YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
154. Rasa yang Menyiksa


__ADS_3

Mobil terus melaju meninggalkan rumah mewah itu, Syifa yang duduk di belakang kini beralih ke depan dengan menaikkan kakinya melewati sandaran kursi.


"Kak Syifa, yang bener dikit dong!" Azkhan menepis kaki kakaknya yang hampir mengenai kepala. Syifa bersungut dengan kesal.


"Apa, sih? Gak kena juga?" sungutnya.


"Gak kena, tapi hampir.!" Azkhan membela dirinya.


"Sudah dong ih, kalian kok berantem!" Yumna menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua adiknya ini.


"Kak syifa nih, Kak. Gak sopan banget itu kaki." Azkhan mengadu kepada kakak tertuanya.


"Apa sih? Kan gak sengaja juga. Lagian gak kena kok. Dasar tukang ngadu!" Syifa berkata sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kak, Kakak kan janji waktu itu Kakak bilang kita mau makan batagor sama cilok." Syifa menagih janjinya kepada Yumna.


Yumna menepuk keningnya. dia memang lupa.


"Nanti lagi lah. Kak Yumna pasti capek sekarang. pulang dulu istirahat!" kini suara Arkhan yang berbicara di balik kemudi. Nada suaranya terdengar tegas dan memerintah.


"Tapi kan Kak Yumna sudah janji." Syifa berbicara dengan merengut dan memelas.


"Syifa, menurut atau aku turunin kamu di sini!" ucap Arkhan dengan nada yang dingin membuat Syifa menjadi kesal.


"Apa sih kamu? Gitu aja aku mau diturunin?" Syifa kini semakin kesal. biasanya Arkhan jarang sekali berbicara.


"Sudah dong kok semuanya malah berantem? Syifa kita nanti sore aja ya perginya, kakak juga sudah kangen sama mama. Tidak apa-apa kan?" tanya Yumna kepada adiknya. Meski dengan bibir mengerucut tapi akhirnya Syifa mengangguk juga.


"Ya udah deh. Bener ya nanti sore?" tanya Syifa meminta kejelasan dari sang kakak.


"Iya nanti sore. Kalian berdua mau ikut nggak?" tanya Yumna kepada adik kembarnya.


"Yaaah, kita ada acara. Gak bisa ikut." Azkhan berkata, menyesali waktu yang tidak bisa mereka habiskan bersama.

__ADS_1


"Ya udah kalau nggak bisa ikut, biar aku aja sama Kak Yumna." Syifa tersenyum senang. Kalau pergi dengan adiknya sudah pasti mereka akan bawel sekali.


"Ingat kamu jangan suka ngerepotin Kak Yumna. Kamu kan sudah besar." Arkhan yang berbicara. Syifa mendelik ke arah adiknya yang fokus sedang menyetir. Arkhan jarang sekali berbicara, tapi sekalinya berbicara membuat orang kesal luar biasa. Syifa adalah kakaknya, tapi kenapa sekarang seperti dia adalah adiknya?


"Iya!" Hanya itu yang Syifa ucapkan. dia tidak mau memperpanjang perdebatan dengan adiknya itu. membuat kesal saja.


Tidak terasa mobil sudah sampai di depan rumah mereka. Dengan segera security membukakan pintu untuk mobil itu masuk ke dalam.


Yumna segera turun setelah mobil itu berhenti sempurna di garasi. Beberapa mobil mewah terparkir cantik di sana, mobil miliknya, 2 buah motor juga terparkir di samping mobil mama, milik adik kembarnya itu, sedangkan Syifa belum diberikan mobil lagi setelah terakhir kalinya dia memakai mobil dan menabrak pagar rumah orang lain.


Yumna segera berlari ke dalam rumah. Dia sangat kangen sekali dengan mama. Di belakangnya berjalan tiga adiknya. Azkhan membawakan cover milik Yumna.


Mama yang mendengar suara mobil berhenti kini keluar rumah. Melihat putri sulung nya pulang dia segera berjalan mendekat kearah anaknya itu dan memeluknya dengan erat. Rasa haru melihat putrinya kini kembali setelah beberapa bulan dia menenangkan diri. LilY memeluk putrinya dengan erat, dia juga sampai menangis dan menciumnya wajah Yumna yang sangat dirindukan. Yumna pun ikut menangis dengan perlakuan mamanya itu.


Si kembar berjalan melewati mama dan juga Yumna, sedangkan Syifa ikut berpelukan dengan mama dan juga kakaknya.


"Kamu kok kurusan?" tanya mama sambil mengelus pipi Yumna, "Apa kamu di sana tidak makan dengan baik?" tanya mama lagi. Yumna menggelengkan kepalanya.


"Yumna baik kok Ma, di sana juga makan banyak, tapi kan Mama tau badanku cuma segini segini aja dari dulu. Gak kaya anak ini nih, makan dikit pipinya ...." Yumna tertawa kecil dia mencubit pipi adiknya, mencoba untuk mencairkan suasana yang ada di antara mereka.


...***...


Satu minggu telah berlalu dari saat Haidar keluar dari rumah sakit. Haidar sudah bisa berjalan meski kini dia harus memakai bantuan tongkat. Lama diam di rumah membuat Haidar bosan, tapi dia juga belum bisa pergi ke kantor. Mami dan papi melarangnya.


Mami sedang tidak ada di rumah, Haidar berjalan keluar rumah dengan membawa dompet serta kunci mobil. Dia berjalan dengan tertatih, melangkah dengan pelan. Di belakangnya berlari Bi Nah yang mengejarnya dengan raut wajah yang khawatir. Nafasnya tengah-tengah saat sudah sampai di dekat Haidar.


"Mas Haidar, mau kemana? Jangan pergi. Nanti Ibu marah!" Bi Nah memperingatkan kepada Haidar, tapi dasar pria itu memang keras kepala. Tidak peduli dengan perkataan pengasuhnya itu. Tangannya kini membuka pintu mobil.


"Mas Haidar, nanti Ibu marah. Mas jangan pergi!" kini tangan Bi Nah menahan tangan Haidar.


"Sebentar kok, Bi. Cuma mau kesitu saja sebentar." Haidar tidak peduli dia menepis halus tangan tua itu lalu masuk kedalam mobil. Dia simpan tongkatnya di kursi samping. Dia tidak peduli dengan larangan dari Bi Nah.


Haidar menyalakan mobilnya lalu dengan cepat mobil itu keluar dari garasi. Security sempat tidak ingin membuka pintu pagar, tapi Haidar mengancamnya hingga security itu akhirnya membukakan pintu pagar untuk Haidar. Setelah mobil itu pergi security hanya menggelengkan kepalanya, entah bagaimana nanti kalau nyonya marah. Sudah pasti suaranya tidak kalah dengan kereta api uap. Melengking di telinga. Pasrah. Anaknya juga pasti tidak mau disalahkan. Nasib bawahan.

__ADS_1


Haidar melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Dia seperti anak ayam yang berpencar ketika dilepaskan oleh induknya. Bibirnya tersenyum dengan puas.


Mumpung mami tidak ada. Keluar sebentar tidak apalah, gumamnya dengan ringan.


Tangannya bergerak memutar kemudi hingga mobil itu berbelok. Tidak berapa lama mobil Haidar berhenti di suatu tempat. Haidar keluar dari mobil itu, tidak lupa dia membawa tongkatnya untuk menopang tubuhnya. Kaki yang patah memang masih sakit untuk digerakkan. Peringatan dokter beberapa hari yang lalu dia abaikan.


"Dokter mana tahu kalau cuma berbaring saja bisa bosan. Enakan ke sini, bisa duduk sambil lihat-lihat." Haidar berbicara pada dirinya sendiri, seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah. Beberapa orang terlihat sedang berjalan santai ada juga yang sedang berolahraga pada sore hari ini. Taman yang cukup ramai setidaknya membuat Haidar tidak merasa bosan lagi. Hiburan tersendiri.


Haidar melangkahkan kakinya dan berjalan dengan perlahan. Dia menuju ke sebuah bangku yang berada di bawah pohon. Sorot cahaya matahari yang beranjak turun sedikit menyilaukan matanya, tapi dia tidak peduli. Rasanya terlihat indah cahaya itu diatas air danau buatan yang ada di depannya. Cahayanya membias dengan indah. Kini Haidar menikmati waktunya sendiri. Urusan mami biar nanti saja.


Lama Haidar terpekur menikmati waktunya sendirian, dia hanya duduk diam menikmati segala apa yang ada di sana. Beberapa orang berjalan melewati nya, sendiri, berdua, atau berkelompok. Ada juga pasangan dan juga keluarga.


Haidar menatap pada sebuah keluarga yang baru saja berjalan lewat di depannya. Pasangan suami istri dengan dua anak kecil yang berjalan sambil bergandengan tangan. Mereka terlihat sangat bahagia. Senyum merekah indah di bibir masing-masing. Apalagi dengan dua tingkah anak itu yang sangat lucu.


Tiba-tiba Haidar berpikir, jika mungkin dia dan Yumna bersama mungkin mereka sebentar lagi akan mempunyai bayi dan mereka mungkin saja akan melakukan aktivitas bersama seperti keluarga kecil itu.


Terbayang jika nanti mereka berjalan berdua dengan mendorong kereta bayi, lalu beberapa tahun kemudian ketika anak mereka sudah bisa berjalan, dia dan Yumna akan menggandeng nya di kedua sisi. Sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia, tapi sayangnya itu masih dalam angannya saja.


Ahhh.... Kasihan sekali gue ini! Haidar meratapi dirinya sendiri. Memang benar lagu yang pernah dia dengarkan.


Kalau sudah tiada baru terasa.


Bahwa kehadirannya sungguh berharga.


Sungguh berat aku rasa kehilangan dia.


Sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia.


Kenal tidak dengan lagu ini? Yang kenal boleh nyanyi deh. Wkwkwk.


Haidar mengikuti pandangannya sampai keluarga itu menghilang di belokan. Dia menghela nafasnya dengan berat. Entah kapan dia kan bisa bertemu dengan Yumna. Rasanya sangat menyesal sekali, kenapa dia tidak menyadari isi hatinya sendiri. Semua itu tertutup oleh rasanya kepada Viola, hanya karena janji.


Kini terasa sekali rasa sepi di dalam hatinya. Dia teringat jika setiap pagi hari Yumna akan membangun kan nya. Bukan membangunkan dengan lembut seperti pasangan suami-istri pada umumnya. Yumna itu barbar, dia bahkan pernah menendang nya di atas tempat tidur agar dirinya bangun. Istri yang kurang ajar, tapi justru itulah dia merasa harinya lebih berwarna.

__ADS_1


"Haidar?" Suara seseorang menyadarkan lamunan Haidar. Haidar memutar kepalanya menoleh ke arah asal suara. Seorang wanita cantik berjalan ke arahnya. Wajahnya terlihat lesu, dengan tubuh yang kini terlihat kurus. Matanya merah menatap Haidar dengan tatapan rasa bersalah.


"Haidar, maafkan aku."


__ADS_2