makan malam. Apa kalian ingin membuat kami kelaparan?" Kakek berseru masih lantang suaranya.


Yumna dan Bian terdiam saling menjauh. Bian mencebik kesal, kepalanya sakit karena terkena besi dari tas Yumna. Mengusapnya dengan perlahan.


"Nenek, Yumna jahat!" Bian melakukan hal yang sama, tak mau kalah. Dia mendekat dan menggelayut manja di bahu nenek.


"Apa! kan kamu duluan yang ejek aku!" teriak Yumna.


"Aku kan cuma kasih tahu kalau kamu ngomong harus yang bener!"


"Terserah aku lah. Namaku, bukan namamu!" saling bersahutan bak anak TK.


"Akhhhh... sakit!"

__ADS_1


"Kakek... aduhhh!"


Kesal dengan kelakuan kedua anak muda di dekat mereka, satu per satu memegang telinga masing-masing dan menariknya. Tak peduli dengan rintihan dan permintaan ampun dari keduanya.


"Kalian itu sudah umur berapa? Apa kalian tidak mau memberikan ketenangan pada kami yang sudah tua ini?" nenek berkata seraya mengalihkan pandangan dari yang satu pada yang lain.


"Nenek, ini sakit. Sumpah!" Bian mencoba menahan tangan nenek yang masih saja menariknya.


"Kakek ku yang tersayang, tolong lepaskan telingaku. Apa kakek tidak kasihan dengan ku? Ini sakit, kek!" Yumna dengan puppy eyesnya menatap sang kakek. Kakek tak pernah tahan melihat Yumna yang seperti itu. Dia melepaskan telinga Yumna dengan perlahan.


"Nenek ku yang cantik, dan baik tiada tara. Kakek sudah melepaskan Yumna lalu kenapa nenek yang kecantikannya abadi ini tak melepaskanku?" Bian mencoba merayu sang nenek, tapi apa yang terjadi?


"Kamu ini sedang mengejek Nenek, Ya?" tanya nenek dengan berang, menarik telinga Bian semakin keras.


"Eh,,, Kok?..."


"Kamu mau bilang kalau cantik nenek abadi sedari dulu seperti ini begitu?" Yumna menahan tawanya melihat ekspresi Bian yang meringis kesakitan. Perlahan Yumna berjalan meninggalkan Bian dan nenek, lebih baik dia membersihkan dirinya ke kamar daripada Bian beralasan dan menyebut atau membawa nama dirinya lagi.


Yumna membaringkan dirinya di atas kasur. Dekat dengan Bian menjadikan dia ingat dengan sosok Haidar. Sifat dua orang itu hampir mirip, bisa membuatnya tertawa dengan lepas, atau membuatnya kesal dan ingin menghajarnya.


"Apa yang sedang dia lakukan disana?"


Mencintai itu mudah, bahkan meski satu kali atau satu detik melihatnya bisa saja kita jatuh cinta dengan sosok itu, tapi melupakan... Akh... Harus bagaimana caranya?

__ADS_1


__ADS_2