
"YUmnaaaa!!!" teriak Haidar dari dalam kamar.
"Kemana kamu, Yumna!!" suaranya terdengar pilu seperti orang menangis.
Dok. Dok. Dok!!
Suara gedoran pintu dari dalam kamar. Pak Dani dan Jeje saling pandang. Suara dari dalam semakin terdengar lebih keras bahkan seperti tendangan dan juga dobrakan dari sana. Pak Dani bisa merasakan hentakkan kuat dari dalam sana.
"Aduh. Gimana ini, Mang?" tanya Jeje menatap Pak Dani dengan perasaan takut. Takut jika bosnya ini mengamuk.
"Yaa... ya Gimana lagi Je? Kalau kita buka pintunya... ngeri ahh..." ucap Pak Dani bingung. Dia tak mau kalau sampai dirinya menjadi korban kemesuman bosnya.
"Yumnaa...." Dok. Dok. Dok. "Buka pintunya. Aku kangennn... Yumnaaa... huu...." suara tangis pilu kini erdengar dari dalam sana. Membuat Pak Dani dan Jeje merasa iba.
"Mereka sedang ada masalah ya Mang? Kok Pak Haidar cari Mbak Yumna kesini?" tanya Jeje menebak.
"Ya mana Mamang tahu. Bukan urusan kita! Jangan suka kepo!" Pak Dani menoyor kepala keponakannya, lalu melengos pergi dari sana.
Mulut Jeje cemberut. Dia kesal jika pertanyaannya tak di jawab.
"Yumna... pulang sama aku, hu... Ayo pulang..." suara itu kemudian terdengar lirih.
Jeje tidak mau lagi mendengar suara Haidar yang menghiba. Dia memilih kembali ke pos jaga untuk menemani sang paman.
__ADS_1
"Yumna...." Haidar terus memanggil nama Yumna. Dia terduduk di lantai dengan bersandarkan pintu. tangan kanannya tak henti mengetuk pintu, dia juga berusaha meraih handle pintu, mencoba untuk membukanya. tapi tak bisa.
Menunggu beberapa saat lamanya, tak ada yang datang meski dia sudah memanggil semua orang. Yumna, mami, papi, Pak Dani, dan juga si Aje, tapi tak terselip nama Vio dalam panggilannya.
Hidar merasa gerah, dia merasa tak nyaman di dalam tubuhnya, panas, dan juga bergairah. Merasa tersiksa, entah kenapa. Dia fikir ini adalah efek dari mabuknya.
Dia membuka bajunya dan melemparkannya ke lantai. Lalu di lanjut dengan sepatu dan celana hingga tak ada satupun kain yang menempel di tubuhnya.
Ac sudah di nyalakan. Udara dingin berhembus dari dalam sana, mengalahkan dinginnya udara malam ini. bahkan Pak Dani dan Jeje saja memakai jaket tebal yang mereka punya.
Udara dingin dari AC tak bisa membuat Haidar menghalau rasa panas di dalam tubuhnya. Semakin panas dan semakin panas. Bahkan dia dengan lancangnya mulai berfantasi ria, membayangkan Yumna unuk kepentingannya.
"Sial!!" pekik Haidar. Dia tak tahan lagi. Meninju dinding kamar mandi dengan keras hingga teras linu disana. Tapi dia tak peduli, di sangat inginkan Yumna sekarang!
"Awas saja anak itu!!" menggeram kesal hingga urat di wajahnya terlihat dengan jelas.
Jeje terdiam di luar. Dia seperti mendengar seseorang meneriakkan namanya.
"Mang, tadi ada yang panggil Jeje deh kayaknya." ucap Jeje pada Pak Dani.
"Siapa?" tanya Pak Dani, dia sibuk menggosokan kedua tangannya mencari kehangatan.
"Apa Pak Haidar ya?" tanya Jeje.
__ADS_1
"Terus mau kamu bukain kamar dia?" tanya Pak Dani. "Mamang gak mau tanggung jawab loh ya kalau ada apa-apa terjadi sama kamu!" ucapnya tak mau peduli.
"Nggak lah. Enak aja. Ngeri, Hii..." Jeje bergidik membayangkan hal aneh yang mungkin akan terjadi. Tadi saja mamangnya yang hampir menjadi korban, jangan sampai dia juga menghantarkan dirinya untuk menjadi korban pria itu.
"Daripada ngurusin orang mabuk, mending beli sate saja sana!" titah Pak Dani. Jeje tersenyum senang, udara dingin begini memang enaknya makan yang panas-panas, kan? Dia mengulurkan tangannya.
"Duitnya?" Pak Dani mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari dalam saku celananya.
"Jeje soto ya, Mang?"
"Terserah!" ucap Pak Dani. Jeje segera mengambil sepeda dan melajukannya ke arah jalan besar.
Haidar menatap dirinya di cermin, rambut dan seluruh tubuhnya basah. Air dari shower, masih tercurah membasahi seluruh tubuhnya. Fikirannya sudah tak lagi kacau seperti tadi, tapi sekarang dia seperti sedang menghadapi hal yang lain. Suatu keinginan yang sangat besar! Besar dan sudah membesar...
Dia sudah gila. Melihat bayangan Yumna di cermin yang tengah tersenyum ke arahnya. Senyum yang manis seperti biasanya.
Haidar mengusap wajahnya frustasi. Dia mencoba menghalau bayangan Yumna dari hadapannya. Mencoba menutup mata, tapi kini bayangan Yumna malah hadir di pelupuk matanya.
"Akh... Sialll!!! Yumna...!!" teriak haidar lagi-lagi meninju dinding hingga tangannya memerah.
Bagaimana dia bisa membayang kan Yumna ? Bagaimana dia bisa dengan lugas menjadikan gadis itu objek fantasinya?
Haidar mundur dua langkah, dia menjatuhkan dirinya ke dalam bathub yang penuh berisikan air. Dia membiarkan punggungnya menyentuh dasar bathtub dan meneggelamkan kepala hingga wajahnya disana.
__ADS_1
Dia membuka mata. rasa dingin di dalam matanya tak ia hiraukan, dari hidungnya keluar gelembung udara. Air seketika masuk ke dalam sana. Haidar terdiam. Dia mencoba untuk menekan rasa inginnya pada seseorang yang tak seharusnya ia rindukan. Hah... benarkah ini rindu? Atau hanya akibat dari rasa kesepian dirinya?