YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
12 ulat bulu dan anakonda


__ADS_3

Yumna sedang menikmati kesendiriannya di sebuah kafe, dia memesan minuman dan makanan untuknya.



Yumna merasa sebal, ini hari libur dan Lily terus saja berbicara soal pria yang akan di jodohkan. Dia baik, penurut, sayang dengan orangtua, yang pasti juga akan sayang pada istrinya kelak, dia orang yang sabar, dia...dia...dia...dan dia...


Huft. Yumna menghembuskan nafasnya dengan kasar. Entah sampai kapan sang mama akan terus menjodohkannya.


"Tentu saja sampai kamu bawa pacar kamu kesini. Mama sudah menunggu terlalu lama Yumna!!" Lily menggeram sambil menunjuk kening Yumna, saat ia menanyakan kapan sang mama akan berhenti menjodohkannya.


Lagi-lagi Yumna menghembuskan nafas lelah. Tidak mudah jika urusannya sedang berhubungan dengan ratu di rumahnya yang tak bisa di bantahkan.


Yumna ingin menelfon Tia, sedikit curhat biasanya akan membuat perasaannya lega, tapi Tia sedang berbulan madu ke Greenland, tidak mungkin Yumna akan mengganggu sahabatnya itu. Andai Yumna punya teman lain. Tapi sayangnya hanya Tia yang tulus berteman dengannya. Sejak SMP sampai SMA, mereka hanya ingin mendekati Yumna karena dirinya putri dari Bima Satria Mahendra.


Yumna jadi bingung sendiri, mengetuk-ngetukan hpnya ke keningnya sembari memejamkan mata. Mencoba berfikir siapa yang akan ia bagi cerita.


"Nenek!" seru Yumna, "kenapa baru ingat. Aahh cucu durhaka!" merutuki dirinya sendiri. Yumna mencari kontak sang nenek dan segera mendialnya. Yumna berharap nenek Ratih atau kakek Adi bisa membantunya keluar dari masalah perjodohan ini.


Beberapa saat Yumna menelfon.


Yumna menutup panggilannya dengan kesal.


"Percuma!" dengusnya. "Harusnya aku tahu nenek itu lebih tua daripada mama, dan mereka ingin cicit. Ooohhh hidupkuuu!!! Bagaimana ini!!" Yumna mengerucutkan bibirnya, dan menundukan kepala, mendaratkan keningnya beberapa kali ke atas meja. Lalu dua detik kemudian Yumna mengangkat kepalanya.


"Papi Adit!" Yumna berseru, girang sendiri.


Walaupun sedikit ragu karena papi Adit masih satu server dengan mamanya tapi siapa tahu kan papi Adit bisa membantu. Atau Yumna harus meminta mami Celia untuk membantu merayu papi Adit. Yumna menyeringai hingga terlihat giginya yang putih. Sambil mengangguk-anggukan kepalanya dia hendak mendial sebuah nomor.


"Siapa duluan ya. Papi Adit atau mami Celia?" Yumna bingung. "Tapi... kalau telfon papi Adit, papi bisa saja bilang ke papa atau mama, tapi kalau mami Celia, bisa juga bilang ke mama." Tidak ada yang lebih baik. Yumna mengurungkan niatnya. Senyumnya seketika menghilang.


"Bunda Nila..." akhh!!! Tidak ada yang benar! Apalagi bunda Nila.


"Bunda pasti akan sangat setuju." Yumna kembali frustasi. Mengingat bunda Nila sangat kompak dengan sang mama.


Yumna mengambil minumannya yang sudah dingin, dia meminumnya hingga setengah. Tidak ada jalan keluar yang bisa ia fikirkan lagi. Berkali-kali merayu sang mama dan papanya, nihil! Yang ada malah akan semakin parah dengan memajukan acara perjodohan itu. Bahkan Yumna sendiri tidak tahu siapa dia! Ughhhh menyebalkan!!


Yumna kembali meminum minumannya mungkin jika minuman itu habis otaknya akan jernih dan siapa tahu punya ide untuk keluar dari semua masalah ini. Makanan di depannya masih terlihat utuh tadi hanya di makan beberapa potongan kecil itupun Yumna merasa tidak berselera.


Yumna tersentak kaget saat seseorang tidak sengaja menyenggol lengannya dari belakang, hingga minuman yang hampir habis itu tumpah ke bajunya.


"Aaahhh." pekik Yumna kesal. Dia terdiam menatap bajunya yang kotor berubah warna. Mulutnya menganga tak percaya, bagaimana seseorang begitu ceroboh menabrak yang lain padahal keadaan kafe ini tidak terlalu ramai!


"Sorry mbak. Sorry!" suara seorang pria meminta maaf.


Yumna yang merasa kesal dia menyimpan kasar gelas di tangannya ke atas meja lalu berdiri. Dia hendak memarahi pria itu.


"Kam... Aakhhh!!!" pekik Yumna saat melihat seseorang yang di depannya. Yumna menatap kesal sambil menempatkan kedua tangannya di pinggang, dia menarik rahangnya ke kiri, menggigit bibir bawahnya dengan kesal. Apa dunia ini begitu sempit?!


"Yumna?" Haidar mengangkat kedua tangannya di depan tubuhnya. "Sorry Yumna, gak sengaja!" ucap Haidar lalu mengambil sapu tangan dari saku celananya yang robek-robek. Dia hendak mengelap sendiri baju Yumna.


"Mau apa?!" geram Yumna saat Haidar sudah mencondongkan tubuhnya.


"Bersihkan baju kamu lah!" ucap Haidar santai lalu kembali memajukan tangannya. Yumna merebut sapu tangan itu sebelum tangan Haidar menyentuh bajunya.


"Gak perlu, makasih!" ucap Yumna lalu membersihkan bajunya sendiri. Dia sudah mulai malas dan tidak ingin berdebat dengan Haidar.


"Dunia sempit ya!" ucap Haidar lalu duduk begitu saja di kursi di depan Yumna. Yumna mengangkat satu alisnya. Menatap heran pada pria yang kini duduk dengan santai disana, mengambil makanan Yumna dan melahapnya dengan santai pula.


Yumna menyimpan hpnya ke dalam tas, mengambil tisu yang selalu ia bawa di dalam tasnya, lalu dia pergi ke toilet guna membersihkan dirinya sendiri. Bajunya kotor karena minuman yang tumpah tadi.

__ADS_1


"Apa dunia ini sudah mulai menciut? Dari sekian banyak orang kenapa dia yang terus ketemu aku? Gak bisa gitu ketemunya sama Andrea Denver atau Sean O'Pry?" gerutu Yumna sepanjang membersihkan bajunya dengan air. Bajunya kini sudah bersih, hanya saja sekarang basah. Dingin. Tapi lebih baik daripada kotor!


Yumna kembali ke tempatnya, dia masih melihat Haidar disana memainkan hpnya dan terus mencomot makanan miliknya.


"Pasrah deh, meski di usir juga kayak laler, susah di usir." Batin Yumna. Yumna malas sebenarnya bertemu dengan Haidar, dia sedang pusing dan bertemu dengan Haidar akan menambah kadar pusingnya berkali-kali lipat.


Yumna kembali duduk di kursinya. Melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kenapa masih disini?" tanya Yumna, itu lebih halus bukan daripada Yumna harus bilang, kenapa tidak pergi?


"Gue jagain tas elo! Takut kalau ada yang ambil. Main tinggal saja ke toilet!" ucap Haidar santai lalu kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Gue lapar, boleh dimakan kan?" Yumna memutar bola mata malas menatap isi piringnya yang sudah hampir habis.


"Sudah hampir habis kenapa baru bilang?" cercanya, Haidar hanya meringis menampilkan senyum bagai anak tk yang ketahuan sedang berbuat salah.


"Hehe, nanti biar gue yang bayar makanan ini, lagian elo juga udah gak mau makan kan? Kalau pesan lama, gue lagi kelaparan banget. Minuman elo juga sudah habis duluan!" ucapnya.


"Ya memangnya kenapa, kalau gue habiskan minuman duluan dari pada makanannya? Terserah gue, dong!" ucap Yumna sengit.


"Biasa aja dong kalau ngomong! gak usah ngegas!" Haidar kembali memasukan makanan ke dalam mulutnya.


Yumna mendengus kesal. Entah kapan pria menyebalkan ini bisa bersikap sopan padanya. Yumna tidak biasa ber-elu gue, tapi gara-gara Haidar kini Yumna dengan lancar bicara dengan bahasa seperti itu, bahkan hanya melihat pria ini dirinya seperti tersengat lebah dan langsung terasa panas hingga ke otaknya!


"Elu yang bikin gue selalu ngegas!" ujar Yumna kesal. Haidar terkekeh.


"Gue bukan sprite atau coca cola!" sanggah Haidar mengambil makanan terakhirnya dan mengunyahnya dengan perlahan.


"Enak, kenyang gue!" Haidar menyandarkan dirinya ke kursi dan mengelus perutnya.


"Sayang gak ada minumannya!" celetuk Haidar, bahkan dia mengeluarkan gas dari mulutnya.


Yumna menendang kursi Haidar dari bawah meja. Haidar tersentak dan mengangkat wajahnya menatap Yumna.


"Apa?" Tanyanya santai. Yumna hanya terdiam kesal dengan bibir cemberut.


"Oh lupa gue. Berapa yang tadi? Lima puluh cukup gak?" tanya Haidar mengeluarkan uang selembar lima puluh ribuan dari dompetnya.


Yumna melongo. Minuman tadi saja sudah mendekati harga lima puluh ribu dan Haidar hanya membayar lima puluh ribu untuk makanan yang harganya lebih dari itu? Dia tidak habis fikir dengan Haidar, bukan merendahkan, tapi Haidar dengan kondisi dompet seperti itu berani masuk ke dalam kafe? Dan penampilan Haidar... Ya ampun!


"Di kira warteg apa?!" Yumna memijit pangkal hidungnya yang agak berdenyut. Haidar benar-benar membuatnya semakin pusing.


"Eh, kurang ya?" tanya Haidar dia kemudian membuka kembali dompetnya yang lusuh. Mengeluarkan uang dua puluh ribu lecek dan meletakannya di atas selembar lima puluh tadi.


"Masih kurang gak?" tanya Haidar, dia hendak mengeluarkan uang berwarna ungu tapi sebelum benar-benar di keluarkan ia kembali memasukannya. Yumna hanya melongo melihat tingkah Haidar yang menyebalkan itu. 'Sok-sok-an makan di kafe!' Batin Yumna seraya menggelengkan kepalanya.


"Buat ongkos." ujar Haidar sambil menyengir. Kali ini membuat Yumna menepuk jidatnya dengan keras dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ya udah, gue udah kenyang, kalau ada lebih ambil aja ya. Gak usah di kembalikan!" ucap Haidar pelan dengan senyuman, lalu bangkit berdiri. Yumna kembali di buat heran. Menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal sama sekali. Bagaimana dia bisa bertemu dengan orang aneh bin menyebalkan seperti Haidar?!


Belum usai Yumna berfikir takdirnya bertemu dengan Haidar, tiba-tiba Haidar kembali duduk disana, menutupi wajahnya dengan telapak tangan, membuat Yumna sedikit terkejut. Padahal ia yakin tadi Haidar sudah agak jauh dari tempatnya duduk.


"Eh kenap..."


"Sssttt." Haidar menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


"Jangan berisik!" peringatnya. Yumna menoleh ke kanan dan ke kiri heran dengan sikap Haidar, lalu sadar akan sesuatu.


'Pasti ada yang ngejar lagi!' batin Yumna sedikit mencibir. Entah kapan pria ini akan sadar jika terus berhubungan dengan rentenir hidupnya akan sengsara.

__ADS_1


'Eh tapi kan dia memang sudah sengsara!' batinnya lagi. 'Bisa-bisa dia di eksekusi atau parahnya di mutilasi seperti yang pernah ada di dalam berita, gara-gara gak bisa bayar hutang!' Yumna bergidik ngeri membayangkan tubuh Haidar yang terpotong-potong dan di buang di sembarang tempat terpisah.


"Eh, elo..."


"Ssstttt...!" Haidar menarik tangan Yumna hingga Yumna tersentak condong ke depan, kini wajah mereka berjarak tiga puluh senti meter.


"Jangan dulu ngomong. Diam!" bisik Haidar.


"Ada apa sih? Tapi gak ada yang kejar elo deh." Yumna ikut berbisik sambil menoleh ke segala arah yang ia bisa. Tidak ada orang yang mengejar Haidar.


"Bukan soal yang ngejar sekarang, tapi yang lain!" tetap berbisik.


"Apa?" Yumna mulai penasaran.


"Gue mau di kawinin!" sontak ucapan Haidar membuat Yumna terkejut.


"What?" pekik Yumna langsung menegakkan tubuhnya, refleks. Beberapa orang menatap heran pada Yumna. Haidar kembali menarik tangan Yumna membuat Yumna menunduk merendahkan dirinya seperti tadi.


"Ih diem dong, segitu gak relanya elo denger gue mau di kawinin?" tanya Haidar dengan senyum jahilnya, senyum super duper menyebalkan.


"Ih enggak lah ya?"


"Emang di kawinin sama siapa? Anak rentenir yang minjemin elo duit?" tebak Yumna asal, Haidar hanya tersenyum menyengir, membuat Yumna yakin memang seperti itu kejadiannya.


"Ya udah terima aja napa sih? Yang penting elo selamat gak sampai di mutilasi karena gak bisa bayar utang!" usul Yumna. Haidar hanya melotot sedikit terkejut dengan pemikiran Yumna. "Apa?! Itu lebih baik kan? Dari pada elo di mutilasi terus di sebar di jalanan mending elo di kawinin sama anaknya. Hutang lunas, elo juga bisa hidup enak!" tutur Yumna.


"Enak, aja!" dengus Haidar kesal. "Gue nggak mau ya punya bini yang body-nya terlalu over. Gila aja kalau jadi nikah sama dia, bisa mati kegencet gue!"


Yumna terkikik geli, membayangkan apa yang terjadi jika memang 'itu' terjadi. Lagi-lagi bergidik ngeri sedikit merasa panas juga karena selain membayang kan 'itu' umm... Saat malam pertama malah Haidar yang berada di bawah tubuh wanita berbadan over sama-sama polos, dan... Panas... Memikirkan masa depan Haidar membuatnya sedikit gerah.


"Iler lu tuh susut!" ejek Haidar. Yumna refleks menyusut sudut bibirnya yang tidak ada apa-apa.


"Enak aja, gue gak ngiler!" memukul lengan Haidar. 'Otak gue udah traveling aja!' batin Yumna kesal.


"Lagian elo bayangin apa coba, senyam senyum sendiri? Kayak orang depresi tau gak!" cerca Haidar. "Pasti lagi mikirin yang enggak-enggak ya soal gue?" tebaknya. Tiba-tiba Haidar menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. "Awas ya kalau elo mikir yang macem-macem." peringat Haidar pada Yumna.


"Cih, mikir apa? langsung gatel gue mikirin elo! Elo tuh kayak ulat bulu buat gue, kalau deket, bikin gue gatel." sarkas Yumna.


"Tapi ulat bulu ini juga bisa bikin elo ketagihan, malah bisa bikin elo minta di garukin. Ulatnya bisa berubah jadi anakonda lagi!" ucap Haidar kesal karena di samakan dengan ular bulu.


Yumna menjadi malu sendiri dengan perkataan ambigu Haidar.


"Elo ngomong apa sih. Jijik gue dengernya!" cubit Yumna pada lengan Haidar.


"Sakit neng, main cubit aja! Lagi elo juga nih bawa-bawa ulat bulu segala! Jadi gue juga bawa-bawa anakonda!" tidak mau mengalah.


Yumna menegakkan tubuhnya kembali, duduk bersandar di kursi. Punggungnya pegal karena terus menunduk sekian lamanya. Entah kenapa Yumna menurut begitu saja tadi saat Haidar menarik dirinya dan menunduk beberapa saat lamanya.


"Pegel punggung gue!" terang Yumna, tapi Haidar masih saja bertahan dengan posisinya. Yumna merasa lucu melihat wajah Haidar yang terlihat tidak seperti biasanya.


"Haidar?!"


*


*


*


Nah lo, Haidar, siapa dia?

__ADS_1


__ADS_2