YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
41. Melihat Haidar dan Vio


__ADS_3

Pagi menjelang Yumna dan Haidar bersiap-siap untuk pergi ke kantor.


"Elo yakin masih mau dandanan kayak gini?" tanya Haidar menunjuk penampilan Yumna yang culun dengan cepolan rambut yang tinggi dan kacamata besarnya. Yumna hanya meringis tersenyum.


"Emang kenapa?!"


Haidar mengangkat bahunya pasrah, merasa bingung dengan kebiasaan Yumna.


"Aneh banget istri gue!" ucap Haidar mengacak poni milik Yumna. Yumna menepis tangan Haidar kasar dan merapikan rambutnya kembali.


"Ayo gue anter!" ucap Haidar membuka pintu mobil untuk Yumna. "Silahkan tuan putri-ku!"


"Trimakasih pangeran-ku!" jawab Yumna sambil tersenyum lalu masuk ke dalam mobil milik Haidar. Mobilpun berjalan meninggalkan pelataran parkiran kediaman Rahadian.


"Pi, sweet banget deh anak dan menantu kita!" ucap Mitha yang sedari tadi mengintip dari balik gorden di dalam rumah.


"Mami mau di sweet-tin kayak gitu?" tanya Arya yang juga berada di sampingnya.


"Boleh!" jawab Mitha.


"Ayo, kalau gitu papi sweet-tin di kamar!" ucap Arya.


"Ih papi, bukannya mau kerja?" tanya Mitha.


"Mumpung sekarang ada Haidar di kantor. Telat sedikit gak pa-pa kan?!" Arya mengedipkan satu matanya pada sang istri.


"Dasar mesum!" ucap Mitha malu.


"Ayo, ah. Mumpung rumah sepi!" Arya menggendong Mitha ala bridal style, menuju ke kamar mereka.


Seorang asisten rumah tangga yang tak sengaja melihat kemesraan majikannya hanya menggeleng sambil mengurut dadanya.


"Nasib Jomblo, kasihan banget kalau tiap hari lihat drama romantis kayak gini!" sedihnya.


...***...


Di perusahaan Mahendra.


Jam makan siang sebentar lagi tiba. Yumna masih berkutat dengan pekerjaan yang menumpuk.


"Yumna, makan siang dimana?" tanya Sisil, salah satu teman satu divisi Yumna bertanya.


"Enaknya dimana ya?" tanya Yumna balik.


"Kita di kafe seberang aja yuk! Sekalian kita rayain nikahan kamu!" Ucap Vera yang menyembulkan kepalanya di balik kubikelnya.


"Oke!" ucap Yumna.

__ADS_1


Jam istirahat pun tiba. Yumna, Sisil, Vera, dan Rania pergi keluar dari perusahaan. Mereka saling mengobrol, dan berhenti saat tiba di pinggir jalan, menantikan lampu merah menyala menghentikan para pengendara.


Deg! Yumna terdiam.


Rasa tercubit dalam hati Yumna saat melihat mobil Haidar melintas. Haidar berada di dalam mobil dengan Vio yang bergelayut manja di pundak suaminya.


"Yumna ayo jalan! Lampu udah merah tuh!" Vera menarik tangan Yumna. Yumna tersadar lalu mengikuti langkah ketiga temannya. Merasa penasaran, Yumna kembali menoleh untu memastikan. Tipe dan plat mobil yang sama milik Haidar!


Sampai di kafe mereka memilih tempat duduk yang berada di dekat kaca besar, Sisil bilang supaya bisa sambil ngecengin orang katanya.


"Nah tuan putri, siang ini biar kami yang traktir! Sebagai ucapan selamat atas pernikahan kamu dan suami!" Rania menyodorkan menu pada Yumna.


"Asyiiikk!!!" Yumna bersorak.


"Norak!" cibir Vera. Yumna mencebik tak peduli. Dia menunjuk beberapa makanan dan di catat oleh pelayan.


"Gila!!! Kamu bakal habis pesen segitu?" tanya Rania menelan ludahnya susah payah.


"Kan kamu yang traktir. Jadi mumpung gratisan..." ucap Yumna melirik pada dia temannya yang lain.


"Kita bikin dia bangkrut!" Sisil dan Vera menyambar bersamaan sambil ber-tos ria.


"Ya sudah. Ya sudah! Asalkan bener habis aja. Jangan mubazir, sayang!" ucap Rania pasrah.


"PASTI!!!" jawab ketiga yang lain kompak.


Makanan datang, keempat para gadis memakan makan siangnya dengan lahap. Apalagi Yumna, mengingat hal tadi membuatnya tak sadar makan dua kali lipat dari biasanya. Merasa gemas, marah tanpa tahu sebab, tapi juga tak berdaya.


"Kalian apa-apaan sih! Belum apa-apa ju...!" Yumna langsung menutup mulutnya, menyadari kata-katanya.


Upss... keceplosan!


"Be-lum!" ketiga temannya, saling berpandangan.


"Yaaahhhh. Padahal kita mau kepo-in malam pertama kamu!" ucap Sisil.


"Hu-um. Rugi deh traktir-nya! Berharap tahu info dikit!" ucap Rania yang mendapat toyoran dari Vera di kepalanya.


"Dasar mesum!" di tujukan pada kedua temannya. "Eh kalau gak tahu caranya aku punya video nya, biar kamu bisa lihat terus praktekin nanti malam!" bisik Vera pelan.


"Huhhhh sama aja!" Sisil melemparkan tisu bekas pakainya ke arah Vera. Vera hanya tertawa kecil.


Mereka melanjutkan makan mereka sambil berbicara soal pernikahan Yumna yang membuat Yumna menjadi salah tingkah.


"Eh aku gak nyangka loh, ternyata kamu itu anaknya pak Bima!" ucap Vera.


"Iya nih! Bikin kita jantungan aja kemarin, serasa masuk ke dalam dunia dongeng lihat pernikahan kamu! Megah banget! Untung aja aku pakai gaun terbaik yang aku punya!" ucap Sisil.

__ADS_1


"Iya nih!" sambut Rania.


"Maaf." ucap Yumna.


"Lagian kenapa sih, kamu kan anak pertama pak Bima. Harusnya posisi kamu itu di bawah pak Bima kan? Minimal manajer gitu! Atau wakil direktur!" Vera membeo.


"Hehe...belum saatnya! Nanti aku harus belajar dulu dari awal supaya bisa layak di posisi itu sesuai dengan kinerja aku!" ucap Yumna. Ketiganya mengangguk mencoba memahami.


"Tapi kan kamu lulusan S2 luar negeri, harusnya posisi kamu di atas kita dong yang cuma lulusan S1 dalam negeri pula." Rania merendah.


"Aku emang sengaja minta posisi itu." jawab Yumna cuek.


"Dunia Orkay emang membingungkan!" Sisil berujar seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Setelah selesai makan siang mereka kembali ke perusahaan.


Jam terus berjalan merambat. Yumna merasa mengantuk, semalam setelah dia terbangun oleh Haidar baru bisa tidur lagi menjelang pagi.


Menguap lebar-lebar. Tidak tahan lagi. Yumna berdiri dan berjalan menuju pantry. Menyeduh kopi hitam supaya matanya yang mengantuk tetap terjaga.


Yumna meniup kopinya yang masih panas, membuat embun di kacamatanya. Dia menyimpan cangkir kopinya di atas meja, lalu melepas kacamatanya dan mengelapnya menggunakan tisu.


"Yumna!" panggil seseorang. Yumna menoleh, dan mendapati seorang pria yang mendekat ke arahnya. Dion, dari divisi lain yang sudah lama mengagumi Yumna.


"Iya?"


Pria itu terpesona melihat wajah cantik Yumna tanpa kacamata besarnya itu. Yumna yang sadar dengan tatapan pria itu segera memakai kembali kacamatanya.


"Ada apa, Dion?"


"Eh, enggak!" jawab Dion dengan canggung. "Padahal kamu cantik kalau gak pake kacamata!" ucap Dion, mukanya memerah.


Yumna tersenyum, merasa canggung dengan pria yang tidak terlalu di kenalnya ini.


"Ehm, ada apa ya? Ada perlu sama aku?" tanya Yumna.


"Enggak sih, cuma mau nyapa aja. Kebetulan ketemu disini, masa gak nyapa!" Dion tersenyum malu.


"Ah. Iya!" Yumna meraih cangkir kopinya dan memegangnya di depan dada. "Ada hal lain?" tanya Yumna. Dion tak sengaja menatap cincin yang melingkar di jari manis Yumna.


"Tidak ada."


"Kalau gitu aku mau balik ke meja ya!" pamit Yumna.


"Silahkan!"


Yumna terdiam karena Dion masih menghalangi jalannya.

__ADS_1


"Ehm, bisa tolong kasih jalan?" tanya Yumna. Dion yang tersadar segera beringsut memberikan jalan untuk Yumna. "Trimakasih!" Yumna segera berjalan melewati Dion yang masih terdiam berfikir.


Itu cincin apa ya?


__ADS_2