
Haidar dan Yumna berlari-lari kecil mengelilingi lapangan, bersama dengan beberapa orang yang lain yang juga sama seperti mereka, olahraga ringan di pagi itu. Ada yang hanya sendiri maupun berpasangan dan berkelompok berlari mengelilingi taman tersebut.
Yumna tidak tahan lagi setelah tiga kali putaran dirinya tidak tahan, dia berhenti sambil menundukkan tubuhnya, merasakan sakit pada perutnya yang sedang kram. "Haidar! Aku gak kuat lagi," ucap Yumna memanggil suaminya. Haidar berhenti berlari dan melompat-lompat kecil, kini mendekat pada Yumna.
"Perut sama kakiku sakit. Gak kuat lagi lari," ucap Yumna sambil berjongkok di bawah. Rasanya kakinya sakit sekarang ini dan dia tidak sanggup lagi untuk berlari meneruskan olahraganya.
"Jangan berjongkok di bawah, Yumna. Nanti kaki kamu sakit loh, uratnya berkerut." Haidar menarik tangan Yumna untuk berdiri kembali, dengan malas Yumna segera bangkit dan mengikuti arah langkah kaki Haidar.
"Haidar, jangan lari lagi. Aku udah gak kuat," mohon Yumna.
"Siapa yang mau lari. Kamu duduk di bangku sana, lurusin kaki kamu yang bener di sana," ucap Haidar. Yumna hanya pasrah mengikuti langkah kaki Haidar hingga mereka sampai pada sebuah bangku panjang yang kosong di tepi lapangan.
Yumna duduk di bangku tersebut dan Haidar membantu meluruskan kaki Yumna dengan baik dan juga benar.
"Aw, sakit!" ucap Yumna saat Haidar menekan betis Yumna dengan lembut.
"Itu karena kamu gak pernah olahraga dengan baik dan juga benar. Di rumah kan ada treadmill juga jarang kamu pake sih. Gini kan jadinya," ujar Haidar. Yumna mengerucutkan bibirnya. Baginya, hari libur adalah hari untuk bersantai dan juga menikmati hari.
__ADS_1
"Gak ada waktu buat pakai treadmill," ucap Yumna.
Haidar menarik kaki Yumna dan memangkunya di atas lutut, memijat lembut kaki Yumna yang terasa sakit. "Gak ada waktu gimana? Hari minggu kalau aku gak ada kamu malah rebahan, padahal harusnya kamu kan bisa tuh olah raga dengan baik setengah ja, juga sudah cukup. Ingat buat jaga kesehatan kamu, jangan cuma kerja terus rebahan doang," ucap Haidar.
"Hari Minggu tuh memang waktunya bersantai. Kan seharian kerja selama satu minggu, masa libur harus gerak juga. Kan enak kalau nikmatin waktu libur aja," ujar Yumna. Haidar menggelengkan kepalanya, tetap saja apa pun yang Haidar katakan tentang olah raga di hari minggu tidak akan ada benarnya di mata Yumna.
"Sayang, aku mau minum dong. Tolong belikan," pinta Yumna dengan nada yang manja.
"Oke, aku belikan, tapi kamu jangan pergi jauh ya. Nanti kalau kamu hilang aku yang bingung cari kamu kemana," ucap Haidar lagi sambil memberikan telunjuk tangannya di depan hidung Yumna.
"Iya." Haidar berdiri lalu pergi ke sebuah stand penjual minuman yang ada sedikit jauh dari sana.
Yumna memperhatikan keluarga kecil yang melintas di depannya, orang tua muda bersama dengan anak kecil perempuan berusia tiga tahunan sedang melintas di depannya, mereka tampak sangat bahagia sekali saling tertawa dan bersenda gurau. Saling berpegangan pada kedua tangan putrinya itu dan sesekali mengangkatnya ke atas dan mengayunkannya.
Hal tersebut membuat Yumna iri, meski pernikahan dirinya dan Haidar baru berjalan enam bulan lamanya, tapi dia ingin juga mempunyai anak yang lucu seperti mereka. Tanpa sadar Yumna mengusap perutnya sendiri dan berdoa untuk disegerakan memiliki momongan.
"Ini airnya," ucap Haidar yang sudah kembali ke dekatnya. Yumna sampai terkejut melihat botol air yang tiba-tiba saja menempel di pipinya dan terasa sangat dingin sekali.
__ADS_1
"Haidar!" teriak Yumna refleks. Haidar duduk di samping Yumna dan membuka botol miliknya yang lain, meminum isinya hingga setengah habis.
"Aku panggil kamu dari tadi loh, kamu fokus banget lihatin mereka. Nanti, Yumna. Nanti kita punya boneka hidup sendiri yang bisa kamu kuncir dua rambutnya," ucap Haidar sambil mengusap kepala Yumna. "kamu sabar aja, ya."
Yumna menatap Haidar dan tersenyum, dia kemudian menganggukkan kepalanya.
"Sini aku bukain." Haidar mengambil minuman dingin di tangan Yumna dan membuka tutup botol tersebut dan memberikannya kembali kepada Yumna.
"Kita lanjut lari atau mau pulang?" tanya Haidar setelah Yumna meminum airnya.
"Terserah kamu saja," ucap Yumna.
"Kalau begitu kita pergi, yuk." ujar Haidar.
"Kemana?" tanya Yumna bingung.
"Kemana aja. Yang penting hari ini aku gak mau kamu ngelamun terus mikirin soal anak. Kita nikmatin dulu masa pacaran menyenangkan ini berdua, nanti kan kalau sudah punya anak pasti bakalan susah kalau mau berduaan," ujar Haidar sambil terkekeh pelan. Yumna setuju dengan ucapan Haidar ini, memang setelah memiliki anak tentu saja sangat sulit sekali untuk memiliki waktu berkualitas hanya berdua saja.
__ADS_1