
"Haidar, maafkan aku." Suara lembut yang keluar dari bibir ranum itu terdengar sangat menyejukkan telinga Haidar. Mungkin jika itu dulu Haidar akan mendekat dan memeluk wanita itu dengan erat lalu mencium bibirnya dengan lembut, tapi sekarang ini semua telah berbeda. Tidak ada sesuatu yang istimewa yang Haidar lihat dari seorang Viola. Hanya sesuatu yang menyesakkan yang membuat Haidar merasa menjadi laki-laki yang bodoh.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya viola kepada Haidar. Haidar tidak menjawab dia hanya diam sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Viola yang melihat hal itu merasa sedih di dalam hatinya. Pria yang dulu mencintainya kini ini acuh kepadanya.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Viola.
"Hem ...." Hanya Itu jawaban yang diberikan Haidar kepada viola. Viola segera duduk di ujung bangku, dia sadar diri dengan keengganan Haidar berdekatan dengannya.
"Haidar maafkan aku. Aku selama ini egois dan aku juga tidak menghargai kamu sebagai pasanganku," ucap Viola, Haidar hanya terdiam mendengar ucapan mantan pacarnya itu. Dia tidak ingin menyahut sama sekali, entah kenapa mulutnya enggan untuk berbicara atau hanya sekedar menjawab.
"Maaf aku telah menghianati kamu, tapi asal kamu tahu kamu adalah satu-satunya pria yang baik untuk aku. Aku sadar setelah kehilangan semuanya, kamu adalah pria yang selalu menjaga ku. Kamu satu-satunya pria yang tidak ingin menyentuhku, dan aku ... aku ... Aku menyesal dengan semua yang telah aku lakukan sama kamu Haidar." Viola menangis dengan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. Dia menangis terisak, ini bukan sekedar akting, tapi dia benar-benar menyesali apa yang telah terjadi. Haidar satu-satunya pria yang menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Bahkan, meski saat dia terpengaruh dengan minuman pun Haidar tidak pernah melakukan hal yang lebih kepadanya.
"Aku menyesal Haidar. Maafkan Aku." Viola menangis menyesali dirinya. Namun, sekarang semua percuma karena penyesalan memang tidak pernah datang sedari awal.
"Sudahlah, semua sudah berlalu. jangan lagi kamu sesali. Aku harap setelah ini kamu bisa introspeksi diri. Jadilah wanita baik-baik," ucap Haidar kini dia melirik ke arah viola.
Viola menangis sesegukan seperti anak kecil hingga bahunya naik turun. Melihat hal itu membuat Haidar merasa kasihan juga. Viola tidak pernah menangis seperti itu, dia sangat hapal sekali dengan sifat Viola.
"Maafkan aku Haidar, aku sangat merasa bersalah sama kamu. Aku gak tau lagi saat itu aku ... Aku... Ah.. huuu." Vio menangis kembali hingga air matanya mengalir di sela-sela jarinya.
Haidar menggeserkan tubuhnya lebih dekat kepada Vio. dia mengangkat tangan kanannya dan mengelus punggung viola.
__ADS_1
"Sudah jangan nangis. Baguslah kalau kamu sadar dan menyesal. Aku harap setelah ini kamu tidak akan kembali pada duniamu yang bebas itu. Maafkan aku Vi, aku pernah cinta sama kamu, Aku juga pernah sayang sama kamu, pernah bercita-cita ingin menikah dengan kamu, dan juga membayangkan hidup dengan anak-anak dari kamu, tapi semua itu kini aku tidak menginginkannya lagi," ucap Haidar dengan pelan.
Jika dulu dia tidak pernah bisa mengatakan hal ini, jika dulu ia selalu berpikir takut akan menyakiti hati Viola, tapi kali ini Haidar harus mengatakannya. Dia tidak mau Viola mengejar-ngejar dirinya lagi. Haidar akan lebih merasa kasihan kepada Vio jika dirinya memberikan harapan palsu kepada wanita itu.
"Aku tahu, aku memang tidak pantas untuk kamu maafkan. Aku sudah sangat jahat sama kamu Haidar. Maafkan aku selama ini aku sudah merepotkan kamu," ucap Viola kepada Haidar. Dia menurunkan telapak tangannya hingga kini yang terlihat hanyalah matanya yang sembab.
Haidar menangkap kalimat yang aneh pada pembicaraan ini. Seakan Vio akan pergi jauh.
"Kamu tenang aja, aku nggak akan ganggu kamu lagi."
"Apa kamu akan pergi jauh?" tanya Haidar kepada Viola. Vio menganggukan kepalanya.
Haidar tertegun mendengar penuturan Viola.
"Kemana kamu akan pergi dan dengan siapa?" tanya Haidar lagi.
Vio menatap ke arah Haidar dengan senyum tipis mengembang di bibirnya.
"Dia orang baik, kamu jangan khawatir." Vio masih tersenyum, Haidar menganggukkan kepalanya. dia pun sama tersenyum kepada Viola.
"Syukurlah, maafkan Aku. Dan terima kasih kamu sudah pernah menjadi wanita yang terbaik dalam hidupku. Aku akan selalu berdoa semoga kamu baik-baik saja di sana." Viola tersenyum senang mendengar doa yang yang diucapkan Haidar. Dia tidak menyangka pria yang telah dikhianati ini malah mendoakan yang terbaik untuknya.
__ADS_1
Suara dering telepon terdengar, Haidar segera mengeluarkan hp-nya dari dalam saku celana. panggilan masuk dari mami. Tidak sengaja tongkat yang ada di dekatnya tersenggol hingga terjatuh. Haidar urung mengangkat telepon itu, pastilah mami akan mengomel kepadanya karena dia kabur dari rumah.
"Aku akan pulang, mami menelepon." tunjuk Haidar pada HP nya. Haidar membungkuk untuk mengambil tongkat yang ada di tanah. melihat Haidar yang kesulitan Viola pun membantu mengambilkan tongkat milik Haidar.
"Terima kasih, Vi. Aku duluan ya." pamit Haidar, tapi belum juga dia melangkahkan kakinya Haidar kembali terduduk. Kakinya terasa sangat sakit hingga dia merintih kesakitan.
Viola yang melihat hal itu merasa khawatir dan segera menggeserkan duduknya nya kedekat Haidar.
"Ada apa sama kamu Haidar?" tanya Viola dengan khawatir.
"Kakiku sakit sekali," keluh Haidar sambil memijat kakinya yang sakit.
"Ada apa? Apa ada yang salah? Kita ke rumah sakit?" tanya Viola. Haidar menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu ini hanya sakit biasa, memang kadang terasa seperti ini." ucap Haidar menenangkan Viola.
"Tapi aku khawatir dengan keadaan kamu kita ke dokter aja ya? kamu juga belum sembuh bener kan?" tanya Viola lagi. Haidar ingin menolak, tapi kakinya semakin sakit dia hanya menganggukkan kepalanya nya mengikuti saran dari Viola untuk pergi ke rumah sakit.
Viola membantu Haidar berdiri dan memapahnya dengan pelan ke arah di mana mobil Haidar terparkir.
Dari kejauhan seseorang menatap kedua orang itu dengan hati yang terluka.
__ADS_1