YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
44. Rencana Makan Malam (part 1)


__ADS_3

Waktu beranjak semakin sore, Yumna, Sisil, dan Vera baru saja keluar dari lift. Mereka menunggu jemputan masing-masing sambil berbincang ringan.


"Kalian masih disini?" tanya seorang pria yang tak lain tak bukan adalah Dion, dia baru saja keluar dari lift.


"Eh, Dion!" sapa Sisil. "Iya nih masih nunggu jemputan!" terangnya.


"Bareng aku aja!" tawar Dion. "Aku anterin pulang semuanya!" ucapnya penuh harap. Berharap jika Yumna juga akan ikut dengannya.


"Kenapa juga gak nawarin kita tadi sebelum pulang. Jadi aku kan gak perlu pesen Ojol!" ucap Vera.


"Aku di jemput pacar!" Sisil berujar.


"Kalau Yumna?" tanya Dion,


"Aku di jemput..."


Tin.


Tin.


Suara klakson terdengar memotong ucapan Yumna. Yumna menoleh pada asal suara itu.


"Itu jemputan aku! Semuanya aku duluan ya. Bye!" pamit Yumna, dia melambaikan tangannya, lalu setengah berlari mendekat ke arah mobil Haidar. Vera dan Sisil membalas lambaian tangan Yumna, begitu juga dengan Dion.


Dion mematap punggung Yumna yang kemudian menghilang ke dalam mobil.


Siapa yang jemput Yumna, ya? gumam Dion dalam hati.


Dion tersadar saat Vera dan Sisil menepuk pundaknya bersamaan.


"Jangan banyak berharap! Elo itu udah telat!" ucap Sisil.


"Telat?" tanya Dion, merasa ada yang tidak beres dengan ucapan Sisil.


"Kita tahu kok, elo suka sama Yumna. Tapi sayangnya, Yumna itu udah ada yang punya!"


"Dia udah married!" Bisik Vera di dekat telinga Dion.


"What?!" tak sadar Dion berseru. "Kapan? Kok gue gak tahu!" Menatap Sisil dan Vera bergantian.


"Dua minggu yang lalu!" ucap Sisil.


"Dua minggu?" keduanya mengangguk mantap. "Tapi kenapa gue gak tahu?"


"Acaranya biasa aja. Sederhana kok! Makanya gak banyak yang di undang!" ucap Vera.


Dion merasa sesuatu terasa sakit di hatinya. Seperti bongkahan gunung es batu yang retak kemudian jatuh dengan dahsyat ke lautan luas. Dion terdiam.


"Sabar. Sabar! Ini ujian!" Ucap Vera menenangkan Dion yang terlihat sulit bernafas.


Jadi cincin itu...


Vera dan Sisil menatap Dion dengan iba. "Makanya lain kali kalau punya perasaan sama cewek, di utarain napa sih. Jadinya kan gak sesakit ini!" ucap Sisil. Vera mengangguk.


"Jadi nganter pulang gak? Kalau jadi gue mau cancel ni ojol. Lama banget!" ucap Vera.


"Gak jadi! Kamu tunggu aja abang ojolnya. Belajar setia, jangan belajar mencampakkan orang lain. Sakit!" ucap Dion seraya mengelus dadanya. Dion beranjak pergi meninggalkan dua gadis itu disana. Vera dan Sisil melongo mendengar ucapan Dion.


"Kasihan banget dia!" ucap Sisil.


"He-em." jawab Vera. "Gue ikut elo pulang ya!" sambungnya namun tak mengalihkan pandangan dari punggung Dion.


"Inget apa kata Dion. 'Belajar setia. Jangan mencampakkan!' Tunggu abang ojol elo datang!" ucap Sisil sambil menunjuk ke arah hidung Vera.


Vera mendecih sebal.


...★★★...


Di dalam mobil.


"Siapa tadi pake melambaikan tangan segala?" tanya Haidar tak suka.


"Tentu aja temen, emang gak lihat?!" jawab Yumna santai sambil memejamkan matanya, lelah.


"Yang cowok itu?" tanya Haidar meyelidik. Yumna membuka matanya dan menoleh pada Haidar. Pertanyaan Haidar seperti menyiratkan arti sesuatu.


"Elo kenapa sih? Kok nanya, nadanya kayak gitu. Cemburu?" tanya Yumna, dia tersenyum lebar ingin mengganggu Haidar.


Haidar merasa kalap, dia mencoba untuk biasa saja. "Jangan ge-er. Siapa juga yang cemburu." ucap Haidar. Yumna mengerucutkan bibirnya.


"Yeee... kirain cemburu!"


"Mau banget ya gue cemburuin?" tanya Haidar mendelik.


"Gak juga! Tapi gue ingin tahu aja kalau cowok cemburu kayak gimana sih?" tanya Yumna ingin tahu.


"Kalau cowok cemburu..." Haidar menjelaskan apa yang dia rasakan jika dia merasa cemburu pada Vio. Yumna mengangguk mendengar cerita Haidar, tatapan matanya tak berhenti menatap Haidar yang tengah fokus menyetir sambil bercerita.


Tak berapa lama mereka sampai di rumah. Haidar memarkirkan mobilnya di garasi di samping rumah. Yumna melepaskan diri dari seatbelt.


"Cepet mandi terus siap-siap, Agnes undang kita ke rumahnya." ucap Haidar sebelum Yumna turun.

__ADS_1


"Agnes, siapa?" tanya Yumna.


"Dia sepupu gue, waktu kita nikahan juga datang." Yumna mengangguk lalu turun dari mobil.


"Dia bilang ingin merayakan pernikahan kita secara pribadi malam ini. Elo gak sibuk kan? Atau ada acara lain?" tanya Haidar yang ikut turun.


"Enggak sih. Gak sibuk. Boleh aja." Yumna menutup pintu mobil lalu menyusul Haidar berjalan menuju ke dalam.


"Tangan!" ucap Haidar sambil mengangkat tangannya. Yumna menyambut tangan Haidar untuk di genggam. Satu peraturan tambahan selama masa pernikahan mereka, pulang ataupun pergi kemanapun jika bersama harus saling berpegangan tangan untuk memperlihatkan kemesraan mereka di hadapan keluarga.


Mitha sedang berada di ruangan keluarga. Dia sangat senang melihat kedua anaknya yang akur dan mesra setiap hari.


"Kalian sudah pulang?" sambut Mitha dia berdiri dan melangkah mendekat.


"Iya mi. Kami duluan ya mi!" jawab Haidar lalu dengan cepat menarik tangan Yumna sebelum wanitanya di tahan oleh sang mama.


Mitha hanya melihat kedua putranya yang berjalan cepat menaiki tangga. dia memberengut sebal.


"Yaaah padahal aku mau ajak Yumna ngobrol! Bosen banget seharian gak ada temen!" Mitha kembali ke sofa dan menghempaskan dirinya disana.


Brak!


"Dasar anak muda! Baru juga pulang kerja udah gak sabar aja mau 'ngamar'. Mereka gak capek apa?" gumam Mitha yang melihat pintu kamar Haidar baru saja menutup dengan keras.


Di dalam kamar.


"Gue dulu atau elo dulu yang mandi?" tanya Haidar sambil melepaskan genggaman tangannya.


"Gue dulu deh!" jawab Yumna sambil membuka sepatunya dan menyimpan tas di tempatnya.


"Eh, simpen tas dan sepatu elo yang bener dong! Jangan sembarangan simpen di lantai!" tunjuk Yumna pada sepatu Haidar yang tergeletak di lantai, dan tas kerja yang berada di atas ranjang.


"Iya... Bawel!" ucap Haidar kesal lalu mengambil sepatu dan tasnya lalu menyimpan pada tempatnya. Dia melirik Yumna dengan kesal, lalu menggantung tas kerjanya.


Yumna mendekat dan mengacak rambut Haidar. "Naah gitu dong, kan cakep!" Haidar terpaku dengan perlakuan Yumna. "Gue mandi duluan ya!" pamit Yumna meninggalkan Haidar yang masih terdiam disana. Haidar yang menatap Yumna yang melepas blazernya. Terlihat seksi!


Haidar masih terdiam. Dia menyentuh kepalanya yang baru saja di sentuh Yumna.


Deg. Deg.


Kenapa rasanya...


Haidar menggelengkan kepalanya dengan cepat, menepis bayangan Yumna yang tadi tersenyum padanya. Haidar berjalan ke arah ranjang dan menjatuhkan dirinya disana.


Kenapa rasanya lebih menyenangkan daripada di sentuh Vio.... Ah tidak. Gue udah gila!


Haidar berguling di atas ranjang, dia menenggelamkan wajahnya di atas bantal.


Mendekat ke arah Haidar yang sedang berbaring tertelungkup.


"Hei Haidar. Bangun. Gue udah selesai! Sana mandi!" ucap Yumna. Haidar mengangkat kepalanya, lalu kemudian bangkit dan pergi ke kamar mandi. Yumna menyimpan kembali bantal ke tempatnya.


Haidar selesai dengan mandinya dia melihat Yumna yang sudah cantik dengan dress warna biru muda setinggi lutut. Dia terpana apalagi melihat tambut Yumna yang setengah basah, Yumna terlihat semakin menawan. Seksi!


Yumna duduk di kursi riasnya, sedangkan Haidar menuju lemari untuk mengambil bajunya.


Haidar selesai memakai baju, dia melihat Yumna yang masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


"Masih lama gak sih?" tanya Haidar mulai kesal menunggu, dia sudah rapi dan sedang memakai sepatunya.


"Sebentar, rambut gue masih belum kering ini!" ucap Yumna. Haidar berdiri dan mendekat ke arah Yumna, merebut hairdryer dari tangan Yumna dan membantu mengeringkan rambut panjang istrinya. Yumna terdiam karena perlakuan Haidar yang tiba-tiba.


"Lama banget gitu aja!" ucap Haidar.


"Rambut panjang emang lama kali keringnya!" Yumna membela diri sambil mencebik kesal. Rasa kagumnya pada Haidar seketika hilang, berubah menjadi rasa yang menjengkelkan!


"Udah lah. Gak usah kering-kering banget. Udah keburu telat ini!" Haidar mematikan hairdryer dan menyimpannya di atas meja rias. Dia mengambil sisir dan merapikan rambut Yumna dengan asal.


"Tunggu gue belum pake bedak!" protes Yumna.


"Halaaah, lipstik aja. Pake bedak juga kalau jelek mah, jelek aja!" ucap Haidar sekenanya. Yumna menyikut perut Haidar hingga pria itu meringis kesakitan.


"Dasar keterlaluan! Elo itu cowok bukan sih?"


"Ya cowok lah. Elo meragukan gue?" tanya Haidar balik.


"Cowok tapi gak punya perasaan! Kalau elo ngerasa gue jelek. Sana! Ajak aja si Vio ke sana gak usah ajak gue!" Yumna berdiri dan duduk di tepi ranjang, melipat kedua tangannya di depan dada. Kesal!


"Yeee malah marah ni anak!" gumam Haidar, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia mendekat ke arah Yumna. "Gue kan cuma bercanda, Yumna! Masa gitu aja marah!" bujuk Haidar.


"Makanya kalau ngomong itu di saring!" bentak Yumna.


"Iya, sorry! Yuk berangkat!" ajak Haidar.


"Ogah, gue udah males!" jawab Yumna tak peduli.


Haidar duduk di belakang Yumna, dia mencolek bahu Yumna, Yumna menepis tangan Haidar dari sana.


"Apa sih?!" tanya Yumna geram.


"Hayu berangkat! Kalau enggak berangkat, nanti Agnes ngamuk loh sama gue. Dia kan ingin kenal sepupu barunya lebih jauh!" bujuk Haidar bak anak kecil dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Masa bodoh!" Ucap Yumna masih tak peduli.


Haidar menghela nafasnya lelah.


'Ni anak kalau udah ngambek, susah juga ya di bujuk!'


Haidar berdiri lalu mengangkat Yumna di dalam gendongannya membuat Yumna terpekik karena kaget.


"Eh ngapain lo! Turunin gue!" teriak Yumna. Dia menggerakkan tangan dan kakinya minta di lepaskan.


"Gak mau! Karena kita udah ganti baju sekarang kita harus berangkat!" ucap Haidar tak peduli. Dia membawa Yumna keluar dari kamarnya.


"Haidar, dompet gue ketinggalan!" seru Yumna.


"Kita mau makan gratis gak butuh dompet!" ucap Haidar cuek.


"Hp gue?!"


"Emang mau telfonan sama siapa?" tanya Haidar lagi.


"Haidar..."


"Udah diem! Elo bawel banget sih jadi cewek! Gak diem, gue cium lo!" ancam Haidar yang membuat Yumna terdiam menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Haidar tersenyum tipis, melihat Yumna yang terdiam di dalam dekapannya. Dia meneruskan langkahnya menuruni anak tangga. Yumna menatap Haidar yang tengah serius berjalan.


"Kalian mau kemana?" tanya Mitha yang akan pergi ke dapur, dia merasa heran melihat Haidar yang menggendong Yumna ala bridal.


"Ke rumah Agnes mi! Kita pergi dulu!" ucap Haidar lalu pergi meninggalkan sang mama.


"Mi. Kita pergi ya!" ucap Yumna yang merasa sangat malu terlihat seperti itu oleh sang mertua.


"Tapi, sayang. Haidar....tunggu...!" panggil Mitha, namun yang di panggil tidak berhenti maupun menoleh.


"Ya ampun anak itu! Yakin dia mau pergi seperti itu?" tanya Mitha pada dirinya sendiri.


Haidar membuka pintu mobil dan memasukkan Yumna ke dalam sana.


"Huhh elo berat juga!" ucap Haidar, dia mengelap keringat di keningnya, lalu mengambil seatbelt dan memasangkannya di depan tubuh Yumna.


"Siapa yang nyuruh elo gendong gue!" sarkas Yumna.


"Elo kalau gak di paksa emang mau ikut pergi?" tanya Haidar balik.


Yumna membuang mukanya ke arah lain, masih kesal dan juga ingin menenangkan detak jantungnya yang tak karuan.


Haidar masuk ke dalam mobil, duduk di belakang kemudi. Mobil pun pergi dari pelataran rumah besar keluarga Rahadian.


Yumna menunduk merasa ada yang aneh pada dirinya. Telapak kakinya terasa sangat dingin.


"Haidar, stop!" sontak Haidar menghentikan laju kendaraannya dengan tiba-tiba. Untung saja jalanan sepi.


"Woii... Kalau ngerem jangan mendadak dong! Bahaya!!" teriak satu pengendara motor yang baru saja melintas.


"Apa sih Yumna? Jangan bikin kaget dong!" ujar Haidar kesal.


"Gue baru inget. Nih!" ucap Yumna sambil mengangkat satu kakinya sedikit ke atas. Dia masih memakai sandal rumah. Haidar menepuk keningnya keras.


"Ya ampun! Kita mau pergi kenapa elo masih pakai sendal rumah?" Tanya Haidar.


"Itu kan gara-gara elo! Main gendong gue! Tadi kan gue mau bilang kalau gue belum pakai sepatu, elo nya yang main ngancem segala. Jadi gue juga lupa kan!" Yumna mengangkat sandal rumahnya dan melayangkannya ke lengan Haidar.


"Sakit tahu!" Haidar mengusap lengannya yang terasa perih.


"Yang sakit kan elo! Cari toko sepatu!" titah Yumna.


"Iya, bawel!" ujar Haidar lalu kembali menjalankan mobilnya.


Tak berapa lama mereka melihat sebuah toko sepatu. Haidar menepikan mobilnya di parkiran toko itu.


"Kalau ke mall gue yakin elo akan malu masuk kesana pake sendal rumah, jadi kesini aja ya!" ujar Haidar.


"Gue gak masalah. Yang penting gue beli sepatu. Emangnya pantes apa pake dress tapi pake sandal jepit?!" ujar Yumna masih kesal.


Mereka turun dan masuk ke dalam toko sepatu tersebut. Beberapa pegawai menatap heran pada Yumna, ada yang sebagian menahan senyumnya, merasa lucu melihat Yumna menggunakan dress dengan sandal jepit.


Satu pegawai mempersilahkan Yumna memilih sepatu. Haidar berjalan di belakang Yumna sambil sesekali melirik sepatu-sepatu tersebut. Haidar menatap sepatu flat berwarna hitam. Dia mengambil sepatu itu.


"Pakai ini!" Haidar memberikan sepatu itu pada Yumna. Yumna hanya melongo melihat sepatu di tangan Haidar.


Melihat Yumna yang hanya diam, Haidar berjongkok di depan Yumna dan melepas sandalnya. Dia mengangkat kaki Yumna dan memasangkan sepatu itu disana.


Deg.


Deg.


Deg.


Yumna meremas dadanya yang terasa sesak. Perlakuan Haidar membuat jantungnya terasa tidak sehat!


"Tolong ambil yang sebelah lagi, mbak!" pinta Haidar pada pegawai toko tersebut. Tak lama sebelah sepatu datang, Haidar kembali memasangkannya lagi di kaki Yumna yang lain. Dia mengambil tangan Yumna dan menyimpannya di bahunya, takut jika Yumna akan oleng dan terjatuh.

__ADS_1


'Haidar, kenapa aku malah takut dengan perlakuan kamu yang seeprti ini?' gumam Yumna dia tak henti menatap punggung Haidar.


__ADS_2