YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
43. Apa yang aku lakukan?


__ADS_3

"Oh My God!"


Yumna berseru, melotot melihat isi di dalam lemarinya. Mengambil potongan-potongan kain minim dengan bahan yang menerawang dengan berbagai warna.


"Ya ampun! Siapa yang melakukan ini? Apa mama?" tanya Yumna pada dirinya sendiri. Dia lantas mengembalikan kain-kain itu ke tempatnya semula.


Meraih hpnya di atas nakas, duduk.di tepi ranjang, segera Yumna melakukan panggilan pada sang mama. Tak berapa lama terdengar sapaan dari ujung telfon.


"Mama, apa mama yang kirim baju kurang bahan kesini?" tanya Yumna kesal. Lily tertawa ringan dari tempatnya.


'Kenapa sayang? Bagus tidak? Kalau Haidar tidak terlalu suka dengan lingerie model seperti itu, mama akan carikan yang lebih hot lagi!'


Yumna menepuk keningnya keras. "Mama gimana sih? Yumna mau gimana pakai nya coba? percuma pake baju kayak gitu cuma nutupin ujungnya doang!"


Klik, memutuskan panggilan. Yumna yang kesal melemparkan hpnya ke atas ranjang. Bergumam kesal, bagaimana bisa mama belikan aku baju kurang bahan kayak gitu? Mana gak ada baju lain juga! Aku tidur malam ini masa pake baju kantor?!


Haidar baru saja keluar dari kamar mandi. Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Melihat wajah Yumna yang kesal, lalu berjalan ke arah lemari.


"Kenapa sih, bete gitu?" tanya Haidar.


"Lihat baju-baju aku! Harusnya aku gak percayain mama buat kirim baju aku kesini!" Yumna berkata dengan kesal.


Haidar membuka lemari lainnya dimana bajuilik Yumna di simpan, matanya terbelalak mendapati banyaknya lingerie dan gaun tidur malam yang sangat seksi tipis menerawang. Dia tertawa kecil seraya mengambil satu lingerie berwarna merah.


"Gak buruk juga selera mama Lily!" Haidar menempelkannya di depan tubuhnya. Yumna bergidik ngeri sekaligus jijik menatap lingerie berwarna merah itu. Membayangkannya saja dia merasa ingin membakar kain minim itu.


"Haidar bisa gak sih gak usah kayak gitu? Elo pasti lagi bayangin yang enggak-enggak ya?!" teriak Yumna. Haidar melemparkan kain minim itu ke pangkuan Yumna.


"Pake aja napa sih? Lagian kan mau tidur, pake selimut juga, bakal ketutupan kan?!" ujar Haidar enteng.


"Gak mau. Bisa masuk angin kalau pake kayak gitu."


"Trus elo mau pake apa? Pake bathrobe?" tanya Haidar.


"Ya gak pa-pa, daripada baju kurang bahan itu!" jawab Yumna. Haidar menghela nafasnya. Dia mencari kaos lama miliknya dan kembali melemparkannya ke pangkuan Yumna.


"Kaos lama gue. Udah gak muat, kalau mau di pake itu juga!" ucap Haidar, lalu dia mengambil bajunya yang lain dan berjalan ke arah kamar mandi.


Yumna mengangkat kaos itu tinggi-tinggi.


"Lumayan sih, daripada bathrobe atau lingerie."


Haidar selesai memakai bajunya di kamar mandi. Dia duduk di sofa memainkan hpnya. Berbalasan pesan dengan seseorang.

__ADS_1


Yumna berjalan ke arah kamar mandi. Dia memakai kaos milik Haidar tadi.


"Udah gak muat, tapi di badan gue malah masih kebesaran!" gumam Yumna menatap dirinya di cermin. Yumna kembali keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil di tangannya dia mengeringkan rambutnya yang basah.


Haidar yang sedang berbalasan chat dengan Vio tertegun saat tak sengaja melihat Yumna yang seakan tenggelam dalam bajunya. Kaos kebesaran yang sampai menutupi setengah paha Yumna yang putih. Menelan salivanya dengan susah payah, Haidar tidak mengalihkan pandangannya dari paha putih mulus itu.


Tersadar karena suara dering telfon miliknya. Haidar menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia segera mengalihkan pandangannya ke arah hpnya. Haidar segera berdiri dan berjalan ke arah jendela.


"Halo sayang!" sapa Haidar.


Yumna memutar bola mata malas dengan kelakuan Haidar yang seperti ABG labil saat di telfon. Dia lantas membaringkan dirinya di atas kasur dengan nyaman.


Satu jam berlalu. Haidar mengakhiri panggilannya. Dia kembali ke arah sofa. Berhenti sebentar di dekat ranjang, menatap wajah cantik Yumna yang tanpa make up. Menatap lamat dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Glekk...


Menelan saliva dengan susah payah, tubuh Yumna yang biasa tertutup oleh baju longgar kini terlihat sangat menggiurkan, dengan banyak bagian paha mulus yang bisa ia nikmati. Haidar menggelengkan kepalanya, kembali ke kesadarannya.


"Dia udah tidur aja. Padahal belum makan malam!" gumam Haidar lalu mengambil selimut dan menutupi tubuh Yumna hingga ke dadanya. Terasa seperti ada sebuah magnet yang kuat, Haidar mendekatkan wajahnya, melihat Yumna dengan lamat.


Semakin di perhatikan, semakin cantik juga!


Semakin mendekat, dan mendekat.


Satu kecupan singkat mendarat di kening Yumna. Haidar terkejut dengan apa yang di lakukan. Dia segera menarik dirinya sendiri.


Ya ampun! Apa yang barusan gue lakukan!


Haidar berdiri dan segera melangkah ke arah sofa, membaringkan dirinya dengan nyaman disana. Dadanya berdebar. Berbalik ke arah kanan, lalu ke arah kiri, tidak merasa nyaman, dia bangun untuk duduk, lalu menatap ke arah Yumna.


Gue udah gila! Bagaimana kalau Yumna tahu yang barusan... Dia pasti akan tampar gue lagi!


Merasa hatinya tidak tenang, Haidar turun ke bawah untuk mengambil air.


Sampai di dapur dia mengambil air dingin dan menenggaknya dengan rakus, di dalam hatinya masih bertanya-tanya kenapa dia bisa melakukan hal itu!


"Mas Haidar. Makan malam sudah siap!" Bi Nah datang dari ruang makan, dia menyimpan nampan di tempatnya semula.


"Mami sama papi udah pulang?" tanya Haidar.


"Belum mas, katanya mau sekalian makan di luar!" jawab Bi Nah.


"Oh!" Haidar membuka lemari makanan dan mengambil beberapa bungkus roti, susu kemasan, dan juga air putih di dalam gelas.

__ADS_1


"Bibi ajak aja yang lain makan malam, aku gak makan. Yumna juga sudah tidur!"


"Apa mbak Yumna sakit? Kok tumben ini masih sore sudah tidur?" tanya bi Nah.


"Enggak. Yumna cuma kecapean aja! Aku gak tega bangunkan dia buat makan malam!" jawab Haidar. Bi Nah tersenyum penuh maksud. Haidar kembali ke kamarnya dengan membawa makanan untuk Yumna.


Haidar kembali ke sofa setelah menyimpan nampan berisi makanan di atas nakas di samping ranjang. Dia kembali menatap tubuh Yumna yang masih dalam posisi seperti tadi.


Deg.


Deg.


Deg.


Haidar menyentuh dadanya sendiri.


Gue udah gila! Jangan sampai gue jatuh cinta sama Yumna!


Haidar membalikan dirinya lalu mencoba untuk tidur.


Tengah malam Yumna terbangun, dia merasa lapar dan juga haus. Dia membuka selimutnya lalu duduk bangun di atas ranjang, mengucek matanya yang masih mengantuk. Yumna menatap selimut di sampingnya, mengingat-ingat sesuatu. Dia mengangkat bahunya cuek.


Ah perasaan gue aja kali! gumam Yumna dalam hati. Merasa ada yang aneh karena melihat selimut tadi.


Yumna melihat nampan di samping tempat tidurnya dengan memo kecil di atasnya.


Gue gak berani bangunin ajak elo makan malam, jadi gue bawain roti dan minuman. Kalau elo mau itu juga!


Yumna tersenyum membaca memo tersebut.


"Anak itu bisa sweet juga!" gumam Yumna lirih. Dia berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Yumna duduk di tepi ranjang sambil menikmati sebungkus roti berisikan selai stroberi, dia juga meminum susu kemasan rasa coklat yang di bawakan Haidar.


Yumna menatap Haidar yang baru saja berbalik dari tidurnya. Selimutnya terjatuh di lantai. Dia segera menghabiskan makanannya dalam satu suapan besar lalu mengunyahnya dan menelannya dengan susah payah, terakhir dia meminum susu coklatnya hingga habis.


Yumna beranjak bangun setelah membersihkan mulutnya dengan tisu. Dia mendekat ke arah Haidar dan mengambil selimutnya di lantai, menyelimuti Haidar dengan hati-hati.


"Haidar, Trimakasih atas makanannya!" bisik Yumna lirih. Entah kenapa ia mendekat, lalu sebelum apa yang tidak ia sadari terjadi, ia tersadar dengan kelakuannya. Yumna menjauhkan dirinya dari Haidar. Dadanya berdebar keras.


Apa sih nih kelakuan gak bener! Jangan baper deh Yumna! Dia hanya perhatian karena butuh bantuan elo! ujar Yumna dalam hati.


Yumna bangkit lalu berjalan ke arah ranjangnya.

__ADS_1


__ADS_2