
"Di mana dia?" tanya Mitha dengan berteriak di seberang sana. "Kamu ini nggak ada kapok-kapoknya ya, urusin wanita ular itu. Kamu itu seharusnya sadar, dong. Yumna kurang baik apa mau terima kamu lagi, hah? Malah sekarang ini kamu cari-cari masalah lagi. Aduh, Haidar. Mami ... Mami udah nggak tau deh pikiran kamu itu kemana, pikiran kamu tuh terbuat dari apa sampai kamu nggak ada kapok juga dekat lagi dengan wanita itu?" ujar Mitha dengan sangat kesal. Tentu saja karena dia tahu dengan hati wanita yang pernah tersakiti seperti apa, meski dia tidak berkata sakit, tapi sebenarnya jauh tidak lebih baik dari orang yang menangis atau marah.
"Bukan dekat, Mi. Aku cuma bantu aja. Dia lagi kesusahan sekarang ini. Lagian, itu juga aku bantu bukan atas nama aku kok!"
"Tetap aja, Haidar! Apa itu masalah kamu?" ujar Mitha dengan sangat kesalnya. "Biarin aja dia mau kayak gimana juga. Semua yang dia dapatkan sekarang ini adalah karma. Karena dia tidak bisa menjaga kesempatan yang telah Tuhan berikan buat dia. Sekarang kalau sudah seperti ini gimana? Yumna marah, keluarganya juga pasti akan marah kalau tahu kamu seperti ini, Haidar!" teriak Mitha dengan kesal sehingga mengundang Arya yang ada di luar kamarnya mendengar dan masuk ke sana.
"Ada apa ini?" tanya Arya. Mitha sudah terlanjur kesal dan memberikan hp-nya pada sang suami.
"Bilangin tuh sama anak kamu yang keras kepala itu, jangan berani dekat lagi dengan si ular keket! Mami nggak mau ya sampai kehilangan menantu Mami untuk yang kedua kali."
Tanpa diperjelas panjang dan lebar pun, Arya sudah mengerti dengan apa yang istrinya katakan, apalagi memang dari dulu Mitha selalu menyebut Vio dengan sebutan ular keket, yang kerjanya hanya nempel dan menjadi benalu saja.
"Mami pusing. Mami mau makan aja!" ucapnya kemudian meninggalkan sang suami.
Arya menarik napasnya dan mengembuskannya dengan kasar. Entah apa yang ada di pikiran anaknya ini sekarang.
"Apa yang terjadi?" tanya Arya kepada sang putra, dia tidak paham jika tidak mendengar penjelasan secara langsung dari putranya itu. Haidar pun segera menceritakan apa yang terjadi kepadanya. Lagi-lagi Arya menghela napasnya dengan kasar sehingga terdengar jelas oleh sang anak.
"Tentu aja kamu salah. Semua apa pun yang berhubungan dengan kalian, baiknya bicarakan terlebih dahulu dengan pasangan masing-masing. Jangan mentang-mentang kamu punya uang sendiri lalu kamu gunakan uang itu untuk keperluan yang istrimu nggak tau, apa lagi ini soal wanita. Mantan pula! Tentu aja Yumna marah. Yumna memang nggak akan mempermasalahkan soal uang karena dia juga tentunya punya banyak uang, tapi di sini kejujuran yang utama, Haidar. Coba kalau dibalik posisi kamu dengan Yumna, hanya bertemu dengan mantan saja apa kamu suka dengan hal itu? Apa kamu suka kalau dia bertemu dengan orang lain atau mungkin orang yang hanya menghubunginya saja?" tanya Arya dengan geram.
__ADS_1
"Terus, aku harus gimana ini Pi?" tanya Haidar bingung.
"Tinggalkan wanita itu."
"Aku emang nggak deket kok."
"Nggak deket, terus apa pikiran istri kamu? Kamu emang nggak deket, tapi istri kamu, yang nggak tau suaminya sedang apa di luar, yang nggak tau apakah benar kerja atau enggak, yang nggak tau siapa aja yang dia hubungi atau siapa yang menghubunginya. Wanita selalu dengan pikiran penuh kecurigaan, meski dia hanya memendamnya di dalam hati. Kamu seharusnya bisa ngerti posisi kamu sebagai seorang suami, dan menjaga hati kamu untuk Yumna, menjaga perasaan ibu dari anak-anak kamu. Wanita itu nggak akan sejujur seperti laki-laki yang bisa gampang bicara. Bahkan nggak bicara aja mereka mempunyai insting yang sangat kuat," ucap Arya berbicara dengan panjang lebar, berusaha untuk menyadarkan anaknya, takut jika dia akan tersesat lagi.
Haidar kini terdiam, sadar dengan apa yang Arya katakan barusan. Iya, benar. Semua yang dikatakan oleh ayahnya adalah hal yang benar.
"Oke deh, Pi. Aku nggak akan pedulikan dia lagi."
"Aku harus gimana, ya?" gumam Haidar. Sudah dipanggil beberapa kali, tapi Yumna tidak menjawab juga. Dihubungi lewat telepon pun tidak juga diangkat, pesan apa lagi, belum berubah centang biru. Akhirnya Haidar kembali ke kamarnya untuk mengambil kantung tidur dan juga bantal.
"Oke, Sayangku. Kamu nggak mau keluar dan ketemu sama aku, kan? Aku akan menunggu. Di sini. Sampai kamu mau keluar," ucap Haidar, lalu menaikkan selimutnya hingga ke sebatas leher.
Hampir dua jam Haidar menunggu, dia juga sudah menghubungi Yumna kembali, tapi istrinya itu belum juga mau keluar dari kamarnya. Haidar masih menunggu sambil mengerjakan tugasnya di laptop, sesekali dia menghalau nyamuk yang mendekat dan berdengung di telinganya.
"Ya ampun! Sampai pagi di sini bisa kurus kering deh," ucap Haidar. Tangannya sudah banyak bentol karena ulah nyamuk yang meresahkan, tapi dia tidak mau menyerah dengan itu. Dia harus bisa mendapatkan maaf dari Yumna malam ini juga.
__ADS_1
"Yumna, kamu nggak mau keluar? Aku dimakan zombie ini," ucap Haidar sambil menggaruk tangannya yang tadi digigit nyamuk. Dia sudah tidak tahan lagi dengan rasa yang tak nyaman dari nyamuk itu, hingga akhirnya Haidar memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan memakai baju lengan panjang dan berkerah tinggi menutupi leher.
"Nggak apa-apa aku kepanasan juga, aku nggak mau pergi dari sana sebelum dapat maaf dari kamu," ucap Haidar sambil bercermin dan membenarkan pakaiannya itu.
Haidar kembali lagi ke lantai atas dan kembali berbaring di tempatnya tadi. Dia hendak melanjutkan lagi pekerjaannya yang tadi tertunda. "Eh?"
Laptopnya mati, padahal dia tadi ingat jika benda itu dia tinggalkan dalam keadaan yang masih menyala.
"Loh, kok mati?" tanya Haidar dengan bingung entah pada siapa. Dia mengira jika baterainya telah habis.
"Masa batre habis?" gumam Haidar tidak percaya, dia menekan tombol power, sehingga laptop tersebut kembali menyala. Akan tetapi, semua yang telah tadi dia kerjakan kini menghilang.
"Aah! Sial!" racaunya kesal sambil menarik rambutnya dengan frustrasi. Semua pekerjaan penting yang telah dia selesaikan hilang sudah.
...****************...
Mampir lagi sini, yuk. Ramaikan punya temen othor nih
__ADS_1