
"Haidar?!" panggil seorang wanita. Haidar menegang saat seseorang memegang pundaknya.
Yumna tertegun melihat seorang wanita, mungkin seumuran mamanya. Cantik, dengan tubuh yang masih terjaga, tidak nampak kerutan di wajahnya. Tubuh langsing dengan kulit terawat baik. Rambut lembut bak model iklan sampo, kaki jenjang masih menggunakan heels yang lumayan tinggi, dan lagi, penampilan wanita di depannya seperti dia bukan wanita dari kalangan biasa.
"Haidar!" wanita itu menggeram dengan nada sedikit tinggi, tidak suka saat yang di panggil tidak juga merespon, sedikit meremmas pundak pria itu.
'Apa mungkin ini rentenir itu? Cantik.' Yumna terkagum-kagum melihat nya hingga dia merasa perih di mata karena tidak berkedip.
"Haidar Ezra Rahadian!" panggil wanita itu sedikit keras, kali ini Haidar menoleh dengan senyum meringis di wajahnya.
"Eh, nyonya!" cicit Haidar wajahnya sedikit aneh dan mendadak pucat.
'Apa dia akan di seret dan di nikahan sekarang? Tapi kalau Haidar menolak, dia bisa di mutilasi!' batin Yumna tidak tega, meski sifat Haidar menyebalkan tapi tidak di pungkiri kalau selama ini Haidar juga pernah membantunya beberapa kali saat Yumna dalam kesulitan.
Yumna merasa Haidar sedang dalam masalah. Ya memang sedari dulu begitu kan?
"Nyonya, maaf." Ucap Yumna membuat wanita itu melotot pada Yumna. Haidar hanya menggelengkan kepala, meminta Yumna untuk diam. Yumna berdiri dari duduknya. "Silahkan nyonya duduk." tawar Yumna. Nyonya hanya diam saja.
"Maaf nyonya, kalau ada masalah tolong di bicarakan baik-baik. Jangan anda memaksakan kehendak anda untuk menikahkan dia, dia tidak mau. Saya harap nyonya mengerti." ucap Yumna memelas membuat wanita yang di panggil nyonya itu menoleh heran bergantian pada Yumna dan Haidar. Haidar hanya menepuk keningnya dengan keras.
"Siapa dia?" tunjuknya pada Yumna menatap dengan tajam.
"Pacarku!" jawab Haidar cepat. Dia berdiri dan melangkah dengan cepat ke arah Yumna, memegang bahu Yumna dan menarik Yumna lebih dekat ke tubuhnya, hingga lengan Yumna menempel pada dadanya yang bidang dan hangat. Perasaan Yumna mulai tidak karuan sekarang.
"Pacar?" tanya nyonya itu seraya mengernyitkan dahinya. Nadanya seperti tidak suka.
"Iya. Pacar. Iya kan, sayang?" Haidar menoleh pada Yumna dengan seringaian di bibirnya. Yumna terlalu shock mendengar kata pacar dari Haidar. Padahal sebelum ini malah Haidar menyebut dirinya tunangan kan? Tapi entah kenapa kali ini Yumna malah di buat seperti patung.
Haidar yang tidak mendapati respon dari Yumna mer*mas bahu Yumna sedikit keras, mengembalikan kesadaran gadis itu.
"Pacar!" Haidar menepuk bahu Yumna sedikit keras.
"I-iya nyonya. Saya...pa-car Haidar." Yumna menyingkirkan tangan Haidar dari pundaknya. "...kami sudah lama menjalin hubungan jadi tidak mungkin kan anda tega menikahkan Haidar dengan yang lain?" tukas Yumna.
Nyonya itu malah tertawa sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Pacar?" menatap dari atas ke bawah dan sebaliknya. Haidar kembali merangkul pundak Yumna.
"Iya memangnya kenapa? Apa saya tidak pantas dengan dia? Meskipun saya dan dia tidak punya apa-apa tapi nyonya tidak bisa seenaknya memisahkan kami." Yumna memberanikan diri.
"Kami saling mencintai!" tambah Haidar cepat. Lagi-lagi membuat Yumna terkejut dan juga nyonya itu.
Wanita itu tertegun seperti memikirkan perkataan Haidar barusan, membuat Yumna harap-harap cemas. Di satu sisi dia ingin melepaskan diri dari rangkulan tangan Haidar yang sukses membuat dirinya sport jantung, di sisi lain seidkit takut juga kalau Haidar tidak tertolong, padahal malam itu Haidar sudah banyak menolongnya. Biarlah hari ini sedikit kebohongan untuk menyelamatkan nyawa seseorang.
Nyonya itu tertawa angkuh membuat Yumna sedikit tidak suka.
"Nyonya..." Yumna ingin bicara.
"Yumna?!" seruan suara seseorang membuat Yumna menolehkan kepalanya, sedikit terkejut melihat wanita yang mendekat ke arahnya. "Kamu sedang apa disini?"
"Mama?" lirih Yumna lalu sadar jika tatapan Lily tertuju pada pundaknya. Yumna segera menepis tangan Haidar dari pundaknya hingga tangan Haidar terjatuh ke bawah.
"Kamu kenal dia Ly?" tanya nyonya itu menunjuk ke arah Yumna.
"Dia putriku, mbak!" ucap Lily. "Maaf, tadi aku kelamaan di toilet. Ngantri!"
Yumna dan Haidar saling pandang, pasalnya mereka tidak menyangka kalau keduanya saling kenal.
'Mama bisa kenal sama rentenir, kok bisa? Apa mama tidak tahu kalau dia rentenir? Secara mama tidak suka dengan yang seperti itu!' batin Yumna heran.
"Yumna, kamu ngapain disini?" tanya Lily menatap heran pada Yumna.
__ADS_1
Nyonya itu lalu terkekeh dengan tangan menutupi mulutnya, wajah garangnya berubah seratus delapan puluh derajat dari yang tadi. Dia terlihat seperti sedang bahagia.
"Lily sepertinya kita akan berbesan!" nyonya menepuk lengan Lily dengan sedikit keras.
"Ha?" Lily menatap Yumna, Haidar, dan Nyonya bergantian. "Benarkah?" memekik senang tidak percaya.
"Benar Yumna?" tanya Lily tidak percaya.
"Eh?" gantian Yumna yang bingung.
"Kita akan berbesan Lily!!" pekik nyonya sedikit berjingkrak, tidak peduli dimana mereka berada yang sudah menjadi pusat perhatian pengunjung kafe.
Yumna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menoleh pada Haidar yang juga sedang menggaruk kepalanya, meminta sebuah penjelasan. Haidar tanya mengangkat kedua pundaknya, dia juga tidak mengerti. Tapi kata-kata 'berbesan' tentu ia faham sekali.
"Ayo duduk, duduk!" nyonya menarik tangan Lily, dan Yumna bersamaan meminta mereka duduk. Lily duduk di samping nyonya dengan wajah yang sama-sama berbinar senang, Haidar pun ikut duduk tanpa diminta dan di paksa.
"Gawat! Kenapa jadi seperti ini?" batin Haidar. Harusnya tadi dia melarikan diri saja. Kenapa malah balik lagi ke meja Yumna? Kalau saja Haidar tadi kabur tentu urusannya tidak akan jadi rumit seperti ini. Haidar menarik-narik rambutnya sendiri.
"Sejak kapan kalian pacaran? Betul kalian ini pacaran?" Lily memulai introgasi pada putrinya dengan wajah senang luar biasa, tubuhnya condong ke depan, menilik dan memindai tepat ke bola mata putrinya. Menunggu jawaban dengan tidak sabar.
"Sudah lama katanya, Ly. Pantas saja Haidar menolak di jodohkan. Orang pacarnya cantik gini!" nyonya yang menjawab dengan antusias. Yumna hanya melirik kesal pada Haidar yang duduk di sampingnya, merasa menyesal membantu Haidar tadi. Sedangkan Haidar tersenyum dengan cengiran khas menyebalkan, seakan meminta maaf atas semua yang terjadi lewat senyumannya itu. Sekarang dia mulai mengerti situasi ini.
"Sejak kapan? mama penasaran!" tanya Lily ingin tahu cerita dari putrinya.
"Mami juga!" ucap nyonya itu.
"Mami?" cicit Yumna.
"Oh iya." Mengulurkan tangan. "Saya maminya Haidar!" Yumna menyambut tangan itu dengan canggung. Dia kesal karena Haidar telah mempermainkannya.
Yumna memindai mami Haidar, nyatanya maminya itu bukan wanita sembarangan, dari kalung dan anting yang di pakainya, Yumna yakin itu bukan barang imitasi, tas, baju, bukan barang kw yang di jual di pasaran dengan murah.
"Cepat ceritakan sejak kapan kalian pacaran, sampai kamu terus-terusan kabur dari mami?" tanya nyonya dengan antusias. Nyonya dan Lily sama-sama penasarannya membuat Yumna bingung untuk menjawab.
"Selama itu dan kamu tidak cerita sama mami?" Nyonya mengangkat tas nya dan ia daratkan di kepala Haidar tiga kali. Haidar menghalangi kepalanya dengan tangan hingga tas itu tidak bisa menjangkau wajahnya.
"Ampun mi, jangan disini dong mi malu, banyak orang!" cicit Haidar memohon.
'Ya ampun, gue di kelilingi para penindas. Hidup gue...' batin Haidar sedih.
"Rasakan! Mami sudah geram sama kamu dari dulu selalu menghindar saat acara perjodohan kamu, jadi ini alasannya?" nyonya sedikit kesal. Haidar hanya tersenyum lebar setelah nyonya menarik tas nya lagi.
"Kamu juga Yumna! Jadi ini alasannya tidak mau di jodohkan? Kenapa tidak di bawa ke rumah, jadi mama tidak perlu capek-capek jodohin kamu!" cerca Lily.
"Lagi pula, siapa juga yang minta di jodohin?" ucap Yumna kesal.
"Jadi yang mau di jodohin sama Yumna itu, bukan dia?" tanya Yumna sambil menunjuk Haidar di sampingnya.
"Bukan!" kompak tiga orang yang lain menjawab.
"Kamu ingat Putra Suseno? Anaknya Pak Hari Suseno dari grup Suseno itu? Mereka minta kamu untuk anaknya."
"Ha? Enggak-enggak. Yumna gak mau!" jawab Yumna. 'Enak saja mama mau jodohkan aku dengan si mesum! Kalau saja mama tahu apa yang sudah dia lakukan padaku waktu itu, perusahaannya pasti terbalik saat itu juga!' batin Yumna mengingat sosok yang pernah berbisik padanya untuk bermalam di hotel. Yumna bergidik ngeri.
"Ya mama sih gak maksa, kalau kamu ternyata sudah punya pacar." ucap Lily dengan senyuman. "Lagipula mama suka, dia lebih ganteng daripada si Putra." Lily tersenyum sedangkan Haidar merasa bangga dirinya di sebut ganteng, membuat Yumna yang mendengarnya memasang muka ingin muntah.
'Lebih baik iya-in aja deh daripada aku bilang bukan pacar trus di jodohin sama si Putra!'
Yumna hanya tersenyum.
"Jadi Haidar gak akan di jodohin sama si Lala kan mi?" tanya Haidar yang baru saja dapat kesempatan bicara.
__ADS_1
"Ya kalau dengan Yumna mami setuju. Lagipula mami juga sudah kenal dengan Lily sedari dulu." Nyonya tersenyum senang pada Lily, keduanya saling melempar senyum.
"Tapi apa Lily mengizinkan anak kurang ajar ini tetap sama Yumna. Dia itu sangat bandel Ly!" bertanya pada Lily. Haidar mendengus kesal di sebut anak kurang ajar.
"Kalau aku sih terserah Yumna mbak, seperti yang aku bilang waktu itu kalau anakku tidak bawa calon juga mau aku jodohkan, gak tahunya ternyata sama anak mbak Mitha. Aku seneng deh mbak! Kita akan berbesan...!! seru Lily. Kedua wanita itu saling berpelukan.
Haidar dan Yumna hanya melihat interaksi kedua orangtua mereka dengan diam, mereka saling menatap kesal satu sama lain. Yumna semakin kuat menginjakkan kakinya di atas kaki Haidar.
"Jadi kalau kami datang untuk melamar Yumna kamu siap kapan, Ly?!" tanya mami Mitha.
"Kapan pun mbak Mitha dan mas Arya siap. Aku juga akan siap menyambut kalian!" jawab Lily senang.
"Kalau begitu, aku mau pulang, aku mau ketemu mas Arya sekarang buat kasih tahu kabar bahagia ini." Mami Mitha berdiri sambil membawa tasnya.
"Aku juga mbak, aku harus kasih tahu mas Bima, dan aku juga harus telfon mama dan papa di Singapura untuk kasih tahu mereka." Lily juga ikut berdiri. Mereka pergi meninggalkan Yumna dan Haidar berdua disana sedang terbengong dengan kejadian tak terduga ini.
"Haidaaaar!" geram Yumna menatap Haidar yang masih menatap kepergian dua wanita tadi.
Yumna kesal karena Haidar tidak merespon. Dia mencubit paha Haidar cukup keras hingga Haidar memekik mengaduh.
"Aahh... awww... sakit!" Haidar mengusap pahanya yang terasa linu.
"Elo bohong sama gue?!" tanya Yumna. Haidar hanya menyengir ria dengan senyum selebar mungkin hingga matanya menyipit.
"Bohong yang mana? Kalau soal di jodohin bener kok gue gak bohong emang size body nya gede!" ucap Haidar.
"Bukan itu!" seru Yumna. "Selama ini elo bilang punya hutang sama rentenir itu bohong? Elo main kabur sewaktu masih di Singapura karena elo gak mau di jodohin sama pilihan mami elo?!"
"Hehe, peace Yum. Peace!" Haidar mengangkat kedua jari tangannya berbentuk V. Yumna mengangkat kakinya dari atas sepatu Haidar tapi dia kembali menjatuhkan kaki itu dengan tumitnya keras.
"Ahhh. Sakit, Yumna! Gila! Hari ini gue banyak di aniaya, gak sama nyokap sendiri, sekarang sama elo!" Haidar mengusap kakinya yang sakit.
"Bodo! Rasain lo!" ucap Yumna kesal lalu dia mengambil tasnya dan berdiri.
"Eh elo mau kemana?" Haidar menahan tangan Yumna dan menariknya lagi hingga Yumna kembali duduk.
"Gue mau pulang. Apa sih?!"
"Soal yang tadi...emm gimana ya?!" Haidar merasa bingung apalagi mendengar maminya tadi sudah siap, bisa jadi kapanpun mereka bisa saja datang ke rumah Yumna.
"Bodo! Pokoknya elo pikirin gimana keluar dari masalah ini! Gara-gara elo mama gue jadi mikir kalau kita pacaran. Gimana coba ini?!" tanya Yumna kesal.
"Ya gue juga gak nyangka kalau mami ternyata kenal sama mama elo, keduanya ada disini lagi!" ucap Haidar merasa tidak enak. Dia sungguh tidak menyangka maminya ada disini.
"Pokoknya elo bilang sama mami elo, kita putus dan gak usah datang ke rumah, TITIK!"
"Eh gapi kan emang kita gak pacaran. Mau gimana bisa putus?" tanya Haidar.
"Mami elo kan tahunya kita pacaran tadi, elo sendiri yang bilang!"
'Dia bodoh atau pikun sih?' batin Yumna.
"Tapi gue gak bisa, gue gak mau di jodohin sama pilihan mami gue!" Tetap menahan Yumna yang ingin pergi.
"Itu urusan elo!"
"Emang elo mau gitu di jodohin tuh sama tadi, siapa... Seno-Seno itu?" tanya Haidar. Yumna terdiam dia menarik tangannya hingga terlepas dari cekalan tangan Haidar.
"Ya enggak, tapi bukan berarti gue juga mau nikah sama elo! Elo bukan tipe gue! Inget, Elo pastiin mami elo gak dateng ke rumah gue, dan gue akan pastiin gue gak akan terima tamu dari keluarga elo!" ucap Yumna lalu dia pergi meninggalkan Haidar sendirian.
"yah. yah...Bukan tipe dia katanya. Gue kurang apa coba? Gue ganteng gini, senyum iklan pasta gigi, rambut lembut iklan sampo. Cuma dia yang bilang gue bukan tipe dia!" Haidar menatap punggung Yumna yang keluar dari kafe itu.
__ADS_1
"Gimana gue harus bilang sama mami?" dia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.